Ketoprak
Ketoprak adalah satu dari puluhan kesenian
tradisional yang masih dapat bertahan hingga sekarang. Semula ketoprak
merupakan hiburan rakyat yang diciptakan oleh seseorang di luar kerajaan.
Mereka menyiapkan panggung dan berlagak menjadi raja, pejuang, pangeran, putri,
dan siapa pun yang mereka inginkan. Pada perkembangannya, hiburan ketoprak juga
diminati oleh anggota kerajaan. Dan di setiap penampilannya selalu ada pelawak
yang membuat ketoprak terasa semakin hidup.
Kesenian ini dilahirkan oleh kaum tani. Konon,
kesenian ini bermula dari para petani yang sedang menumbuk padi sambil
bernyanyi. Kejadian itu disaksikan oleh seorang bangsawan bernama RM Tumenggung
Reksodiningrat. Ia membawa ‘kebiasaan’ kaum tani ini ke istana.
Sebagai kesenian yang lahir dari
rahim rakyat, ketoprak senantiasa tampil sebagai juru bicara berbagai persoalan
rakyat. Ketoprak tak pernah jauh dari realitas sosial massa-rakyat.
Pada mulanya, ketoprak mengangkat kisah-kisah
seputar kehidupan petani. Peralatannya pun sederhana: lesung, terbang, dan
suling. Gara-gara dibawa ke istana, ketoprak pun sempat menjadi “hiburan
bangsawan”.
Namun, seiring waktu, rakyat berhasil merebut
kembali ketoprak sebagai kesenian rakyat. Sejak itu ketoprak makin hidup dan
berkembang. Ketoprak tak hanya mengangkat cerita-cerita panji, tetapi juga
kisah-kisah kepahlawanan rakyat. Kesenian ini terus menyebar ke berbagai kota
di Jawa.
Cerita yang dibawakan merupakan cerita
sehari-hari dengan permasalahan yang sehari-hari dialami masyarakat. Para
pemainnya pun tidak memerlukan persyaratan khusus. Mereka hanya diberi tahu
garis besar cerita, tanpa naskah. Karenanya, kemampuan berimprovisasi merupakan hal
penting yang harus dimiliki seorang pemain ketoprak.
Kesenian yang dalam penyajian atau
pementasannya menggunakan bahasa Jawa ini memiliki cerita yang beragam dan
menarik. Mirip dengan teater, pertunjukan ini diisi dengan dialog-dialog yang
membawa penonton merasakan atmosfir “dunia” Jawa pada masa Raja-Raja berkuasa.
Nama “ketoprak” terkait dengan alat musik
kentongan yang digunakan untuk mengumpulkan penonton sebelum pertunjukan
dimulai. Dalam bahasa Jawa, memukul kentongan disebut “keprak” dan pertunjukan
yang dilakukan setelah kentongan di-keprak disebut “ketoprak”.
Pertunjukan ketoprak akan diiringi kelompok
musik gamelan. Dalam kelompok musik ini juga terdapat sinden, meski begitu
pemain di panggung juga bernyanyi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
Kethoprak adalah seni pertunjukan teater atau drama yang sederhana yang
meliputi unsur tradisi jawa, baik struktur lakon, dialog, busana rias, maupun
bunyi-bunyian musik tradisional yang dipertunjukan oleh rakyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar