Minggu, 04 Januari 2015

Kesenian Ketoprak



Ketoprak

Ketoprak adalah satu dari puluhan kesenian tradisional yang masih dapat bertahan hingga sekarang. Semula ketoprak merupakan hiburan rakyat yang diciptakan oleh seseorang di luar kerajaan. Mereka menyiapkan panggung dan berlagak menjadi raja, pejuang, pangeran, putri, dan siapa pun yang mereka inginkan. Pada perkembangannya, hiburan ketoprak juga diminati oleh anggota kerajaan. Dan di setiap penampilannya selalu ada pelawak yang membuat ketoprak terasa semakin hidup.
Kesenian ini dilahirkan oleh kaum tani. Konon, kesenian ini bermula dari para petani yang sedang menumbuk padi sambil bernyanyi. Kejadian itu disaksikan oleh seorang bangsawan bernama RM Tumenggung Reksodiningrat. Ia membawa ‘kebiasaan’ kaum tani ini ke istana.
Sebagai kesenian yang lahir dari rahim rakyat, ketoprak senantiasa tampil sebagai juru bicara berbagai persoalan rakyat. Ketoprak tak pernah jauh dari realitas sosial massa-rakyat.
Pada mulanya, ketoprak mengangkat kisah-kisah seputar kehidupan petani. Peralatannya pun sederhana: lesung, terbang, dan suling. Gara-gara dibawa ke istana, ketoprak pun sempat menjadi “hiburan bangsawan”.
Namun, seiring waktu, rakyat berhasil merebut kembali ketoprak sebagai kesenian rakyat. Sejak itu ketoprak makin hidup dan berkembang. Ketoprak tak hanya mengangkat cerita-cerita panji, tetapi juga kisah-kisah kepahlawanan rakyat. Kesenian ini terus menyebar ke berbagai kota di Jawa.
Cerita yang dibawakan merupakan cerita sehari-hari dengan permasalahan yang sehari-hari dialami masyarakat. Para pemainnya pun tidak memerlukan persyaratan khusus. Mereka hanya diberi tahu garis besar cerita, tanpa naskah. Karenanya, kemampuan berimprovisasi merupakan hal penting yang harus dimiliki seorang pemain ketoprak.
Kesenian yang dalam penyajian atau pementasannya menggunakan bahasa Jawa ini memiliki cerita yang beragam dan menarik. Mirip dengan teater, pertunjukan ini diisi dengan dialog-dialog yang membawa penonton merasakan atmosfir “dunia” Jawa pada masa Raja-Raja berkuasa.
Nama “ketoprak” terkait dengan alat musik kentongan yang digunakan untuk mengumpulkan penonton sebelum pertunjukan dimulai. Dalam bahasa Jawa, memukul kentongan disebut “keprak” dan pertunjukan yang dilakukan setelah kentongan di-keprak disebut “ketoprak”.
Pertunjukan ketoprak akan diiringi kelompok musik gamelan. Dalam kelompok musik ini juga terdapat sinden, meski begitu pemain di panggung juga bernyanyi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kethoprak adalah seni pertunjukan teater atau drama yang sederhana yang meliputi unsur tradisi jawa, baik struktur lakon, dialog, busana rias, maupun bunyi-bunyian musik tradisional yang dipertunjukan oleh rakyat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar