
BUDAYA JAWA
ANALISIS KEBUDAYAAN MATERIAL DARI 7 UNSUR KEBUDAYAAN
Disusun Oleh :
Hala Nur Soliha 2601413006
PBSJ 2013
Rombel 01
FAKULTAS BAHASA DAN
SENI
UNIVERSITAS NEGERI
SEMARANG
2014
KEBUDAYAAN MATERIAL DARI 7 UNSUR KEBUDAYAAN
1. Sistem Religi dan Upacara
Keagamaan
Berzanji
Berzanji atau Barzanji ialah suatu doa-doa,
puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada yang biasa dilantunkan ketika kelahiran, khitanan, pernikahan dan maulid Nabi Muhammad saw. Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan
Muhammad, yang disebutkan berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa
kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Di dalamnya juga
mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai
peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.
Pengertian Berzanji ialah sebuah kitab kumpulan
sajak karya penyair Abu Jaafar Al Barzanji yang dilahirkan dari negeri Barzanj. Karya
beliau menjadi terkenal apabila ia telah dinobatkan sebagai pemenang dalam
penulisan sajak-sajak pujian kepada Rasulullah S.A.W dan sejak daripada itu
karya tersebut sering dideklemasikan oleh masyarakat Islam di seluruh dunia (http://emjayjb.multiply.com/journal/item/17).
Al Barzanji erat kaitannya dengan Perayaan
Maulid yang ada pada masyarakat pada umumnya. Perayaan Maulid pada mulanya
dirintis oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Yang sebenarnya Maulid tersebut berperan
menghidupkan kembali Maulid yang pernah ada pada masa Dinasti Fatimiyah.
Tujuannya, membangkitkan semangat jihad (perjuangan) dan ittihad (persatuan)
tentara Islam melawan crusaders (Pasukan Salib) yang saat itu memang memerlukan
keteguhan dan keteladanan. Dari itulah muncul anggapan, Shalahuddin adalah
penggagas dan peletak dasar peringatan Maulid Nabi.
Berzanji
tidak hanya dilakukan pada peringatan Maulid Nabi, namun kerap diselenggarakan
pula pada tiap malam Jumat, pada upacara kelahiran, akikah dan potong rambut,
pernikahan, syukuran, dan upacara lainnya. Bahkan, pada sebagian besar
pesantren, Berjanjen telah menjadi kurikulum wajib.
Al Barjanji
sendiri merupakan karya tulis berupa puisi yang terbagai atas 2 bagian yaitu
Natsar dan Nazhom. Bagian natsar mencakup 19 sub-bagian yang memuat 355 untaian
syair, dengan mengolah bunyi ah pada tiap-tiap rima akhir. Keseluruhnya
merunutkan kisah Nabi Muhammad SAW, mulai saat-saat menjelang Nabi dilahirkan
hingga masa-masa tatkala beliau mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian Nazhom
terdiri dari 16 subbagian berisi 205 untaian syair penghormatan, puji-pujian
akan keteladanan ahlaq mulia Nabi SAW, dengan olahan rima akhir berbunyi nun.
Secara
umum kandungan kitab Barzanji terbagi menjadi tiga:
1. Cerita tentang perjalanan hidup Nabi shallallahu’alaihi
wa sallam dengan sastra bahasa yang tinggi yang terkadang tercemar dengan
riwayat-riwayat lemah.
2. Syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi
shallallahu’alaihi wa sallam dengan bahasa yang sangat indah, namun telah
tercemar dengan muatan dan sikap ghuluw (berlebihan)
3. Sholawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa
sallam, tetapi telah bercampur aduk dengan sholawat bid’ah dan
sholawat-sholawat yang tidak berasal dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa
sallam.
Ananlisis
1.
Bentuk
Berzanji ialah sebuah kitab kumpulan sajak karya
penyair Abu Jaafar Al Barzanji, kitab Berzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, yang disebutkan
berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda,
hingga diangkat menjadi rasul. Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia
yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan
umat manusia.
Al Barjanji sendiri merupakan karya tulis
berupa puisi yang terbagai atas 2 bagian yaitu Natsar dan Nazhom. Bagian natsar mencakup 19 sub-bagian yang
memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi ah pada tiap-tiap rima akhir.
Keseluruhnya merunutkan kisah Nabi Muhammad SAW, mulai saat-saat menjelang Nabi
dilahirkan hingga masa-masa tatkala beliau mendapat tugas kenabian. Sementara,
bagian Nazhom terdiri dari 16 subbagian berisi 205 untaian syair penghormatan,
puji-pujian akan keteladanan ahlaq mulia Nabi SAW, dengan olahan rima akhir
berbunyi nun.
2. Fungsi
Berzanji dibacakan dalam perayaan Maulid yang
ada pada masyarakat pada umumnya. Namun Berzanji tidak hanya dilakukan pada
peringatan Maulid Nabi saja, melainkan kerap diselenggarakan pula pada tiap
malam Jumat, pada upacara kelahiran, akikah dan potong rambut, pernikahan,
syukuran, dan upacara lainnya.
3. Makna
Berzanji
atau Barzanji ialah suatu doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad
saw yang
dilafalkan dengan suatu irama atau nada. Yang didalam kitab Berzanji tersebut
menceritakan tentang perjalanan hidup Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,
terdapat pula syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi shallallahu’alaihi
wa sallam, sholawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tetapi telah
bercampur aduk dengan sholawat bid’ah dan sholawat-sholawat yang tidak berasal
dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
Jadi
makna dalam Berzanji tersebut adalah agar selalu mengingat sejarah perjalanan
hidup Nabi Muhammad saw, menjunjung dan memuliakan Nabi Muhammad saw.
2. Sistem
Organisasi Kemasyarakatan
Paguyuban ATBM
(Alat Tenun Bukan Mesin)
Kota Pekalongan identik dengan batik, yang
mempunyai produk unggulan berupa kain tenun yang dibuat secara tradisional
menggunakan alat ATBM. Dari mata pencaharin sebagai perajin yang menggunakan
alat APBM maka berdirilah paguyuban ATBM.
Paguyuban ATBM adalah perkumpulan dari
orang-orang yang mempunyai mata pencaharian sebagai pengrajin tenun dengan
menggunakan alat tenun bukan mesin yang ada didaerah pusat kerajinan ATBM. Dalam paguyuban tersebut terdapat ketua
yang memimpin perkumpulan dalam paguyuban ATBM.
Kebanyakan para perajin ATBM tersebut adalah
perajin turun temurun sejak kakek dan nenek mereka, sejalan dengan masa
kejayaan tenun.
Dalam paguyuban ATBM para ketua berkumpul
untuk membahas peluang-peluang yang dapat dicapai, dapat pula membahas tentang
penambahan alat-alat tenun yang akan
digunakan untuk menambah produksi. Bahkan dalam paguyuban tersebut membahas
tentang masalah-masalah yang sedang dihadapi dan bagaimana untuk menemukan
solusi dari masalah tersebut.
Contoh masalah yang dihadapi adalah kekurangan
tenaga kerja sehingga mengakibatkan para pengrajin hars membatasi jumlah
pesanan kerajinan tenun tersebut pada konsumen sebagai upaya menghindari
kekecewaan terhadap para konsumen. Bahkan ada sebagian pusat kerajinan ATBM
yang berhenti berproduksi karena kekurangan tenaga kerja dan membiarkan sarana
ATBM tersebut mangkrak.
Masalah yang dibahaspun ada yang berupa
bagaimana cara membuang maupun memanfaatkan limbah produksi secara bersama-sama
baik untuk pewarnaan maupun pemutihan. Sehingga mampu mengurangi biaya
pengeluaran karena dapat dimanfaatkan secara bersama-sama.
Pemecahan masalah dalam pemasaran hasil
kerajinanpun dapat didiskusikan dalam paguyuban ini sehingga secara
bersama-sama dapat dicari solusi yang dapat diambil.
Analisis
1.
Bentuk
Paguyuban ATBM adalah perkumpulan dari
orang-orang yang mempunyai mata pencaharian sebagai pengrajin tenun dengan
menggunakan alat tenun bukan mesin yang ada didaerah pusat kerajinan ATBM. Dalam paguyuban tersebut terdapat ketua
yang memimpin perkumpulan dalam paguyuban ATBM.
Kebanyakan para perajin ATBM tersebut adalah
perajin turun temurun sejak kakek dan nenek mereka, sejalan dengan masa
kejayaan tenun.
2.
Fungsi
Berkumpul untuk membahas peluang-peluang yang
dapat dicapai, dapat pula membahas tentang penambahan alat-alat tenun yang akan digunakan untuk
menambah produksi. Bahkan dalam paguyuban tersebut membahas tentang
masalah-masalah yang sedang dihadapi dan bagaimana untuk menemukan solusi dari
masalah tersebut.
3.
Makna
Paguyuban ATBM sebagai pemecah masalah yang
dialami dalam pembuatan kerajinan
sehingga dapat didiskusikan dalam paguyuban ini sehingga secara bersama-sama
dapat dicari solusi yang dapat diambil.
3. Sistem
Pengetahuan
Perpustakaan
Desa
Perpustakaan Desa/Kelurahan adalah
perpustakaan masyarakat sebagai salah satu sarana/media untuk meningkatkan dan
mendukung kegiatan pendidikan masyarakat pedesaan, yang merupakan bagian
integral dari kegiatan pembangunan desa/kelurahan.
Fungsi Perpustakaan Desa/ Kelurahan menurut
Pedoman Penyelenggara Perpustakaan Desa, adalah sebagai lembaga layanan bahan
pustaka dan informasi kepada masyarakat untuk kepentingan pendidikan,
informasi, penerangan, dan rekreasi.
Tujuan
Perpustakaan desa adalah sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan membaca guna mencerdaskan kehidupan masyarakat desa.
Secara umum tujuan penyelenggaraan Perpustakaan desa adalah sebagai berikut
1. Untuk menunjang program wajib belajar.
2. Menunjang program
kegiatan pendidikan seumur hidup bagi masyarakat.
3. Menyediakan buku-buku
pengetahuan maupun ketrampilan untuk mendukung keberhasilan kegiatan masyarakat
dalam berbagai bidang. Misalnya : Pertanian yang produktif,perikanan,
peternakan, perindustrian, pengolahan, pemasran dan lain-lain.
4. Menggalakkan minat baca
masyarakat dengan memanfaatkan waktu luang untuk membaca agar tercipta
masyarakat kreatif, dinamis, produktif dan mandiri.
5. Menyimpan dan
mendayagunakan berbagai dokumen kebudavaan sebagai sumber informasi,
penerangan. pembangunan dan menambah wawasan pengetahuan masyarakat pedesaan.
6. Memberikan semangat dan
hiburan yang sehat dalam pemanfaatan waktu senggang dengan hal-hal yang
bersifat membangun.
7.
Mendidik masyarakat untuk memelihara dan
memanfaatkan bahan pustaka secara tepat guna dan berhasil guna.
Pada hakikatnya perpustakaan dan
masyarakat adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan karena perpustakaan adalah
produk manusia. Begitu juga terkait dengan perkembangan perpustakaan juga tidak
terlepas dari sejarah perkembangan manusia. Oleh sebab itu, eksistensi
perpustakaan yang sudah lebih dari 5000 tahun ini masih tetap bertahan
walaupun banyak hambatan dan rintangan
Perpustakaan
sebagai sumber pusat belajar seyogyanya memiliki potensi untuk membuat orang
tergerak belajar. Peroustakaan Desa tidak cukup hanya dibentuk kemudian
dibiarkan dengan mengharap pemustaka akan datang memenuhi ruang baca, akan
tetapi perlu langkah-langkah konkrit untuk memberdayakannya. Sebagai lembaga
yang mengelola sumber belajar semestinya menduduki posisi kunci dalam proses pendidikan
yang ada di masyarakat.
Perpustakaan ibarat suatu barang yang hanya dapat bergerak apabila digerakan,
dapat bermanfaat apabila dimanfaatkan, dan dapat menjawab pertanyaan apabila
dihadapkan pada satu pertanyaan. Menurut penulis hal inilah esensi arti dari
pemberdayaan perpustakaan.
Perpustakaan
desa yang dikelola dan berfungsi dengan baik merupakan salah satu sarana dan
tempat untuk belajar, menggali dan
mengembangkan ilmu pengetahuan, menambah wawasan dan ketrampilan warganya.
Perpustakaan desa sebagai pusat kegiatan dan sumber belajar dalam lingkup
pendidikan nonformal dan otodidak, yaitu belajar sendiri atau berdiskusi dalam
kelompok dengan teman, orang lain atau siapa saja yang bekunjung ke
Perpustakaan. Oleh karena itu dalam pengelolaannya, perpustakaan desa perlu
dilakukan pengembangan secara berkelanjutan agar keberadaannya benar-benar
dapat meningkatkan kemampuan penduduk sehinnga tidak ketinggalan zaman.
Contoh
dari perpustakaan desa adalah Rumah Baca Pintar di Desa Kranji Kecamatan
Kedungwuni mengoleksi sebanyak 11.300 buku. Adapun koleksi buku itu terdiri
dari berbagai disiplin ilmu.
Rumah
Baca Pintar yang berdiri sejak 2009 lalu itu kini semakin berkembang dengan
11.300 koleksi buku diantaranya karya sastra, ensiklopedi, jurnal ilmiah,
fiksi, komik dan majalah. Selain itu, ada pula perpustakaan keliling
menggunakan motor viar yang beroperasi sebulan sekali dan telah menjangkau
lebih dari 20 desa seantero Kecamatan Kedungwuni.
Ketua
Pengurus Rumah Baca Pintar Nurfina Sholawati mengatakan kehadiran rumah baca
ini berangkat dari keprihatinan akan kurangnya minat baca anak-anak di
lingkungan sekitar. Ketika warung internet (warnet) mulai marak, anak-anak
lebih suka datang ke warnet untuk main game.
Analisis
1. Bentuk
Perpustakaan adalah produk manusia yang pada hakikatnya tidak bisa
dipisahkan antara perpustakaan dengan masyarakat.
Perpustakaan ibarat suatu barang yang hanya dapat bergerak apabila digerakan,
dapat bermanfaat apabila dimanfaatkan, dan dapat menjawab pertanyaan apabila
dihadapkan pada satu pertanyaan. Menurut penulis hal inilah esensi arti dari
pemberdayaan perpustakaan.
2.
Fungsi
Fungsi Perpustakaan Desa adalah sebagai lembaga layanan bahan pustaka
dan informasi kepada masyarakat untuk kepentingan pendidikan, informasi,
penerangan, dan rekreasi.
Perpustakaan
desa sebagai sumber pusat belajar dan sebagai salah satu sarana untuk
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan membaca guna mencerdaskan kehidupan
masyarakat desa.
3. Makna
Perpustakaan Desa/Kelurahan adalah
perpustakaan masyarakat sebagai salah satu sarana/media untuk meningkatkan dan
mendukung kegiatan pendidikan masyarakat pedesaan, yang merupakan bagian
integral dari kegiatan pembangunan desa/kelurahan.
Perpustakaan merupakan potensi untuk membuat orang
tergerak belajar. Dengan pengelolaan yang baik merupakan salah satu sarana dan
tempat untuk belajar, menggali dan
mengembangkan ilmu pengetahuan, menambah wawasan dan ketrampilan warganya.
Perpustakaan desa sebagai pusat kegiatan dan sumber belajar dalam lingkup
pendidikan nonformal dan otodidak, yaitu belajar sendiri atau berdiskusi dalam
kelompok dengan teman, orang lain atau siapa saja yang bekunjung ke
Perpustakaan. Oleh karena itu dalam pengelolaannya, perpustakaan desa perlu
dilakukan pengembangan secara berkelanjutan agar keberadaannya benar-benar
dapat meningkatkan kemampuan penduduk sehinnga tidak ketinggalan zaman.
4. Bahasa
Dialek Pekalongan
Budaya Pekalongan sebagai Kota Santri selalu
terbalut dengan tatanan masyarakat kaum yaitu Islamis dengan memegang norma -
norma dan adat istiadat. Pekalongan merupakan kota yang ramah dan santun.
Bahasa Jawa
Pekalongan atau Dialek Pekalongan termasuk dalam dialek jawa yang pengucapannya khas
orang-orang pinggir pantai utara (pantura) yaitu salah satu dari dialek-dialek Bahasa Jawa yang
dituturkan di pesisir utara tanah Jawa, yaitu daerah Jawa Tengah terutama di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Dialek
Pekalongan termasuk bahasa "antara" yang dipergunakan antara daerah Tegal (bagian
barat), Weleri (bagian
timur), dan daerah Pegunungan Kendeng (bagian
selatan).
Dialek
Pekalongan termasuk dialek Bahasa Jawa yang "sederhana" namun
"komunikatif". Meskipun ada di Jawa Tengah, dialek Pekalongan berbeda
dengan daerah pesisir Jawa lainnya, contohnya Tegal, Weleri/Kendal, dan
Semarang. Namun oleh orang Jogya atau Solo, dialek itu termasuk kasar dan sulit dimengerti,
sementara oleh orang Tegal dianggap termasuk dialek yang sederajat namun juga
sulit dimengerti.
Pada abad ke-15 hingga abad ke-17, Pekalongan
termasuk daerah Kesultanan Mataram. Awalnya dialek Pekalongan tak berbeda
dengan bahasa yang dipergunakan di daerah Kesultanan Mataram. Namun
seterusnya ada zaman di mana bahasa-bahasa Jawa terutama dialek Pekalongan
mulai terlihat berbeda karena asimilasi dengan budaya lain. Dialek Pekalongan baku zaman
itu tadi sudah tak digunakan lagi pada dialek Pekalongan zaman sekarang.
Zaman sekarang banyak orang Pekalongan yang
bekerja menjadi juragan Batik, tenun, dan tekstil, dan tetap menggunakan dialek
tersebut yang mudah dimengerti orang Pekalongan sendiri. Adanya para juragan,
pedagang juga para nelayan di daerah kota dan pinggiran Pekalongan, mewujudkan
tersebarnya dialek ini.
Ada lagi perbedaan lainnya, contohnya
menggunakan pengucapan: ri, ra, po'o, ha'ah pok, lha,
ye.
Demikian pula adanya istilah yang khas,
seperti: Kokuwe artinya "sepertimu", Tak nDangka'i
artinya "aku kira", Jebhul no'o artinya "ternyata", Lha
mbuh artinya "tidak tau", Ora dermoho artinya "tak
sengaja", Wegah ah artinya "tak mau", Nghang priye
artinya "bagaimana", Di Bya bae ra artinya "dihadapi
saja", dan masih banyak lainnya.
Dialek
Pekalongan asli dapat terlihat penggunaannya di pasar-pasar kota dan kabupaten
Pekalongan, sedangkan penggunaan sehari-hari telah bercampur dengan dialek
daerah lain dan bahasa Indonesia. Umumnya Bahasa Pekalongan lebih dikenal
sebagai bahasa lisan, namun Harian Suara
Merdeka memiliki kolom tulisan berbahasa
Pekalongan yang dimuat secara mingguan di edisi Suara Pantura, dengan tajuk
berjudul Warung Megono.
Analisis
1. Bentuk
Dialek Pekalongan adalah salah satu dari dialek-dialek Bahasa Jawa yang
dituturkan di pesisir utara tanah Jawa, yaitu daerah Jawa Tengah terutama di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Dialek
Pekalongan termasuk bahasa "antara" yang dipergunakan antara daerah Tegal (bagian
barat), Weleri (bagian
timur), dan daerah Pegunungan Kendeng (bagian
selatan).
Pada abad ke-15 hingga abad
ke-17, Pekalongan termasuk daerah Kesultanan Mataram. Awalnya dialek Pekalongan
tak berbeda dengan bahasa yang dipergunakan di daerah Kesultanan Mataram. Namun
seterusnya ada zaman di mana bahasa-bahasa Jawa terutama dialek Pekalongan
mulai terlihat berbeda karena asimilasi dengan budaya lain.
2.
Fungsi
Dialek pekalongan digunakan karena mudah dimengerti, yang
digunakan oleh orang–orang Pekalongan yang bekerja menjadi juragan Batik,
tenun, dan tekstil, dan para juragan, pedagang juga para nelayan di daerah kota
dan pinggiran Pekalongan sehingga penggunaan dialek tersebut mudah dimengerti
oleh orang Pekalongan sendiri dalam bermasyarakat dan bergaul.
3. Makna
Dialek Pekalongan termasuk dialek Bahasa Jawa yang "sederhana"
namun "komunikatif". Meskipun ada di Jawa Tengah, dialek Pekalongan
berbeda dengan daerah pesisir Jawa lainnya, contohnya Tegal, Weleri/Kendal, dan
Semarang. Namun oleh orang Jogya atau Solo, dialek itu termasuk kasar dan sulit dimengerti,
sementara oleh orang Tegal dianggap termasuk dialek yang sederajat namun juga
sulit dimengerti.
Dialek Pekalongan asli dapat terlihat penggunaannya di
pasar-pasar kota dan kabupaten Pekalongan, sedangkan penggunaan sehari-hari
telah bercampur dengan dialek daerah lain dan bahasa Indonesia. Umumnya Bahasa
Pekalongan lebih dikenal sebagai bahasa lisan.
5. Kesenian
Ketoprak
Ketoprak
adalah satu dari puluhan kesenian tradisional yang masih dapat bertahan hingga
sekarang. Semula ketoprak merupakan hiburan rakyat yang diciptakan oleh
seseorang di luar kerajaan. Mereka menyiapkan panggung dan berlagak menjadi
raja, pejuang, pangeran, putri, dan siapa pun yang mereka inginkan. Pada
perkembangannya, hiburan ketoprak juga diminati oleh anggota kerajaan. Dan di
setiap penampilannya selalu ada pelawak yang membuat ketoprak terasa semakin
hidup.
Kesenian
ini dilahirkan oleh kaum tani. Konon, kesenian ini bermula dari para petani
yang sedang menumbuk padi sambil bernyanyi. Kejadian itu disaksikan oleh
seorang bangsawan bernama RM Tumenggung Reksodiningrat. Ia membawa ‘kebiasaan’
kaum tani ini ke istana.
Sebagai
kesenian yang lahir dari rahim rakyat, ketoprak senantiasa tampil sebagai juru
bicara berbagai persoalan rakyat. Ketoprak tak pernah jauh dari realitas sosial
massa-rakyat.
Pada
mulanya, ketoprak mengangkat kisah-kisah seputar kehidupan petani. Peralatannya
pun sederhana: lesung, terbang, dan suling. Gara-gara dibawa ke istana,
ketoprak pun sempat menjadi “hiburan bangsawan”.
Namun,
seiring waktu, rakyat berhasil merebut kembali ketoprak sebagai kesenian
rakyat. Sejak itu ketoprak makin hidup dan berkembang. Ketoprak tak hanya mengangkat
cerita-cerita panji, tetapi juga kisah-kisah kepahlawanan rakyat. Kesenian ini
terus menyebar ke berbagai kota di Jawa.
Cerita yang dibawakan merupakan cerita
sehari-hari dengan permasalahan yang sehari-hari dialami masyarakat. Para
pemainnya pun tidak memerlukan persyaratan khusus. Mereka hanya diberi tahu
garis besar cerita, tanpa naskah. Karenanya, kemampuan berimprovisasi merupakan hal
penting yang harus dimiliki seorang pemain ketoprak.
Kesenian yang dalam penyajian atau
pementasannya menggunakan bahasa Jawa ini memiliki cerita yang beragam dan
menarik. Mirip dengan teater, pertunjukan ini diisi dengan dialog-dialog yang
membawa penonton merasakan atmosfir “dunia” Jawa pada masa Raja-Raja berkuasa.
Nama “ketoprak” terkait dengan alat musik
kentongan yang digunakan untuk mengumpulkan penonton sebelum pertunjukan
dimulai. Dalam bahasa Jawa, memukul kentongan disebut “keprak” dan pertunjukan
yang dilakukan setelah kentongan di-keprak disebut “ketoprak”.
Pertunjukan
ketoprak akan diiringi kelompok musik gamelan. Dalam kelompok musik ini juga
terdapat sinden, meski begitu pemain di panggung juga bernyanyi.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa Kethoprak adalah seni pertunjukan teater atau
drama yang sederhana yang meliputi unsur tradisi jawa, baik struktur lakon,
dialog, busana rias, maupun bunyi-bunyian musik tradisional yang dipertunjukan
oleh rakyat
Analisis
1.
Bentuk
Kesenian ini
dilahirkan oleh kaum tani. Konon, kesenian ini bermula dari para petani yang
sedang menumbuk padi sambil bernyanyi.
Pada
mulanya, ketoprak mengangkat kisah-kisah seputar kehidupan petani. Peralatannya
pun sederhana: lesung, terbang, dan suling. Gara-gara dibawa ke istana,
ketoprak pun sempat menjadi “hiburan bangsawan”.
Namun,
seiring waktu, rakyat berhasil merebut kembali ketoprak sebagai kesenian
rakyat. Sejak itu ketoprak makin hidup dan berkembang.
Kesenian yang dalam penyajian atau
pementasannya menggunakan bahasa Jawa ini memiliki cerita yang beragam dan
menarik. Mirip dengan teater, pertunjukan ini diisi dengan dialog-dialog yang
membawa penonton merasakan atmosfir “dunia” Jawa pada masa Raja-Raja berkuasa.
2.
Fungsi
Ketoprak merupakan hiburan rakyat yang
diciptakan oleh seseorang di luar kerajaan. Mereka menyiapkan panggung dan
berlagak menjadi raja, pejuang, pangeran, putri, dan siapa pun yang mereka
inginkan. Dan di setiap penampilannya selalu ada pelawak yang membuat ketoprak
terasa semakin hidup.
Sebagai
kesenian yang lahir dari rahim rakyat, ketoprak juga senantiasa tampil sebagai
juru bicara berbagai persoalan rakyat. Ketoprak tak pernah jauh dari realitas
sosial massa-rakyat.
3.
Makna
Nama “ketoprak” terkait dengan alat musik
kentongan yang digunakan untuk mengumpulkan penonton sebelum pertunjukan
dimulai. Dalam bahasa Jawa, memukul kentongan disebut “keprak” dan pertunjukan
yang dilakukan setelah kentongan di-keprak disebut “ketoprak”.
Kethoprak adalah seni pertunjukan teater atau
drama yang sederhana yang meliputi unsur tradisi jawa, baik struktur lakon,
dialog, busana rias, maupun bunyi-bunyian musik tradisional yang dipertunjukan
oleh rakyat
6. Sistem Mata
Pencaharian
Konveksi Jeans
Kabupaten Pekalongan dengan Ibukotanya Kajen
memiliki beberapa Potensi unggulan daerah yang diharapkan memiliki daya saing
dan keunikan tertentu, yang membedakan dengan daerah lain. Potensi terhadap
produk unggulan daerah diandalkan melalui sektor pertanian, industri dan
pariwisata.
Pekalongan merupakan salah satu kabupaten yang
memiliki jumlah industri kecil dan mikro cukup banyak. Dari banyaknya industri
tersebut, sebagian besar merupakan industri batik dan industri celana jeans.
Untuk industri batik mungkin sudah cukup
banyak yang mengenal. Bagaimana tidak, kabupaten Pekalongan telah lama
dikenal sebagai salah satu sentra batik di Indonesia. Namun, tahukah anda bahwa
di kabupaten Pekalongan ini ternyata juga terdapat banyak sekali industri kecil
konveksi jeans. Mungkin tidak semua dari kita mengetahuinya. Pada kenyataannya
industri jeans di kabupaten Pekalongan merupakan salah satu industri yang cukup
besar disini. Jumlah warga yang bermata pencaharian sebagai pemilik industri
jeans baik itu sebagai pemasok bahan, pencucian jeans, maupun konveksi jeans
jumlahnya hampir setara dengan warga yang bermata pencaharian sebagai pemilik
industri batik. Hal sama berlaku juga di wilayah desa Ambokembang, yang
merupakan salah desa yang berada di wilayah kabupaten Pekalongan. Cukup banyak
warga desa ini yang memiliki konveksi jeans rumahan.
Dengan
banyaknya industri jeans di wilayah ini, maka tak heran harga jeans disini
cenderung lebih murah jika dibandingkan harga jeans di daerah lain. Walau
harganya cenderung lebih murah, tapi kualitas jeans dari kabupaten Pekalongan
ini tidak kalah dari jeans buatan konveksi mahal lainnya. Ada beberapa industri
jeans yang sudah cukup besar di desa Ambokembang ini. Bahkan beberapa ada yang
sudah memiliki merk dagang sendiri. Selain itu jeans-jeans ini tidak hanya
dipasarkan di wilayah Ambokembang saja. Jeans-jeans tersebut sudah mulai
dipasarkan di berbagai kota di seluruh Indonesia.
Merupakan
kebanggaan dengan ditetapkannya produk-produk unggulan tersebut diharapkan
dapat memacu pelaku ekonomi daerah dalam mengembangkan kreativitas dan
usahanya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat
Kabupaten
Analisis
1.
Bentuk
Pekalongan merupakan salah satu kabupaten yang
memiliki jumlah industri kecil dan mikro cukup banyak. Pekalongan telah lama
dikenal sebagai salah satu sentra batik di Indonesia. Namun, tahukah anda bahwa
di kabupaten Pekalongan ini ternyata juga terdapat banyak sekali industri kecil
konveksi jeans. Pada kenyataannya
industri jeans di kabupaten Pekalongan merupakan salah satu industri yang cukup
besar.
Jumlah warga yang bermata pencaharian sebagai
pemilik industri jeans baik itu sebagai pemasok bahan, pencucian jeans, maupun
konveksi jeans jumlahnya hampir setara dengan warga yang bermata pencaharian
sebagai pemilik industri batik.
2.
Fungsi
Dalam konveksi jeans tersebut barang yang telah jadi akan dipasarkan di
berbagai kota di seluruh Indonesia dengan kualitas jeans yang tidak kalah dari
jeans buatan konveksi mahal lainnya
Dan dengan ditetapkan sebagai produk-produk
unggulan di Pekalongan maka diharapkan dapat memacu pelaku ekonomi daerah dalam
mengembangkan kreativitas dan usahanya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan
perekonomian masyarakat Kabupaten tersebut.
3.
Makna
Konveksi jeans tersebut sebagai potensi
unggulan daerah, sehingga diharapkan memiliki daya saing dan keunikan tertentu,
yang membedakan dengan daerah lain.
7. Sistem
Teknologi dan Peralatan
Alat Tenun
Bukan Mesin
Bila sebelumnya kita mengenal Pekalongan
sebagai salah satu sentra penghail kerajinan batik, maka sekarang ini
kretivitas masyarakat setempat mulai meningkat sehingga tercipta berbagai macam
jenis kerajinan tenun.
Dalam kerajinan kain tenun ada yang menarik,
yaitu kain tenun ikat diproduksi secara manual, yaitu ditenun dengan ATBM (Alat
Tenun Bukan Mesin). Tentu saja sebuah kekaguman tersendiri bagi para pengrajin
kain ikat ini, karena keuletan mereka dalam menenun benang.
Kota Pekalongan identik dengan batik, yang
mempunyai produk unggulan berupa kain tenun yang dibuat secara tradisional
menggunakan alat ATBM. Selain menghasilkan kain tenun para perajin juga membuat
beragam produk kerajinan interior seperti korden, taplak meja, karpet dan
keset. Juga membuat handuk dan kain ihram. Bagi masyarakat Pekalongan produk
ini merupakan andalan industri rumah tangga. Hasil dari kain tenun ikat itu
sangat unik dan istimewa karena betapa rumitnya proses pembuatan kain tenun ini
yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan perajin dalam menganyam benang
sehingga menghasilkan selembar kain dalam kurun waktu yang sngat lama.
Selain kerajinan tenu yang berupa kain
terdapat juga kerajinan tenun yang memanfaatkan bahan baku alami yaitu berbahan
enceng gondok, akar wangi dan juga mendong. Dan hampir setiap warga memiliki
mata pencaharian sebagai pengrajin tenun enceng gondok dan dari bahan alami
lainnya.
Bahan enceng gondok, akar wangi dan mendong
diolah warga dengan cara ditenun menggunakan ATBM juga. Hasil tenunan setengah
jadi yang masih berupa lembaran itu
biasanya dijual kepada para konsumen yang rata-rata adalah produsen kerajinan
natural di berbagai daerah yang kemudian membentuknya menjai beragam jenis
produk kerajinan siap pakai seperti kerajianan interior dan hiasan dinding.
Awalnya para pengrjin bukan menenun enceng
gondok ataupun bahan alami yang lainnya melainkan menenun kain dari bahan benang. Baru kemudian masyarakat
tertarik untuk beralih memproduksi kerajinan dari bahan baku alami lantaran
kalah bersaing dengan perusahaan kain yang ditenun dengan menggunakan mesin dan
untuk memanfaatkan bahan baku alami yang mudah didapatkan.
Dari satu unit alat tenun pengrajin bisa
menenun kerajinan sepanjang 10 meter dengan bendrol harga 10.000,00 per meter.
Sedangkan untuk hasil tenun akar wngi dihargai 15.000,00 per meter.
Meskipun sentra kerajinan tenun bahan alami
ini letaknya cukup jauh dari perkotaan, namun popularitas desanya mulai dikenal
masyarakat luas diluar daerah. Bahkan seiring dengan meningkatnya permintaan,
sekarang ini kerajinan tenun tersebut menjadi salah satu potensi bisnis KabupatenPekalongan
yang produknya sudah melanglang
buwana hingga Jakarta, Bali, dan Malang
bahkan menembus pasar ekspor seperti ke Negara Jepang dan Korea Selatan.
Melihat peluang pasarnya masih sangat besar,
tidak menutup kemungkinan bila sentra
kerajinan tenun ini bisa berkembang dengan pesat dan menjadi salah satu kawasan
Wiisata Industri yang bisa membangkitkan perekonomian masyarakat setempat.
Analisis
1.
Bentuk
Pekalongan sebagai salah satu sentra penghail
kerajinan batik, maka sekarang ini kretivitas masyarakat setempat mulai
meningkat sehingga tercipta berbagai macam jenis kerajinan tenun.
Dalam kerajinan kain tenun ada yang menarik,
yaitu kain tenun ikat diproduksi secara manual, yaitu ditenun dengan ATBM (Alat
Tenun Bukan Mesin). Tentu saja sebuah kekaguman tersendiri bagi para pengrajin
kain ikat ini, karena keuletan mereka dalam menenun benang.
Selain kerajinan tenu yang berupa kain
terdapat juga kerajinan tenun yang memanfaatkan bahan baku alami yaitu berbahan
enceng gondok, akar wangi dan juga mendong. Dan hampir setiap warga memiliki
mata pencaharian sebagai pengrajin tenun enceng gondok dan dari bahan alami
lainnya.
2.
Fungsi
Hasil tenunan setengah jadi yang masih
berupa lembaran itu biasanya dijual
kepada para konsumen yang rata-rata adalah produsen kerajinan natural di
berbagai daerah yang kemudian membentuknya menjai beragam jenis produk
kerajinan siap pakai.
Melihat dan memanfaatkan peluang pasarnya
masih sangat besar, sehingga tidak
menutup kemungkinan bila sentra kerajinan tenun ini bisa berkembang
dengan pesat dan menjadi salah satu kawasan Wiisata Industri yang bisa
membangkitkan perekonomian masyarakat setempat.
3.
Makna
Awalnya para pengrjin bukan menenun enceng
gondok ataupun bahan alami yang lainnya melainkan menenun kain dari bahan benang. Baru kemudian masyarakat
tertarik untuk beralih memproduksi kerajinan dari bahan baku alami lantaran
kalah bersaing dengan perusahaan kain yang ditenun dengan menggunakan mesin dan
untuk memanfaatkan bahan baku alami yang mudah didapatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar