Minggu, 11 Januari 2015

Unsur Kebudayaan

Description: Description: Description: C:\Users\x\Documents\emblem.jpg



BUDAYA JAWA

ANALISIS KEBUDAYAAN MATERIAL DARI 7 UNSUR KEBUDAYAAN


Disusun Oleh :

Hala Nur Soliha  2601413006
PBSJ 2013
Rombel 01




FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
KEBUDAYAAN MATERIAL DARI 7 UNSUR KEBUDAYAAN

1.    Sistem Religi dan Upacara Keagamaan
Berzanji
Berzanji atau Barzanji ialah suatu doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada yang biasa dilantunkan ketika kelahiran, khitanan, pernikahan dan maulid Nabi Muhammad saw. Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, yang disebutkan berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.
Pengertian Berzanji ialah sebuah kitab kumpulan sajak karya penyair Abu Jaafar Al Barzanji yang dilahirkan dari negeri Barzanj. Karya beliau menjadi terkenal apabila ia telah dinobatkan sebagai pemenang dalam penulisan sajak-sajak pujian kepada Rasulullah S.A.W dan sejak daripada itu karya tersebut sering dideklemasikan oleh masyarakat Islam di seluruh dunia (http://emjayjb.multiply.com/journal/item/17).
Al Barzanji erat kaitannya dengan Perayaan Maulid yang ada pada masyarakat pada umumnya. Perayaan Maulid pada mulanya dirintis oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Yang sebenarnya Maulid tersebut berperan menghidupkan kembali Maulid yang pernah ada pada masa Dinasti Fatimiyah. Tujuannya, membangkitkan semangat jihad (perjuangan) dan ittihad (persatuan) tentara Islam melawan crusaders (Pasukan Salib) yang saat itu memang memerlukan keteguhan dan keteladanan. Dari itulah muncul anggapan, Shalahuddin adalah penggagas dan peletak dasar peringatan Maulid Nabi.
Berzanji tidak hanya dilakukan pada peringatan Maulid Nabi, namun kerap diselenggarakan pula pada tiap malam Jumat, pada upacara kelahiran, akikah dan potong rambut, pernikahan, syukuran, dan upacara lainnya. Bahkan, pada sebagian besar pesantren, Berjanjen telah menjadi kurikulum wajib.
Al Barjanji sendiri merupakan karya tulis berupa puisi yang terbagai atas 2 bagian yaitu Natsar dan Nazhom. Bagian natsar mencakup 19 sub-bagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi ah pada tiap-tiap rima akhir. Keseluruhnya merunutkan kisah Nabi Muhammad SAW, mulai saat-saat menjelang Nabi dilahirkan hingga masa-masa tatkala beliau mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian Nazhom terdiri dari 16 subbagian berisi 205 untaian syair penghormatan, puji-pujian akan keteladanan ahlaq mulia Nabi SAW, dengan olahan rima akhir berbunyi nun.
Secara umum kandungan kitab Barzanji terbagi menjadi tiga:
1. Cerita tentang perjalanan hidup Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan sastra bahasa yang tinggi yang terkadang tercemar dengan riwayat-riwayat lemah.
2. Syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan bahasa yang sangat indah, namun telah tercemar dengan muatan dan sikap ghuluw (berlebihan)
3. Sholawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, tetapi telah bercampur aduk dengan sholawat bid’ah dan sholawat-sholawat yang tidak berasal dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Ananlisis
1.      Bentuk
Berzanji ialah sebuah kitab kumpulan sajak karya penyair Abu Jaafar Al Barzanji,  kitab Berzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, yang disebutkan berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.
Al Barjanji sendiri merupakan karya tulis berupa puisi yang terbagai atas 2 bagian yaitu Natsar dan Nazhom. Bagian natsar mencakup 19 sub-bagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi ah pada tiap-tiap rima akhir. Keseluruhnya merunutkan kisah Nabi Muhammad SAW, mulai saat-saat menjelang Nabi dilahirkan hingga masa-masa tatkala beliau mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian Nazhom terdiri dari 16 subbagian berisi 205 untaian syair penghormatan, puji-pujian akan keteladanan ahlaq mulia Nabi SAW, dengan olahan rima akhir berbunyi nun.
2.      Fungsi
Berzanji dibacakan dalam perayaan Maulid yang ada pada masyarakat pada umumnya. Namun Berzanji tidak hanya dilakukan pada peringatan Maulid Nabi saja, melainkan kerap diselenggarakan pula pada tiap malam Jumat, pada upacara kelahiran, akikah dan potong rambut, pernikahan, syukuran, dan upacara lainnya.
3.      Makna
Berzanji atau Barzanji ialah suatu doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada. Yang didalam kitab Berzanji tersebut menceritakan tentang perjalanan hidup Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, terdapat pula syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, sholawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tetapi telah bercampur aduk dengan sholawat bid’ah dan sholawat-sholawat yang tidak berasal dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
Jadi makna dalam Berzanji tersebut adalah agar selalu mengingat sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad saw, menjunjung dan memuliakan  Nabi Muhammad saw.


2.    Sistem Organisasi Kemasyarakatan
Paguyuban ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin)
Kota Pekalongan identik dengan batik, yang mempunyai produk unggulan berupa kain tenun yang dibuat secara tradisional menggunakan alat ATBM. Dari mata pencaharin sebagai perajin yang menggunakan alat APBM maka berdirilah paguyuban ATBM.
Paguyuban ATBM adalah perkumpulan dari orang-orang yang mempunyai mata pencaharian sebagai pengrajin tenun dengan menggunakan alat tenun bukan mesin yang ada didaerah pusat kerajinan  ATBM. Dalam paguyuban tersebut terdapat ketua yang memimpin perkumpulan dalam paguyuban ATBM.
Kebanyakan para perajin ATBM tersebut adalah perajin turun temurun sejak kakek dan nenek mereka, sejalan dengan masa kejayaan tenun.
Dalam paguyuban ATBM para ketua berkumpul untuk membahas peluang-peluang yang dapat dicapai, dapat pula membahas tentang penambahan  alat-alat tenun yang akan digunakan untuk menambah produksi. Bahkan dalam paguyuban tersebut membahas tentang masalah-masalah yang sedang dihadapi dan bagaimana untuk menemukan solusi dari masalah tersebut.
Contoh masalah yang dihadapi adalah kekurangan tenaga kerja sehingga mengakibatkan para pengrajin hars membatasi jumlah pesanan kerajinan tenun tersebut pada konsumen sebagai upaya menghindari kekecewaan terhadap para konsumen. Bahkan ada sebagian pusat kerajinan ATBM yang berhenti berproduksi karena kekurangan tenaga kerja dan membiarkan sarana ATBM tersebut mangkrak.
Masalah yang dibahaspun ada yang berupa bagaimana cara membuang maupun memanfaatkan limbah produksi secara bersama-sama baik untuk pewarnaan maupun pemutihan. Sehingga mampu mengurangi biaya pengeluaran karena dapat dimanfaatkan secara bersama-sama.
Pemecahan masalah dalam pemasaran hasil kerajinanpun dapat didiskusikan dalam paguyuban ini sehingga secara bersama-sama dapat dicari solusi yang dapat diambil.


Analisis
1.      Bentuk
Paguyuban ATBM adalah perkumpulan dari orang-orang yang mempunyai mata pencaharian sebagai pengrajin tenun dengan menggunakan alat tenun bukan mesin yang ada didaerah pusat kerajinan  ATBM. Dalam paguyuban tersebut terdapat ketua yang memimpin perkumpulan dalam paguyuban ATBM.
Kebanyakan para perajin ATBM tersebut adalah perajin turun temurun sejak kakek dan nenek mereka, sejalan dengan masa kejayaan tenun.
2.      Fungsi
Berkumpul untuk membahas peluang-peluang yang dapat dicapai, dapat pula membahas tentang penambahan  alat-alat tenun yang akan digunakan untuk menambah produksi. Bahkan dalam paguyuban tersebut membahas tentang masalah-masalah yang sedang dihadapi dan bagaimana untuk menemukan solusi dari masalah tersebut.
3.      Makna
Paguyuban ATBM sebagai pemecah masalah yang dialami dalam  pembuatan kerajinan sehingga dapat didiskusikan dalam paguyuban ini sehingga secara bersama-sama dapat dicari solusi yang dapat diambil.





3.    Sistem Pengetahuan
Perpustakaan Desa
Perpustakaan Desa/Kelurahan adalah perpustakaan masyarakat sebagai salah satu sarana/media untuk meningkatkan dan mendukung kegiatan pendidikan masyarakat pedesaan, yang merupakan bagian integral dari kegiatan pembangunan desa/kelurahan.
Fungsi Perpustakaan Desa/ Kelurahan menurut Pedoman Penyelenggara Perpustakaan Desa, adalah sebagai lembaga layanan bahan pustaka dan informasi kepada masyarakat untuk kepentingan pendidikan, informasi, penerangan, dan rekreasi.
Tujuan Perpustakaan desa adalah sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan membaca guna mencerdaskan kehidupan masyarakat desa. Secara umum tujuan penyelenggaraan Perpustakaan desa adalah sebagai berikut
1.      Untuk menunjang program wajib belajar.
2.      Menunjang program kegiatan pendidikan seumur hidup bagi masyarakat.
3.      Menyediakan buku-buku pengetahuan maupun ketrampilan untuk mendukung keberhasilan kegiatan masyarakat dalam berbagai bidang. Misalnya : Pertanian yang produktif,perikanan, peternakan, perindustrian, pengolahan, pemasran dan lain-lain.
4.      Menggalakkan minat baca masyarakat dengan memanfaatkan waktu luang untuk membaca agar tercipta masyarakat kreatif, dinamis, produktif dan mandiri.
5.      Menyimpan dan mendayagunakan berbagai dokumen kebudavaan sebagai sumber informasi, penerangan. pembangunan dan menambah wawasan pengetahuan masyarakat pedesaan.
6.      Memberikan semangat dan hiburan yang sehat dalam pemanfaatan waktu senggang dengan hal-hal yang bersifat membangun.
7.                   Mendidik masyarakat untuk memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara tepat guna dan berhasil guna.

            Pada hakikatnya perpustakaan dan masyarakat adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan karena perpustakaan adalah produk manusia. Begitu juga terkait dengan perkembangan perpustakaan juga tidak terlepas dari sejarah perkembangan manusia. Oleh sebab itu, eksistensi perpustakaan  yang sudah lebih dari 5000 tahun ini masih tetap bertahan walaupun banyak hambatan dan rintangan
Perpustakaan sebagai sumber pusat belajar seyogyanya memiliki potensi untuk membuat orang tergerak belajar. Peroustakaan Desa tidak cukup hanya dibentuk kemudian dibiarkan dengan mengharap pemustaka akan datang memenuhi ruang baca, akan tetapi perlu langkah-langkah konkrit untuk memberdayakannya. Sebagai lembaga yang mengelola sumber belajar semestinya menduduki posisi kunci dalam proses pendidikan yang ada di masyarakat.
            Perpustakaan ibarat suatu barang yang hanya dapat bergerak apabila digerakan, dapat bermanfaat apabila dimanfaatkan, dan dapat menjawab pertanyaan apabila dihadapkan pada satu pertanyaan. Menurut penulis hal inilah esensi arti dari pemberdayaan perpustakaan.
Perpustakaan desa yang dikelola dan berfungsi dengan baik merupakan salah satu sarana dan tempat untuk belajar, menggali  dan mengembangkan ilmu pengetahuan, menambah wawasan dan ketrampilan warganya. Perpustakaan desa sebagai pusat kegiatan dan sumber belajar dalam lingkup pendidikan nonformal dan otodidak, yaitu belajar sendiri atau berdiskusi dalam kelompok dengan teman, orang lain atau siapa saja yang bekunjung ke Perpustakaan. Oleh karena itu dalam pengelolaannya, perpustakaan desa perlu dilakukan pengembangan secara berkelanjutan agar keberadaannya benar-benar dapat meningkatkan kemampuan penduduk sehinnga tidak ketinggalan zaman.
Contoh dari perpustakaan desa adalah Rumah Baca Pintar di Desa Kranji Kecamatan Kedungwuni mengoleksi sebanyak 11.300 buku. Adapun koleksi buku itu terdiri dari berbagai disiplin ilmu.
Rumah Baca Pintar yang berdiri sejak 2009 lalu itu kini semakin berkembang dengan 11.300 koleksi buku diantaranya karya sastra, ensiklopedi, jurnal ilmiah, fiksi, komik dan majalah. Selain itu, ada pula perpustakaan keliling menggunakan motor viar yang beroperasi sebulan sekali dan telah menjangkau lebih dari 20 desa seantero Kecamatan Kedungwuni.
Ketua Pengurus Rumah Baca Pintar Nurfina Sholawati mengatakan kehadiran rumah baca ini berangkat dari keprihatinan akan kurangnya minat baca anak-anak di lingkungan sekitar. Ketika warung internet (warnet) mulai marak, anak-anak lebih suka datang ke warnet untuk main game.


Analisis
1.      Bentuk
Perpustakaan adalah produk manusia yang pada hakikatnya tidak bisa dipisahkan antara perpustakaan dengan masyarakat.
            Perpustakaan ibarat suatu barang yang hanya dapat bergerak apabila digerakan, dapat bermanfaat apabila dimanfaatkan, dan dapat menjawab pertanyaan apabila dihadapkan pada satu pertanyaan. Menurut penulis hal inilah esensi arti dari pemberdayaan perpustakaan.
2.      Fungsi
Fungsi Perpustakaan Desa adalah sebagai lembaga layanan bahan pustaka dan informasi kepada masyarakat untuk kepentingan pendidikan, informasi, penerangan, dan rekreasi.
Perpustakaan desa sebagai sumber pusat belajar dan sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan membaca guna mencerdaskan kehidupan masyarakat desa.
3.      Makna
Perpustakaan Desa/Kelurahan adalah perpustakaan masyarakat sebagai salah satu sarana/media untuk meningkatkan dan mendukung kegiatan pendidikan masyarakat pedesaan, yang merupakan bagian integral dari kegiatan pembangunan desa/kelurahan.
Perpustakaan merupakan potensi untuk membuat orang tergerak belajar. Dengan pengelolaan yang baik merupakan salah satu sarana dan tempat untuk belajar, menggali  dan mengembangkan ilmu pengetahuan, menambah wawasan dan ketrampilan warganya. Perpustakaan desa sebagai pusat kegiatan dan sumber belajar dalam lingkup pendidikan nonformal dan otodidak, yaitu belajar sendiri atau berdiskusi dalam kelompok dengan teman, orang lain atau siapa saja yang bekunjung ke Perpustakaan. Oleh karena itu dalam pengelolaannya, perpustakaan desa perlu dilakukan pengembangan secara berkelanjutan agar keberadaannya benar-benar dapat meningkatkan kemampuan penduduk sehinnga tidak ketinggalan zaman.




4.    Bahasa
Dialek Pekalongan
Budaya Pekalongan sebagai Kota Santri selalu terbalut dengan tatanan masyarakat kaum yaitu Islamis dengan memegang norma - norma dan adat istiadat. Pekalongan merupakan kota yang ramah dan santun.
Bahasa Jawa Pekalongan atau Dialek Pekalongan termasuk dalam dialek jawa yang pengucapannya khas orang-orang pinggir pantai utara (pantura)  yaitu salah satu dari dialek-dialek Bahasa Jawa yang dituturkan di pesisir utara tanah Jawa, yaitu daerah Jawa Tengah terutama di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Dialek Pekalongan termasuk bahasa "antara" yang dipergunakan antara daerah Tegal (bagian barat), Weleri (bagian timur), dan daerah Pegunungan Kendeng (bagian selatan).
Dialek Pekalongan termasuk dialek Bahasa Jawa yang "sederhana" namun "komunikatif". Meskipun ada di Jawa Tengah, dialek Pekalongan berbeda dengan daerah pesisir Jawa lainnya, contohnya Tegal, Weleri/Kendal, dan Semarang. Namun oleh orang Jogya atau Solo, dialek itu termasuk kasar dan sulit dimengerti, sementara oleh orang Tegal dianggap termasuk dialek yang sederajat namun juga sulit dimengerti.
Pada abad ke-15 hingga abad ke-17, Pekalongan termasuk daerah Kesultanan Mataram. Awalnya dialek Pekalongan tak berbeda dengan bahasa yang dipergunakan di daerah Kesultanan Mataram. Namun seterusnya ada zaman di mana bahasa-bahasa Jawa terutama dialek Pekalongan mulai terlihat berbeda karena asimilasi dengan budaya lain. Dialek Pekalongan baku zaman itu tadi sudah tak digunakan lagi pada dialek Pekalongan zaman sekarang.
Zaman sekarang banyak orang Pekalongan yang bekerja menjadi juragan Batik, tenun, dan tekstil, dan tetap menggunakan dialek tersebut yang mudah dimengerti orang Pekalongan sendiri. Adanya para juragan, pedagang juga para nelayan di daerah kota dan pinggiran Pekalongan, mewujudkan tersebarnya dialek ini.
Ada lagi perbedaan lainnya, contohnya menggunakan pengucapan: ri, ra, po'o, ha'ah pok, lha, ye.
Demikian pula adanya istilah yang khas, seperti: Kokuwe artinya "sepertimu", Tak nDangka'i artinya "aku kira", Jebhul no'o artinya "ternyata", Lha mbuh artinya "tidak tau", Ora dermoho artinya "tak sengaja", Wegah ah artinya "tak mau", Nghang priye artinya "bagaimana", Di Bya bae ra artinya "dihadapi saja", dan masih banyak lainnya.
Dialek Pekalongan asli dapat terlihat penggunaannya di pasar-pasar kota dan kabupaten Pekalongan, sedangkan penggunaan sehari-hari telah bercampur dengan dialek daerah lain dan bahasa Indonesia. Umumnya Bahasa Pekalongan lebih dikenal sebagai bahasa lisan, namun Harian Suara Merdeka memiliki kolom tulisan berbahasa Pekalongan yang dimuat secara mingguan di edisi Suara Pantura, dengan tajuk berjudul Warung Megono.


Analisis
1.      Bentuk
Dialek Pekalongan adalah salah satu dari dialek-dialek Bahasa Jawa yang dituturkan di pesisir utara tanah Jawa, yaitu daerah Jawa Tengah terutama di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Dialek Pekalongan termasuk bahasa "antara" yang dipergunakan antara daerah Tegal (bagian barat), Weleri (bagian timur), dan daerah Pegunungan Kendeng (bagian selatan).
Pada abad ke-15 hingga abad ke-17, Pekalongan termasuk daerah Kesultanan Mataram. Awalnya dialek Pekalongan tak berbeda dengan bahasa yang dipergunakan di daerah Kesultanan Mataram. Namun seterusnya ada zaman di mana bahasa-bahasa Jawa terutama dialek Pekalongan mulai terlihat berbeda karena asimilasi dengan budaya lain.
2.      Fungsi
Dialek pekalongan digunakan karena mudah dimengerti, yang digunakan oleh orang–orang Pekalongan yang bekerja menjadi juragan Batik, tenun, dan tekstil, dan para juragan, pedagang juga para nelayan di daerah kota dan pinggiran Pekalongan sehingga penggunaan dialek tersebut mudah dimengerti oleh orang Pekalongan sendiri dalam bermasyarakat dan bergaul.
3.      Makna
Dialek Pekalongan termasuk dialek Bahasa Jawa yang "sederhana" namun "komunikatif". Meskipun ada di Jawa Tengah, dialek Pekalongan berbeda dengan daerah pesisir Jawa lainnya, contohnya Tegal, Weleri/Kendal, dan Semarang. Namun oleh orang Jogya atau Solo, dialek itu termasuk kasar dan sulit dimengerti, sementara oleh orang Tegal dianggap termasuk dialek yang sederajat namun juga sulit dimengerti.
Dialek Pekalongan asli dapat terlihat penggunaannya di pasar-pasar kota dan kabupaten Pekalongan, sedangkan penggunaan sehari-hari telah bercampur dengan dialek daerah lain dan bahasa Indonesia. Umumnya Bahasa Pekalongan lebih dikenal sebagai bahasa lisan.




5.    Kesenian
Ketoprak
Ketoprak adalah satu dari puluhan kesenian tradisional yang masih dapat bertahan hingga sekarang. Semula ketoprak merupakan hiburan rakyat yang diciptakan oleh seseorang di luar kerajaan. Mereka menyiapkan panggung dan berlagak menjadi raja, pejuang, pangeran, putri, dan siapa pun yang mereka inginkan. Pada perkembangannya, hiburan ketoprak juga diminati oleh anggota kerajaan. Dan di setiap penampilannya selalu ada pelawak yang membuat ketoprak terasa semakin hidup.
Kesenian ini dilahirkan oleh kaum tani. Konon, kesenian ini bermula dari para petani yang sedang menumbuk padi sambil bernyanyi. Kejadian itu disaksikan oleh seorang bangsawan bernama RM Tumenggung Reksodiningrat. Ia membawa ‘kebiasaan’ kaum tani ini ke istana.
Sebagai kesenian yang lahir dari rahim rakyat, ketoprak senantiasa tampil sebagai juru bicara berbagai persoalan rakyat. Ketoprak tak pernah jauh dari realitas sosial massa-rakyat.
Pada mulanya, ketoprak mengangkat kisah-kisah seputar kehidupan petani. Peralatannya pun sederhana: lesung, terbang, dan suling. Gara-gara dibawa ke istana, ketoprak pun sempat menjadi “hiburan bangsawan”.
Namun, seiring waktu, rakyat berhasil merebut kembali ketoprak sebagai kesenian rakyat. Sejak itu ketoprak makin hidup dan berkembang. Ketoprak tak hanya mengangkat cerita-cerita panji, tetapi juga kisah-kisah kepahlawanan rakyat. Kesenian ini terus menyebar ke berbagai kota di Jawa.
Cerita yang dibawakan merupakan cerita sehari-hari dengan permasalahan yang sehari-hari dialami masyarakat. Para pemainnya pun tidak memerlukan persyaratan khusus. Mereka hanya diberi tahu garis besar cerita, tanpa naskah. Karenanya, kemampuan berimprovisasi merupakan hal penting yang harus dimiliki seorang pemain ketoprak.
Kesenian yang dalam penyajian atau pementasannya menggunakan bahasa Jawa ini memiliki cerita yang beragam dan menarik. Mirip dengan teater, pertunjukan ini diisi dengan dialog-dialog yang membawa penonton merasakan atmosfir “dunia” Jawa pada masa Raja-Raja berkuasa.
Nama “ketoprak” terkait dengan alat musik kentongan yang digunakan untuk mengumpulkan penonton sebelum pertunjukan dimulai. Dalam bahasa Jawa, memukul kentongan disebut “keprak” dan pertunjukan yang dilakukan setelah kentongan di-keprak disebut “ketoprak”.
Pertunjukan ketoprak akan diiringi kelompok musik gamelan. Dalam kelompok musik ini juga terdapat sinden, meski begitu pemain di panggung juga bernyanyi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kethoprak adalah seni pertunjukan teater atau drama yang sederhana yang meliputi unsur tradisi jawa, baik struktur lakon, dialog, busana rias, maupun bunyi-bunyian musik tradisional yang dipertunjukan oleh rakyat


Analisis
1.      Bentuk
Kesenian ini dilahirkan oleh kaum tani. Konon, kesenian ini bermula dari para petani yang sedang menumbuk padi sambil bernyanyi.
Pada mulanya, ketoprak mengangkat kisah-kisah seputar kehidupan petani. Peralatannya pun sederhana: lesung, terbang, dan suling. Gara-gara dibawa ke istana, ketoprak pun sempat menjadi “hiburan bangsawan”.
Namun, seiring waktu, rakyat berhasil merebut kembali ketoprak sebagai kesenian rakyat. Sejak itu ketoprak makin hidup dan berkembang.
Kesenian yang dalam penyajian atau pementasannya menggunakan bahasa Jawa ini memiliki cerita yang beragam dan menarik. Mirip dengan teater, pertunjukan ini diisi dengan dialog-dialog yang membawa penonton merasakan atmosfir “dunia” Jawa pada masa Raja-Raja berkuasa.
2.      Fungsi
Ketoprak merupakan hiburan rakyat yang diciptakan oleh seseorang di luar kerajaan. Mereka menyiapkan panggung dan berlagak menjadi raja, pejuang, pangeran, putri, dan siapa pun yang mereka inginkan. Dan di setiap penampilannya selalu ada pelawak yang membuat ketoprak terasa semakin hidup.
Sebagai kesenian yang lahir dari rahim rakyat, ketoprak juga senantiasa tampil sebagai juru bicara berbagai persoalan rakyat. Ketoprak tak pernah jauh dari realitas sosial massa-rakyat.
3.      Makna
Nama “ketoprak” terkait dengan alat musik kentongan yang digunakan untuk mengumpulkan penonton sebelum pertunjukan dimulai. Dalam bahasa Jawa, memukul kentongan disebut “keprak” dan pertunjukan yang dilakukan setelah kentongan di-keprak disebut “ketoprak”.

Kethoprak adalah seni pertunjukan teater atau drama yang sederhana yang meliputi unsur tradisi jawa, baik struktur lakon, dialog, busana rias, maupun bunyi-bunyian musik tradisional yang dipertunjukan oleh rakyat






6.    Sistem Mata Pencaharian
Konveksi Jeans
Kabupaten Pekalongan dengan Ibukotanya Kajen memiliki beberapa Potensi unggulan daerah yang diharapkan memiliki daya saing dan keunikan tertentu, yang membedakan dengan daerah lain. Potensi terhadap produk unggulan daerah diandalkan melalui sektor pertanian, industri dan pariwisata.
Pekalongan merupakan salah satu kabupaten yang memiliki jumlah industri kecil dan mikro cukup banyak. Dari banyaknya industri tersebut, sebagian besar merupakan industri batik dan industri celana jeans.
Untuk industri batik mungkin sudah cukup banyak yang mengenal. Bagaimana tidak, kabupaten Pekalongan telah lama dikenal sebagai salah satu sentra batik di Indonesia. Namun, tahukah anda bahwa di kabupaten Pekalongan ini ternyata juga terdapat banyak sekali industri kecil konveksi jeans. Mungkin tidak semua dari kita mengetahuinya. Pada kenyataannya industri jeans di kabupaten Pekalongan merupakan salah satu industri yang cukup besar disini. Jumlah warga yang bermata pencaharian sebagai pemilik industri jeans baik itu sebagai pemasok bahan, pencucian jeans, maupun konveksi jeans jumlahnya hampir setara dengan warga yang bermata pencaharian sebagai pemilik industri batik. Hal sama berlaku juga di wilayah desa Ambokembang, yang merupakan salah desa yang berada di wilayah kabupaten Pekalongan. Cukup banyak warga desa ini yang memiliki konveksi jeans rumahan.
Dengan banyaknya industri jeans di wilayah ini, maka tak heran harga jeans disini cenderung lebih murah jika dibandingkan harga jeans di daerah lain. Walau harganya cenderung lebih murah, tapi kualitas jeans dari kabupaten Pekalongan ini tidak kalah dari jeans buatan konveksi mahal lainnya. Ada beberapa industri jeans yang sudah cukup besar di desa Ambokembang ini. Bahkan beberapa ada yang sudah memiliki merk dagang sendiri. Selain itu jeans-jeans ini tidak hanya dipasarkan di wilayah Ambokembang saja. Jeans-jeans tersebut sudah mulai dipasarkan di berbagai kota di seluruh Indonesia.
Merupakan kebanggaan dengan ditetapkannya produk-produk unggulan tersebut diharapkan dapat memacu pelaku ekonomi daerah dalam mengembangkan kreativitas dan usahanya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Kabupaten


Analisis
1.      Bentuk
Pekalongan merupakan salah satu kabupaten yang memiliki jumlah industri kecil dan mikro cukup banyak. Pekalongan telah lama dikenal sebagai salah satu sentra batik di Indonesia. Namun, tahukah anda bahwa di kabupaten Pekalongan ini ternyata juga terdapat banyak sekali industri kecil konveksi jeans.  Pada kenyataannya industri jeans di kabupaten Pekalongan merupakan salah satu industri yang cukup besar.
Jumlah warga yang bermata pencaharian sebagai pemilik industri jeans baik itu sebagai pemasok bahan, pencucian jeans, maupun konveksi jeans jumlahnya hampir setara dengan warga yang bermata pencaharian sebagai pemilik industri batik.
2.      Fungsi
Dalam konveksi jeans tersebut  barang yang telah jadi akan dipasarkan di berbagai kota di seluruh Indonesia dengan kualitas jeans yang tidak kalah dari jeans buatan konveksi mahal lainnya
Dan dengan ditetapkan sebagai produk-produk unggulan di Pekalongan maka diharapkan dapat memacu pelaku ekonomi daerah dalam mengembangkan kreativitas dan usahanya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Kabupaten tersebut.
3.      Makna
Konveksi jeans tersebut sebagai potensi unggulan daerah, sehingga diharapkan memiliki daya saing dan keunikan tertentu, yang membedakan dengan daerah lain.


7.    Sistem Teknologi dan Peralatan
Alat Tenun Bukan Mesin
Bila sebelumnya kita mengenal Pekalongan sebagai salah satu sentra penghail kerajinan batik, maka sekarang ini kretivitas masyarakat setempat mulai meningkat sehingga tercipta berbagai macam jenis kerajinan tenun.
Dalam kerajinan kain tenun ada yang menarik, yaitu kain tenun ikat diproduksi secara manual, yaitu ditenun dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Tentu saja sebuah kekaguman tersendiri bagi para pengrajin kain ikat ini, karena keuletan mereka dalam menenun benang.
Kota Pekalongan identik dengan batik, yang mempunyai produk unggulan berupa kain tenun yang dibuat secara tradisional menggunakan alat ATBM. Selain menghasilkan kain tenun para perajin juga membuat beragam produk kerajinan interior seperti korden, taplak meja, karpet dan keset. Juga membuat handuk dan kain ihram. Bagi masyarakat Pekalongan produk ini merupakan andalan industri rumah tangga. Hasil dari kain tenun ikat itu sangat unik dan istimewa karena betapa rumitnya proses pembuatan kain tenun ini yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan perajin dalam menganyam benang sehingga menghasilkan selembar kain dalam kurun waktu yang sngat lama.
Selain kerajinan tenu yang berupa kain terdapat juga kerajinan tenun yang memanfaatkan bahan baku alami yaitu berbahan enceng gondok, akar wangi dan juga mendong. Dan hampir setiap warga memiliki mata pencaharian sebagai pengrajin tenun enceng gondok dan dari bahan alami lainnya.
Bahan enceng gondok, akar wangi dan mendong diolah warga dengan cara ditenun menggunakan ATBM juga. Hasil tenunan setengah jadi yang masih berupa  lembaran itu biasanya dijual kepada para konsumen yang rata-rata adalah produsen kerajinan natural di berbagai daerah yang kemudian membentuknya menjai beragam jenis produk kerajinan siap pakai seperti kerajianan interior dan hiasan dinding.
Awalnya para pengrjin bukan menenun enceng gondok ataupun bahan alami yang lainnya melainkan menenun kain dari  bahan benang. Baru kemudian masyarakat tertarik untuk beralih memproduksi kerajinan dari bahan baku alami lantaran kalah bersaing dengan perusahaan kain yang ditenun dengan menggunakan mesin dan untuk memanfaatkan bahan baku alami yang mudah didapatkan.
Dari satu unit alat tenun pengrajin bisa menenun kerajinan sepanjang 10 meter dengan bendrol harga 10.000,00 per meter. Sedangkan untuk hasil tenun akar wngi dihargai 15.000,00 per meter.
Meskipun sentra kerajinan tenun bahan alami ini letaknya cukup jauh dari perkotaan, namun popularitas desanya mulai dikenal masyarakat luas diluar daerah. Bahkan seiring dengan meningkatnya permintaan, sekarang ini kerajinan tenun tersebut menjadi salah satu potensi bisnis KabupatenPekalongan yang produknya sudah  melanglang buwana  hingga Jakarta, Bali, dan Malang bahkan menembus pasar ekspor seperti ke Negara Jepang dan Korea Selatan.
Melihat peluang pasarnya masih sangat besar, tidak  menutup kemungkinan bila sentra kerajinan tenun ini bisa berkembang dengan pesat dan menjadi salah satu kawasan Wiisata Industri yang bisa membangkitkan perekonomian masyarakat setempat.


Analisis
1.      Bentuk
Pekalongan sebagai salah satu sentra penghail kerajinan batik, maka sekarang ini kretivitas masyarakat setempat mulai meningkat sehingga tercipta berbagai macam jenis kerajinan tenun.
Dalam kerajinan kain tenun ada yang menarik, yaitu kain tenun ikat diproduksi secara manual, yaitu ditenun dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Tentu saja sebuah kekaguman tersendiri bagi para pengrajin kain ikat ini, karena keuletan mereka dalam menenun benang.
Selain kerajinan tenu yang berupa kain terdapat juga kerajinan tenun yang memanfaatkan bahan baku alami yaitu berbahan enceng gondok, akar wangi dan juga mendong. Dan hampir setiap warga memiliki mata pencaharian sebagai pengrajin tenun enceng gondok dan dari bahan alami lainnya.
2.      Fungsi
Hasil tenunan setengah jadi yang masih berupa  lembaran itu biasanya dijual kepada para konsumen yang rata-rata adalah produsen kerajinan natural di berbagai daerah yang kemudian membentuknya menjai beragam jenis produk kerajinan siap pakai.
Melihat dan memanfaatkan peluang pasarnya masih sangat besar, sehingga tidak  menutup kemungkinan bila sentra kerajinan tenun ini bisa berkembang dengan pesat dan menjadi salah satu kawasan Wiisata Industri yang bisa membangkitkan perekonomian masyarakat setempat.
3.      Makna
Awalnya para pengrjin bukan menenun enceng gondok ataupun bahan alami yang lainnya melainkan menenun kain dari  bahan benang. Baru kemudian masyarakat tertarik untuk beralih memproduksi kerajinan dari bahan baku alami lantaran kalah bersaing dengan perusahaan kain yang ditenun dengan menggunakan mesin dan untuk memanfaatkan bahan baku alami yang mudah didapatkan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar