MACAM-MACAM
TARIAN di JAWA TENGAH (JATENG)
SEJARAH TARI DI INDONESIA
1.
Zaman Prasejarah
Zaman prasejarah adalah zaman sebelum lahirnya kerajaan di Indonesia. Entuk dan wujud tariannya cenderung menirukan gerak alam lingkungannya yang bersifat imiatatif. Sebagai contoh menirukan binatang yang akan diburu, pemujaan dan penyembuhan penyakit
Zaman prasejarah adalah zaman sebelum lahirnya kerajaan di Indonesia. Entuk dan wujud tariannya cenderung menirukan gerak alam lingkungannya yang bersifat imiatatif. Sebagai contoh menirukan binatang yang akan diburu, pemujaan dan penyembuhan penyakit
2.
Zaman Indonesia Hindu
Pada zaman Indonesia hindu, seni tari mulai digarap dan banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dar India. Beberapa jenis tari pada zaman Indonesia hindu seperi tari-tarian adat dan keagamaan berhasil disempurnakan menjadi tarian klasik yang beratistik tinggi. Sebagai contoh wayang wong, wayang topeng.
Pada zaman Indonesia hindu, seni tari mulai digarap dan banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dar India. Beberapa jenis tari pada zaman Indonesia hindu seperi tari-tarian adat dan keagamaan berhasil disempurnakan menjadi tarian klasik yang beratistik tinggi. Sebagai contoh wayang wong, wayang topeng.
3.
Zaman Indonesia Islam
Pada zaman Indonesia islam, seni mengalami keyaan penggarapannya kebanyakan di keraton yaitu kasutanan dan kesultanan. Kedua kerajaan tersebut mengembangkan identitasnya yang akhirnya menjadi 2 jenis tari yaitu kasunanan dan kasultanan.
Pada zaman Indonesia islam, seni mengalami keyaan penggarapannya kebanyakan di keraton yaitu kasutanan dan kesultanan. Kedua kerajaan tersebut mengembangkan identitasnya yang akhirnya menjadi 2 jenis tari yaitu kasunanan dan kasultanan.
4.
Zamn Penjajahan
Pada zaman penjajahan, tari-tarian mengalami kesuraman sebab berada dalam suasana peperangan dan penjajahan.
Pada zaman penjajahan, tari-tarian mengalami kesuraman sebab berada dalam suasana peperangan dan penjajahan.
5.
Zaman Setelah Merdeka
Sampai Sekarang
Setelah merdeka, peran tari mulai difungskikan untuk keagamaan ataupun sebagai hiburan dan muncul banyak kreasi-kreasi baru ataupun inovasi terhadap seni tari klasik.
Setelah merdeka, peran tari mulai difungskikan untuk keagamaan ataupun sebagai hiburan dan muncul banyak kreasi-kreasi baru ataupun inovasi terhadap seni tari klasik.
Di dalam seni tari
yang ada di Jawa Tengah terdapat 3 Jenis tari yaitu :
1.
Tari Klasik
a)
Tari Bedhaya
Tarian ini bertemakan percintaan. Tari Bedhaya mengalami masa kejayaan pada abad ke 18 pada masa kekuasaan PB II, PB III, PB IV, dan PB VIII Artinya pada masa-masa itulah banyak diciptakan tarian Bedhaya (G.R. Ay. Koes Indriyah dalam David t.t.: 59-60). Dari sekian banyak gendhing Bedhaya hanya tinggal Gendhing yang masih dapat diketahui tarian diantaranya Bedhoyo Durudasih, Bedhaya Pangkur, Bedhaya Tejanata. Bedhaya Endhol-endhol, Bedhaya Sukaharja, Bedhaya Kaduk Manis, Bedhaya Sinom, Bedhayo Kabor, Bedhaya Gambir Sawit dan Bedhaya Ketawang.
Tarian ini bertemakan percintaan. Tari Bedhaya mengalami masa kejayaan pada abad ke 18 pada masa kekuasaan PB II, PB III, PB IV, dan PB VIII Artinya pada masa-masa itulah banyak diciptakan tarian Bedhaya (G.R. Ay. Koes Indriyah dalam David t.t.: 59-60). Dari sekian banyak gendhing Bedhaya hanya tinggal Gendhing yang masih dapat diketahui tarian diantaranya Bedhoyo Durudasih, Bedhaya Pangkur, Bedhaya Tejanata. Bedhaya Endhol-endhol, Bedhaya Sukaharja, Bedhaya Kaduk Manis, Bedhaya Sinom, Bedhayo Kabor, Bedhaya Gambir Sawit dan Bedhaya Ketawang.
Banyak tari Bedhaya yang hilang atau tidak
tergali, disebabkan adanya larangan dari pihak kraton Surakarta bahwa tari dan
karawitan milik kraton tidak diperbolehkan untuk dipelajari secara privat atau
ditulis (didiskripsikan). Bila menginginkan belajar harus di dalam kraton, di
samping itu ada peraturan yang membatasi bahwa yang boleh belajar tari hanyalah
wanita yang belum menikah. Dengan demikian dapat dimaklumi jika jarang penari
dapat mendalami tarian dengan sungguh-sungguh (G.R. Ay. Moertiyah, Wawancara:
September 1997).
Diantara 11 bentuk tari Bedhaya yang
dianggap paling tua adalah Bedhaya Ketawang. Tari Bedhaya Ketawang sampai sekarang
disakralkan bagi pihak kraton Surakarta, disajikan hanya untuk rangkaian
upacara Jumenengan Tinggalan Dalem di kraton. Bagi kraton Surakarta tari
Bedhaya Ketawang merupakan salah satu pusaka, sehingga jika disajikan sebagai
pertunjukan diberlakukan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi. Namun
demikian tidak berarti semua tari Bedhaya bersifat sakral dan tertutup bagi
masyarakat umum, maka diciptakanlah tari-tari Bedhaya lain yang sifatnya hanya
untuk sesuka atau untuk kepuasan batin, untuk hiburan raja, yang mana cakepan
sindenannya kebanyakan menggambarkan kehidupan raja semata (G.R. Ay. Moertiyah,
Wamancara: September 1997). Menurut Gusti Puger bahwa tari di samping sebagai
hiburan juga sebagai ungkapan rasa syukur menyambut kelahiran seorang anak dan
juga bisa digunakan untuk penyambutan tamu.
Keberadaan tari-tari di lingkungan kraton pengelolaannya dilakukan oleh beberapa kelompok abdi dalem putri yang dibawahi oleh Pengageng Parentah Keputren, diantaranya adalah kelompok abdi dalem Bedhaya. Kelompok abdi dalem Bedhaya memiliki tugas pokok sebagai penari Bedhaya, di sampik menari juga membantu segala pekerjaan yang ada di keputren termasuk menjaga keamanan, untuk itu kelompok abdi dalem Bedhaya juga dilatih beta diri.
Keberadaan tari-tari di lingkungan kraton pengelolaannya dilakukan oleh beberapa kelompok abdi dalem putri yang dibawahi oleh Pengageng Parentah Keputren, diantaranya adalah kelompok abdi dalem Bedhaya. Kelompok abdi dalem Bedhaya memiliki tugas pokok sebagai penari Bedhaya, di sampik menari juga membantu segala pekerjaan yang ada di keputren termasuk menjaga keamanan, untuk itu kelompok abdi dalem Bedhaya juga dilatih beta diri.
Sekitar tahun 1970-an, pada masa PB XII,
Kanjeng Susuhunan Pakubuwana mengijinkan tari Bedhaya dipelajari oleh
masyarakat di luar kraton, yang memanfaatkan kesempatan pertama kali Ketika itu
adalah ASKI/PKJT sebagai salah satu lembaga pendidikan dan lembaga budaya yang
berkedudukan di Sasana Mulyo Baluwarti. Mulai saat itulah penari niyaga dan
pengeprak kraton diperbolehkan berbaur latihan dengan penari niyaga dan
pengeprak dari luar kraton. Akhirnya hingga sekarang tari Bedhaya dapat
dipelajari dan disajikan di luar tembok kraton. (G.R. Ay. Moertiyah, Wawancara:
Oktober 1997).
Gerak Tari : sembilan orang penari dengan menggunakan tata busana dan rias wajah serta tata rambut yang sama. Masing-masing penari membawakan peran dengan nama yang berbeda-beda, yaitu: Batak, Gulu, Dhadha, Endhel Weton, Endhel Ajeg, Apit Meneng, Apit Wingking, Apit Ngajeng, Bancit. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa yang dinamakan Bedhaya yaitu rakitan penari sembilan orang yang diatur secara rytmische figures dan standen, masing-masing penari memiliki rol sendiri-sendiri, yaitu endel, gulu, dada, batak, buntil, dan empat orang pengapit. Tari Bedhaya memiliki rhytme berbeda sekali yaitu lebih halus dan tenteram dalam gerakannya.
Jenis Instrumen : Kemanak, Kethuk, Kenong, Kendhang, gong
(gemelan laras pelog, tanpa keprak).
Gerak Tari : sembilan orang penari dengan menggunakan tata busana dan rias wajah serta tata rambut yang sama. Masing-masing penari membawakan peran dengan nama yang berbeda-beda, yaitu: Batak, Gulu, Dhadha, Endhel Weton, Endhel Ajeg, Apit Meneng, Apit Wingking, Apit Ngajeng, Bancit. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa yang dinamakan Bedhaya yaitu rakitan penari sembilan orang yang diatur secara rytmische figures dan standen, masing-masing penari memiliki rol sendiri-sendiri, yaitu endel, gulu, dada, batak, buntil, dan empat orang pengapit. Tari Bedhaya memiliki rhytme berbeda sekali yaitu lebih halus dan tenteram dalam gerakannya.
Jenis Instrumen : Kemanak, Kethuk, Kenong, Kendhang, gong
(gemelan laras pelog, tanpa keprak).
b)
Tari Gambyong
Tari Gambyong merupakan suatu tarian yang
disajikan untuk menyambut tamu atau mengawali suatu resepsi perkawinan. Ciri
khas, selalu dibuka dengan gendhing Pangkur. Tariannya terlihat indah dan elok
apabila si penari mampu menyelaraskan gerak dengan irama kendang dan gending.
Instrumen : gender, kendang, kenong,
kempul, dan gong
Perkembangan : Awal mula istilah Gambying
tampaknya berawal dari nama seorang penari taledhek. Penari yang bernama
Gambyong ini hidup pada zaman Sunan Paku Buwana IV di Surakarta.
Penari ini juga dsiebutkan dalam buku “Cariyos Lelampahanipun” karya Suwargi R.Ng. Ronggowarsito (1803-1873) yang mengungkapkan adanya penari ledhek yang bernama Gambyong yang memiliki kemnahiran dalam menari dan kemerduan dalam suara sehingga menjadi pujaan kaum muda pada zaman itu.
Penari ini juga dsiebutkan dalam buku “Cariyos Lelampahanipun” karya Suwargi R.Ng. Ronggowarsito (1803-1873) yang mengungkapkan adanya penari ledhek yang bernama Gambyong yang memiliki kemnahiran dalam menari dan kemerduan dalam suara sehingga menjadi pujaan kaum muda pada zaman itu.
Gerak tari
Koreografi tari Gambyong sebagian besar berpusat pada penggunaan gerak kaki, tubuh, lengan
dan kepala. Gerak kepala dan tangan yang halus dan terkendali merupakan spesifikasi dalam tari Gambyong. Arah pandangan mata yang bergerak mengikuti arah gerak tangan dengan memandang jari-jari tangan ,menjadikan faktor dominan gerak-gerak tangan dalam ekspresi tari Gambyong. Gerak kaki pada saat sikap beridiri dan berjalan mempunyai korelasi yang harmonis. Sebagai contoh , pada gerak srisig (berdiri dengan jinjit dan langkah-langkah kecil),
nacah miring (kaki kiri bergerak ke samping, bergantian atau disusul kaki kanan diletakkan di depan kaki kiri, kengser (gerak kaki ke samping dengan cara bergeser/posisi telapak kaki tetap merapat ke lanati). Gerak kaki yang spsifik pada tari Gambyong adalah gerak embat atau entrag, yaitu posisi lutut yang membuka karena mendhak bergerak ke bawah dan ke atas. Penggarapan pola lantai pada tari Gambyong dilakukan pada peralihan rangklaian gerak, yaitu pada saat transisi rangkaian gerak satu dengan rangkaian gerak berikutnya. Sedangkan perpindahan posisi penari biasanya dilakukan pada gerak penghubung, yaitu srisig, singket ukel karana, kengser, dan nacah miring. Selain itu dilakukan pada rangkaian gerak berjalan
(sekaran mlaku) ataupun gerak di tempat (sekaran mandheg).
Koreografi tari Gambyong sebagian besar berpusat pada penggunaan gerak kaki, tubuh, lengan
dan kepala. Gerak kepala dan tangan yang halus dan terkendali merupakan spesifikasi dalam tari Gambyong. Arah pandangan mata yang bergerak mengikuti arah gerak tangan dengan memandang jari-jari tangan ,menjadikan faktor dominan gerak-gerak tangan dalam ekspresi tari Gambyong. Gerak kaki pada saat sikap beridiri dan berjalan mempunyai korelasi yang harmonis. Sebagai contoh , pada gerak srisig (berdiri dengan jinjit dan langkah-langkah kecil),
nacah miring (kaki kiri bergerak ke samping, bergantian atau disusul kaki kanan diletakkan di depan kaki kiri, kengser (gerak kaki ke samping dengan cara bergeser/posisi telapak kaki tetap merapat ke lanati). Gerak kaki yang spsifik pada tari Gambyong adalah gerak embat atau entrag, yaitu posisi lutut yang membuka karena mendhak bergerak ke bawah dan ke atas. Penggarapan pola lantai pada tari Gambyong dilakukan pada peralihan rangklaian gerak, yaitu pada saat transisi rangkaian gerak satu dengan rangkaian gerak berikutnya. Sedangkan perpindahan posisi penari biasanya dilakukan pada gerak penghubung, yaitu srisig, singket ukel karana, kengser, dan nacah miring. Selain itu dilakukan pada rangkaian gerak berjalan
(sekaran mlaku) ataupun gerak di tempat (sekaran mandheg).
c. Tari Bondan
Tari Bondan adalah tari yang berasal dari
Surakarta, Jawa Tengah. seorang anak wanita dengan menggendong boneka mainan
dan payung terbuka, menari dengan hati-hati di atas kendi yang diinjak dan
tidak boleh pecah. Tarian ini melambangkan seorang ibu yang menjaga
anak-anaknya dengan hati-hati.
Tari ini dibagi menjadi 3, yaitu Bondan
Cindogo, Bondan Mardisiwi, dan Bondan Pegunungan/ Tani. Tari Bondan Cindogo dan
Mardisiwi melambangkan seorang ibu yang menjaga anaknya yang baru lahir dengan
hati-hati dan dengan rasa kasih sayang . Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak
yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak,
serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan
Cindogo.
Di tahun 1960an, Tari Bondan adalah tari
unggulan atau tari wajib bagi perempuan-perempuan cantik untuk menunjukkan
siapa jati dirinya. Hampir semua penari Tari Bondan adalah kembang kampung.
Tari Bondan ini juga paling sulit ditarikan karena sambil menggendong boneka,
si penari harus siap-siap naik di atas kendi yang berputar sambil
memutar-mutarkan payung kertasnya. Penari Tari Bondan biasanya menampilkan Tari
Bondan Cindogo dan Mardisiwi memakai kain Wiron, memakai Jamang, baju kutang,
memakai sanggul, menggendong boneka, memanggul payung, dan membawa kendhi.
Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Sedangkan
Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang
asyik menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu
dolanan tapi sekarang diiringi gendhing.
Ciri tarian :yaitu mengenakan pakaian
seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping dan membawa alat
pertanian. Bentuk tariannya pertama melukiskan kehidupan petani kemudian
pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu
dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo
atau Mardisiwi.
c. Tari Serimpi :
Tarian Serimpi merupakan tarian bernuansa
mistik yang berasal dari Yogyakarta. Tarian ini diiringi oleh gamelan Jawa.
Tarian ini dimainkan oleh empat orang penari wanita. Gerakan tangan yang lambat dan gemulai, merupakan ciri khas dari tarian Serimpi. Tarian srimpi sangopati karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Srimpi sangopati kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Tarian ini melambangkan bekal untuk kematian (dari arti Sangopati) diperuntukan kepada Belanda.
Tarian ini dimainkan oleh empat orang penari wanita. Gerakan tangan yang lambat dan gemulai, merupakan ciri khas dari tarian Serimpi. Tarian srimpi sangopati karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Srimpi sangopati kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Tarian ini melambangkan bekal untuk kematian (dari arti Sangopati) diperuntukan kepada Belanda.
Tarian yang ditarikan 4 putri itu
masing-masing mendapat sebutan : air, api, angin dan bumi/tanah, yang selain
melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin.
Sedang nama peranannya Batak, Gulu, Dhada dan Buncit. Komposisinya segi empat
yang melambangkan tiang Pendopo. Seperti Bedhaya, tari Srimpipun ada yang suci
atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Juga karena lamanya penyajian (60
menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi. Contoh Srimpi hasil
garapan baru :
~Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit
~Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit
~Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit
~Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit
d.
Tari Beksan Wireng
Beksan Wireng : berasal dari kata Wira
(perwira) dan ‘Aeng’ yaitu prajurit yang unggul, yang ‘aeng’, yang ‘linuwih’.
Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar
para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat
senjata perang. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan
perang dengan menggunakan alat perang.
Ciri-ciri tarian ini :
·
Ditarikan oleh dua orang
putra/i
·
Bentuk tariannya sama
·
Tidak mengambil suatu cerita
·
Tidak menggunakan ontowacono
(dialog)
·
Bentuk pakaiannya sama
·
Perangnya tanding, artinya
tidak menggunakan gending
sampak/srepeg, hanya iramanya/temponya kendho/kenceng
sampak/srepeg, hanya iramanya/temponya kendho/kenceng
·
Gending satu atau dua,
artinya gendhing ladrang kemudian
diteruskan gendhing ketawang
diteruskan gendhing ketawang
·
Tidak ada yang kalah/menang
atau mati.
2.
Tari Tradisional
a)
Kuda Lumping :
Tema : berisi unsur hiburan, religi, unsur
ritual.
Kuda Lumping adalah seni tari yang
dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu
atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian
ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi
berikutnya.
Konon, tari Kuda Lumping merupakan bentuk
apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran
Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan,
bahwa tari Kuda Lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang
dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan
bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang
dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan
Belanda.
Terlepas dari asal usul dan nilai
historisnya, tari Kuda Lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek
kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari
gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu,
menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan. Seringkali dalam
pertunjukan tari Kuda Lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan
kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat
lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan
lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada
jaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non
militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.Sajak-sajak
yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar
manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang
Pencipta.
Gerak tari : Dalam setiap pagelarannya,
tari Kuda Lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto
Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri.
Pada fragmen Buto Lawas, biasanya
ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari.
Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan
musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan
atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan
ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut
menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari
dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.
Untuk memulihkan kesadaran para penari dan
penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para datuk, yaitu
orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali
melalui baju serba hitam yang dikenakannya. Para datuk ini akan memberikan penawar
hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.
Pada fragmen selanjutnya, penari pria dan
wanita bergabung membawakan tari senterewe.
Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari Kuda Lumping.
Jenis Instrument : Kendang, Kenong, Gong, dan Slompret.
Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari Kuda Lumping.
Jenis Instrument : Kendang, Kenong, Gong, dan Slompret.
b. Jathilan :
Jatilan adalah salah satu jenis tarian
rakyat yang bila ditelusur latar belakang sejarahnya termasuk tarian yang
paling tua di Jawa. Tari yang selalu dilengkapi dengan property berupa kuda
kepang ini lazimnya dipertunjukkan sampai klimaksnya, yaitu keadaan tidak sadar
diri pada salah seorang penarinya.
Penari jatilan dahulu hanya berjumlah 2
orang tetapi sekarang bisa dilakukan oleh lebih banyak orang lagi dalam formasi
yang berpasangan. Tarian jatilan menggambarkan peperangan dengan naik kuda dan
bersenjatakan pedang.
Selain penari berkuda, ada juga penari yang tidak berkuda tetapi memakai topeng.Di antaranya adalah penthul, bejer, cepet, gendruwo dan barongan.
Selain penari berkuda, ada juga penari yang tidak berkuda tetapi memakai topeng.Di antaranya adalah penthul, bejer, cepet, gendruwo dan barongan.
Reog dan jatilan ini fungsinya hanya
sebagai tontonan/hiburan, ini agak berbeda dengan fungsi reog pada zaman dahulu
yang selain untuk tontonan juga berfungsi sebagai pengawal yang memeriahkan
iring-iringan temanten atau anak yang dikhitan serta untuk kepentingan pelepas
nadzar atau midhang kepasar.
Anggota penari : Terdapat sekitar 35 orang
dan terdiri dari laki-laki dengan perincian: penari 20 orang; penabuh instrumen
10 orang; 4 orang penjaga keamanan/ pembantu umum untuk kalau ada pemain yang
mengalami trance; dan 1 orang sebagai koordinator pertunjukan (pawang).
Para penari menggunakan property pedang
yang dibuat dari bambu dan menunggang kuda lumping.
Di antara para penari ada yang memakai topeng hitam dan putih, bernama Bancak (Penthul) untuk yang putih, dan Doyok (Bejer/Tembem) untuk yang hitam. Kedua tokoh ini berfungsi sebagai pelawak, penari dan penyanyi untuk menghibur prajurit berkuda yang sedang beristirahat sesudah perang-perangan.
Ketika menari para pemain mengenakan kostum dan tata rias muka yang realistis. Ada juga group yang kostumnya non-realistis terutama pada tutup kepala; karena group ini memakai irah-irahan wayang orang. Pada kostum yang realistis, tutup kepala berupa blangkon atau iket (udeng) dan para pemain berkacamata gelap, umumnya hitam. Selama itu ada juga baju/kaos rompi, celana panji, kain, dan stagen dengan timangnya.
Di antara para penari ada yang memakai topeng hitam dan putih, bernama Bancak (Penthul) untuk yang putih, dan Doyok (Bejer/Tembem) untuk yang hitam. Kedua tokoh ini berfungsi sebagai pelawak, penari dan penyanyi untuk menghibur prajurit berkuda yang sedang beristirahat sesudah perang-perangan.
Ketika menari para pemain mengenakan kostum dan tata rias muka yang realistis. Ada juga group yang kostumnya non-realistis terutama pada tutup kepala; karena group ini memakai irah-irahan wayang orang. Pada kostum yang realistis, tutup kepala berupa blangkon atau iket (udeng) dan para pemain berkacamata gelap, umumnya hitam. Selama itu ada juga baju/kaos rompi, celana panji, kain, dan stagen dengan timangnya.
Puncak tarian Jatilan ini kadang-kadang
diikuti dengan keadaan mencapai trance (tak sadarkan diri tetapi tetap
menari) pada para pemainnya. Sebelum
pertunjukan Jatilan dimulai biasanya ada pra-tontonan berupa tetabuhan dan
kadang-kadang berupa dagelan/ lawakan. Kini keduanya sudah jarang sekali
ditemui.
Pertunjukan ini bisa dilakukan pada malam
hari, tetapi umumnya diadakan pada siang hari. Pertunjukan akan berlangsung
selama satu hari apabila pertunjukannya memerlukan waktu 2 jam per babaknya,
dan pertunjukan ini terdiri dari 3 babak.
Bagi group yang untuk 1 babak memerlukan waktu 3 jam maka dalam sehari
dia hanya akan main 2 babak. Pada umumnya permainan ini berlangsung dari jam
09.00 sampai jam 17.00, termasuk waktu istirahat. Jika pertunjukan berlangsung
pada malam hari, maka pertunjukan akan dimulai pada jam 20.00 dan berakhir pada
jam 01.00 dengan menggunakan lampu petromak. Tempat pertunjukan berbentuk arena
dengan lantai berupa lingkaran dan lurus.
Instrumen : kendang, bendhe, gong, gender, saron, kepyak
Instrumen : kendang, bendhe, gong, gender, saron, kepyak
c.
Kethek Ogleng :
Kethek Ogleng merupakan salah satu bentuk
kesenian rakyat yang masih berkembang dengan bentuk yang beragam di Kabupaten
Wonogiri Jawa Tengah. kisahnya menceritakan seekor kera jelmaan raden gunung
sari dalam cerita panji dalam upaya mencari dewi sekartaji yang menghilang dari
istana.untuk mengelabuhi penduduk agar
bebas keluar masuk desa dan hutan,maka raden gunung sari menjelma jadi seekor kera
putih yang lincah dan lucu.
Tari Kethek Ogleng ini dalam
mengekspresikannya menggambarkan gerak-gerik sekelompok kera putih.dalam tarian ini terlintas ungkapan
kelincahan,kebersamaan,semangat,kelucuan dan atraktif. Iringannya menggunakan
instrumen gamelan jawa,alat perkusi tradisional dan penggaran olah vokal yang
tetap menghadirkan rasa dan nuansa kerakyatan.
Sekilas Cerita asal usul Kethek Ogleng :
Kethek Ogleng adalah sebuah tari yang gerakannya menirukan tingkah laku kethek (kera). Tarian ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi Kecamatan Nawangan bertahun-tahun lamanya. Biasanya tarian ini dipentaskan pada waktu hajatan masyarakat setempat. Tarian Kethek Ogleng ini berasal dari sebuah cerita Kerajaan Jenggala dan Kediri. Raja Jenggala mempunyai seorang putri bernama Dewi Sekartaji dan Kerajaan Kediri mempunyai seorang putra bernama Raden Panji Asmorobangun. Kedua insan ini saling mencintai dan bercita-cita ingin membangun kehidupan yang harmonis dalam sebuah keluarga. Hal ini membuat keduanya tidak dapat dipisahkan. Namun, raja Jenggala, ayahanda Dewi Sekartaji, mempunyai keinginan untuk menikahkan Dewi Sekartaji dengan pria pilihannya. Ketika Dewi Sekartaji tahu akan dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahandanya-yang tentunya tidak dia cintai, dia diam-diam meninggalkan Kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan sang ayahanda dan seluruh orang di kerajaan. Malam hari, sang putri berangkat bersama beberapa dayang menuju ke arah barat.
Kethek Ogleng adalah sebuah tari yang gerakannya menirukan tingkah laku kethek (kera). Tarian ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi Kecamatan Nawangan bertahun-tahun lamanya. Biasanya tarian ini dipentaskan pada waktu hajatan masyarakat setempat. Tarian Kethek Ogleng ini berasal dari sebuah cerita Kerajaan Jenggala dan Kediri. Raja Jenggala mempunyai seorang putri bernama Dewi Sekartaji dan Kerajaan Kediri mempunyai seorang putra bernama Raden Panji Asmorobangun. Kedua insan ini saling mencintai dan bercita-cita ingin membangun kehidupan yang harmonis dalam sebuah keluarga. Hal ini membuat keduanya tidak dapat dipisahkan. Namun, raja Jenggala, ayahanda Dewi Sekartaji, mempunyai keinginan untuk menikahkan Dewi Sekartaji dengan pria pilihannya. Ketika Dewi Sekartaji tahu akan dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahandanya-yang tentunya tidak dia cintai, dia diam-diam meninggalkan Kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan sang ayahanda dan seluruh orang di kerajaan. Malam hari, sang putri berangkat bersama beberapa dayang menuju ke arah barat.
Di Kerajaan Kediri, Panji Asmorobangun
yang mendengar berita menghilangnya Dewi Sekartaji memutuskan untuk nekad
mencari Dewi Sekartaji, sang kekasih. Di perjalanan, Panji Asmorobangun singgah
di rumah seorang pendeta. Di sana Panji diberi wejangan agar pergi ke arah
barat dan dia harus menyamar menjadi kera. Sedangkan di lain pihak, Dewi
Sekartaji ternyata telah menyamar menjadi Endang Rara Tompe. Setelah Endang
Rara Tompe naik turun gunung, akhirnya rombongan Endang Rara Tompe, yang
sebenarnya Dewi Sekartaji, beristirahat di suatu daerah dan memutuskan untuk
menetap di sana. Ternyata kethek penjelmaan Panji Amorobangun juga tinggal
tidak jauh dari pondok Endang Rara Tompe. Maka, bersahabatlah mereka berdua.
Meski tinggal berdekatan dan bersahabat, Endang Rara Tompe belum mengetahui
jika kethek yang menjadi sahabatnya adalah Panji Asmorobangun, sang kekasih,
begitu juga dengan Panji Asmorobangun, dia tidak mengetahui jika Endang Rara
Tompe adalah Dewi Sekartaji yang selama ini dia cari. Setelah persahabatan
antara Endang Rara Tompe dan kethek terjalin begitu kuatnya, mereka berdua
membuka rahasia masing-masing. Endang Rara Tompe merubah bentuknya menjadi Dewi
Sekartaji, begitu juga dengan kethek sahabat Endang Rara Tompe. Kethek tersebut
merubah dirinya menjadi Raden Panji Asmorobangun. Perjumpaan antara Dewi
Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun diliputi perasaan haru sekaligus
bahagia. Akhirnya, Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun sepakat kembali
ke kerajaan Jenggala untuk melangsungkan pernikahan.
d.
Sintren
Sintren adalah kesenian tari tradisional
masyarakat Jawa, khususnya di Pekalongan.
Sejarah : Kesenian Sintren berasal dari
kisah Sulandono sebagai putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi
Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa
Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki
Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi
penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung
melalui alam gaib. Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang
memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang
sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah
pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan
pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya,
dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam
keadaan suci (perawan).
Bentuk pertunjukan : Sintren diperankan
seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6
orang. Dalam perkembangannya tari sintren sebagai hiburan budaya, kemudian
dilengkapi dengan penari pendamping dan bodor (lawak).
Dalam permainan kesenian rakyat pun Dewi
Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, si pawang (dalang)
sering mengundang Roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bila,
roh Dewi Lanjar berhasil diundang, maka penari Sintren akan terlihat lebih
cantik dan membawakan tarian lebih lincah dan mempesona.
Instrumen : gamelan khas laras slendro
e.
Tari Jlantur
Sebuah tarian yang dimainkan oleh 40 orang
pria dengan memakai ikat kepala gaya turki. Tariannya dilakukan dengan menaiki
kuda kepang dengan senjata tombak dan pedang. Tarian ini menggambarkan prajurit
yang akan berangkat ke medan perang, dahulu merupakan tarian penyalur semangat
kepahlawanan dari keturunan prajurit Diponegoro.
3.
Tari Kreasi Baru
a)
Tari Prawiroguno
Tari ini menggambarkan seorang prajurit
yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata berupa pedang untuk
menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri.
b)
Tari Ronggeng
Asal : Jawa , Fungsi : Sebagai hiburan ,
Tema : Erotis Pencipta : Endang Caturwati
Tarian ronggeng memang berbeda dengan
tarian lainnya. Gerak tarian ronggeng lebih ekspresif bahkan mengarah ke
eksotis.
Goyang, geol, gitek adalah ciri khas tarian ronggeng. Dengan ciri khas inilah seni ronggeng menjadi identik sebagai seni yang mampu membuat kaum lelaki bangkit libidonya, sehingga akhirnya citra seni ronggeng menjadi sangat jelek.
Goyang, geol, gitek adalah ciri khas tarian ronggeng. Dengan ciri khas inilah seni ronggeng menjadi identik sebagai seni yang mampu membuat kaum lelaki bangkit libidonya, sehingga akhirnya citra seni ronggeng menjadi sangat jelek.
Tari ronggeng sebenarnya merupakan bagian
dari upacara untuk meminta kesuburan tanah. Upacara ini dilakukan supaya hasil
pertanian warga melimpah ruah. Karena terkait dengan kesuburan inilah, gerakan
dalam tarian dengan penari laki-laki yang disebut bajidor ini, mirip gerakan
orang yang sedang bercinta.
Pergeseran mulai terjadi di zaman kolonialis. Sejak era kolonial Portugis hingga Belanda dan Jepang, ronggeng dijadikan sebagai hiburan di daerah perkebunan. Tak hanya bagi pekerja perkebunan, Ronggeng merupakan hiburan bagi kaum penjajah saat itu. Walhasil, sejak saat itulah ronggeng tak lagi sekadar sebagai ritual adat. Sebagai hiburan, seni, ronggeng akhirnya lebih banyak bermuatan unsur erotis, mulai dari cara berpakaian penari, gaya tarinya, bahkan hingga perilaku di atas panggung yang lebih memancing birahi kaum adam.
Pergeseran mulai terjadi di zaman kolonialis. Sejak era kolonial Portugis hingga Belanda dan Jepang, ronggeng dijadikan sebagai hiburan di daerah perkebunan. Tak hanya bagi pekerja perkebunan, Ronggeng merupakan hiburan bagi kaum penjajah saat itu. Walhasil, sejak saat itulah ronggeng tak lagi sekadar sebagai ritual adat. Sebagai hiburan, seni, ronggeng akhirnya lebih banyak bermuatan unsur erotis, mulai dari cara berpakaian penari, gaya tarinya, bahkan hingga perilaku di atas panggung yang lebih memancing birahi kaum adam.
c)
Tari Kumbang
Tari ini menggambarkan sepasang kumbang
(jantan dan betina) sedang mengisap sari bunga di taman, berterbangan ke sana
ke mari sambil berkejar-kejaran. Kumbang jantan dan betina memadu kasih dengan
suasana romantis di taman bunga. Penonton yang menyaksikan akan diajak
berimajinasi dalam suasana romantis, bahwa antara laki dan perempuan.
d)
Tari Wira Pertiwi
Tarian ini merupakan kreasi baru ciptaan
Bagong Kussudiardjo yang menggambarkan sosok kepahlawanan seorang prajurit
putri Jawa. Ketegasan, ketangkasan dan ketangguhan seorang prajurit tergambar
dalam gerak yang dinamis.
e)
Tari Beksan Gatotkaca vs Suteja :
Asal : Yogyakarta.
Tema : Peperangan.
Latar belakang : Beksan Gatotkaca vs
Suteja merupakan bagian dari sebuah sajian wayang wong gaya Yogyakarta dalam kisah
Rebutan Kikis Tunggrana.
Isi : Dalam tarian ini, dikisahkan
perjuangan dari Gatotkaca maupun Suteja dalam mempertahankan batas wilayah
kekuasaannya yang berupa hutan, bernama Hutan Tunggrana. Akhirnya jalan
penyelesaian yang terpaksa dipilih adalah melakukan perang tanding. Keduanya
dikisahkan melakukan perang tanding dengan naik kendaraan berupa burung garuda.
Gerak : Gerak-gerak penari membentuk sudut
(tarian putra gagah). Perang yang terjadi berlangsung sengit sehingga lebih
menarik perhatian orang yang melihatnya.
Kostum : Pakainya tampil sederhana dengan
memperlihat-kan kekekaran diri penari
Iringan : Iringannnya cepat dan tegas
sehingga menimbulkan kesan gagah penarinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar