Selasa, 30 Desember 2014

Unsur Kebudayaan


HUBUNGAN CANDI BOROBUDUR DENGAN KEBUDAYAAN BUDHA

  Letak candi Borobudur
           Letak candi Borobudur diatas danau, ini dikemukakan oleh seorang seniman pada tahun 1931 bernama Nieuwenkamp. Pendapat itu didukung oleh penyelidikan di sekitar candi, yang antara lain menghasilkan pengetahuan bahwa nama-nama desa yang berawalan ”tanjung ” semuanya terletak di atas garis tinggi yang sama, yaitu 235 meter di atas permukaan laut. Apalagi Candi Pawon dan Candi Mendut yang letaknya berdekatan dengan Candi Borobudur juga terletak di atas garis tinggi itu. Berdasarkan bukti-bukti itu, Nieuwenkamp menduga kuat bahwa Dataran Kedu di bawah garis tinggi 235 meter dahulunya merupakan sebuah danau yang luas. Candi Borobudur ”mengapung” ditengahnya, sedangkan Candi Pawon dan Candi Mendut terletak di tepi danau. Akan tetapi, pendapat Nieuwenkamp tentang letak Borobudur di tengah danau itu, dianggap tidak masuk akal oleh Van Erp. Karena itu, pemugar Borobudur awal abad kedua puluh itu menentangnya dengan segala kemampuan. Pertentangan yang berlarut-larut itu telah mengundang para ahli lain untuk melakukan penyelidikan geologi di daerah sekitar candi. Untuk sementara, hasilnya dinilai dapat menguatkan pendapat Nieuwenkamp. Namun, luas danau di daerah pertemuan Sungai Progo dan Sungai Elo itu masih menjadi perdebatan tiada henti. Masih perlu bukti-bukti pendukung lain agar kesimpulannya mendekati kenyataan.
           Bukti lain itu, dapat dilihat nama-nama kampung atau desa di sekitar candi. Tidak jauh dari Candi Borobudur ada kampung bernama Bumi Segara, salah satu kampung di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Besar kemungkinan, kampung itu dinamakan Bumi Segara karena pada mulanya berwujud segara atau laut. Di pinggir kampung itu ada jalan, yang oleh masyarakat disebut Jalan Ngrawa. Kata bahasa Jawa ngrawa artinya ’tempatnya rawa’ atau ’ menjadi rawa’. Nama kampung dan jalan itu memberi petunjuk kuat bahwa sekitar Bororbudur memang rawa-rawa atau danau.
           Jika Borobudur benar-benar berada di tengah danau, alangkah indahnya. Borobudur merupakan karya seni dan teknologi yang spektakuler. Tentu banyak pengunjung yang berdecak kagum, terpesona, dan bahkan mungkin terkesima melihat keajaiban duinia itu.
           Sayang, keindahan itu tidak dapat dinikmati selamanya. Pada suatu hari, tiba-tiba saja Borobudur lenyap seketika. Letusan Gunung Merapi yang dahsyat telah memporakporandakan Jawa Tengah dan mengubur Borobudur. Menurut catatan para ahli gunung, letusan dahsyat itu terjadi tahun 1006. Beberapa abad kemudian terjadi lagi letusan dahsyat yang mengakibatkan Borobudur terpendam semakin dalam. Borobudur benar-benar hilang, baik wujud fisiknya maupun ceritanya. Tak ada yang mengabarkan Borobudur selama berabad-abad kemudian. Rupanya semua orang yang tahu tentang Borobudur waktu itu, juga ikut terkubur. Borobudur menjadi misteri berabad-abad.

a.      Pendiri candi Borobudur
           Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun.
           Sejarawan J. G . de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada tahun 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahuluan, Casparis memperkirakan bahwa Borobudur didirikan sekitar tahun 824 M oleh raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.
           Dari penjelasan diatas nyatalah bahwa para ahli sejarah masih berbeda pendapat mengenai kapan dimulai dan kapan selesainya pembangunan Borobudur. Tetapi, perbedaannya tidak terlalu jauh, yaitu semuanya sepakat bahwa Borobudur dibangun pada abad ke-9 Masehi. Proses pembangunannya memakan waktu antara setengah sampai satu abad, oleh seorang raja yang dilanjutkan oleh penggantinya.
Dalam hal ini Candi Borobudur merupakan contoh yang sangat menarik: bentuknya sebagai punden berundak-undak mewakili ciri khas bangunan yang diperuntukkan bagi pemujaan roh nenek moyang, dan susunannya yang diperjelas dengan ukiran-ukiran menggambarkan pandangan hidup agama Budha. Berapa lamanya Candi Borobudur itu menjalankan fungsinya sebagai  mercusuar kebesaran keluarga raja Syailendra dan ke-agungan agama Budha tidak diketahui dengan pasti. Yang diketahui hanyalah Borobudur itu’ terkubur’ material letusan Gunung Merapi diperkirakan tahun 1006 M.
b.      Bentuk candi Borobudur
           Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari sepuluh tingkat, yaitu: enam tingkat bebentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah dijadikan penahan. Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahyana. Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisatwa yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Budah.

 Hubungan candi Borobudur dengan kebudayaan agama Budha
            Borobudur difungsikan sebagai tempat ibadah umat beragama Budha. Salah satu ritual ibadah yang melibatkan ribuan umat adalah perayaan Hari Raya Waisyak.
            Hari Raya Waisyak merupakan Hari suci Agama Budha. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Saga dawa di Tibet, Vesak di Mlaysia, dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di SriLanka. Nama itu diambil dari bahasa pali Wesakha, yang juga terkait dengan kata dari bahasa Sansekerta Waishaka. Dalam sistem penanggalan India Kuna, Waisak adalah nama salah satu bukan.
            Hari Raya Waisak dirayakan pada bulan Mei (tahun biasa) atau Juni (tahun kabisat), ketika bulan berbentuk bulat penuh(purnama sidhi) untuk memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu sebagai berikut.
1.         Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 SM.
2.         Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Budha di Buddha-Gaya (Bodhgaya) dalam usia 35 tahun pada tahun 588SM, dan
Buddha Gautama mangkat di Kusinara dalam usia 80 tahun pada tahun 543 SM. Tiga peristiwa itu dinamakan ”Trisuci Waisak”. Trisuci Waisak  diputuskan dalam sidang pertama Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists) di Sri lanka pada tahun 1950.
            Perayaan Trisuci Waisak secara nasional dipusatkan di Kompleks Candi Borobudur (termasuk Candi Mendut dan Candi Pawon). Rangkaian acaranya, secara pokok sebagai berikut:
1.      Pengambilan air berkat dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung  dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan.
2.      Ritual”Pindatapa”, suatu ritual pemberian bahan makanan kepada para biksu oleh masyarakat (umat) untuk mengingatkan bahwa para biksu mengabdikan hidupnya hanya untuk berpuja bakti tanpa melakukan kegiatan yang berkaitan dengan mata pencarian atau pekerjaan.
3.      Semadi pada detik-detik puncak bulan purnama. Penentuan bulan purnama ini adalah berdasarkan perhitungan falak, sehingga puncak purnama dapat terjadi pada siang

Dalam agam budha ritua dalam melakukan sembayang
      Dalam agama budha dalam melakukan solat pun berbeda – beda dengan agama yang lain ada ritual-riyual tersendiri. Tetapi dalam ajaran budha itu terlalu di siplin dalam melakukan walaupun agama yang lain juga disiplin dan melakuka salat pun hanya sau minggu sekali itu juga pada hari minggu saja. Dan menyembah patung itu menurut agamanya saat berati dan berguna karena agama budha patung itu bagaikan tuhannya. Dan dalam ucapara adat pun berbeda dalam melakukanya harus berjalan kaki mengelilingi candi ituharus kearah kanan, dan mengelilingi tubuh candi borobudur tersebut.
      Maka yang namanya agama itu sangat berbeda-beda dengan yang satu dan lainnya. Maka ambilah nilai positif dari agama yang di anutnya baik itu agama islam atau budha,katolik,kristin dan lain-lain.
Candi Borobudur merupakan candi peninggalan Agama Budha yang terletak di desa Borobudur, Kota Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur difungsikan sebagai tempat ibadah umat Budha. Setiap tahun umat Budha mengadakan perayaan Hari Raya Waisyak di candi Borobudur. Candi Borobudur merupakan peninggalan sejarah dengan peradaban yang tinggi perlu kita jaga kelestariannya karena bisa menjadi objek wisata yang menarik sehingga mendatangkan keuntungan bagi negara kita terutama yaitu bisa mendatangkan devisa. 

Sopan Santun


Sopan santun pergaulan dalam sistem kekerabatan di desa Gegerkunci

                Dalam hal menyelediki di desa  gegerkunci kecamatan songgom kabupaten brebes. Itu mengupas suatu sistem kekerabatan dalam suatu masyarakat, ada baiknya seorang penelitian juga memperhatikan adat sopan santun pergaulan di desa gegerkunci memang menentukan bagaimana orang seharusnya bersikap terhadap kerabatnya yang satu,  dan bagaimana terhadap kekerabatnya yang lain. Dan karena itu memang mengandung banyak bahan yang bisa menerangkan sistem kekerabatnya  pada umumnya dalam masyarakat yang bersangkutan.
Adapun bagaimana adat sopan santun pergaulan itu di jalankan dalam kenyataan. Mengenai pergaulan tiap kelas kerabat-kerabatnya dalam objek penelitian  saya sendiri itu tahapnya  sekarang sudah brbeda-beda sekali. 
Dalam masyarakat desa gegerkunci itu hampir semua desa, adat sopan santunnya tinggi yang menentukan bahwa kelakuan sekarang terhadap kerabat-kerabatnya yang amat tua itu harus bersifat  menghormati, baik dari tutur kata ataupun tingkah laku harus terjaga. Ada pula kerabat_kerabatnya yang dapat kita pergauli dengan sikap bebas. Dalam masyarakat di desa gegerkunci  itu adat yang menentukan kepada siapakah orang yang  harus bersikap hormat dan kepada siapakah orang yang bisa bersikap bebas.maka dari itu kekerabatan itu sangat penting untuk di lakukan, karena berhubungan sopan santun di desa saya sendri  itu kekerabatnya yang mengandung  hormat maupun kebebasan itu dapat meningkatkan kearah kedua ekstrim tersebut. Dalam masyarakat kecil di dunia, seorang sering terpaksa harus bergaul dengan kaum kekerabatnya secara sekali. Konflik dan ketegangan harus di hindari dengan  adat-adat yang ada di desa.  terutama  sopan santun yang  paling utama untuk melakukan pengenalan terlebih dahulu agar masyrakat berkerabatnya semakin hormanis dan lancar untuk menjalankan perkenalanyan dan paling pertama itu masyarakat harus percaya diri bahwa sopan santun yang di pakai dalam sistem kekerabatnya itu sangat tepat dan sangat bagus. Tetapi di zaman sekarang di desa  geger kunci  sistem kekerabatnya itu udah hampir semakin  jarang dipakai karena mengingat adanya jaman semakin modern. Tetapi ada nilai positif yang ada di desa gegerkunci  bahkan sekarang  semakin  lama semakin  banyak   dalam  masyarakat  desa  gegerkunci  yang terkadang menyopani dan tidak juga bersikap sopan santunya. Tetapi dengan cara sopan santunya itu satu sama lain juga saling menyapa dan saling perjabat  tangan,  dan ada  juga yang memakai kata-kata ‘’ asalamualaikum’’ dan satu sama lain saling bersenyum yang menunjukan bahwa kekerabatnya itu penting sekali di terapkan di dalam  masyarakat desa gegerkunci. Tetapi ada juga yang masyrakatnya itu menganggap bahwa  dengan adanya semua itu hanya ada maunya saja. Tetapi ada  juga  masyarakat yang menganggap bahwa semua itu adalah sistem  kekerabatan yang  harus  di lestarikan dengan tepat dan benar agar bisa saling memahami  bagaimana cara kekerabatnya yang baik.
Dengan adanya sopan santun yang digunakan itu masyarakat desa gegerkunci.  itu semakin erat dalam sistem kekerabatnya  Dan kerukunannya  tetangga pun saling melekat satu sama lain. Dan asal usul kekerabatanya di desa gegerkunci itu masyarakatnya dengan saling menyapa satu sama lain dan saling harus mengembangkan bahwa sistem kekerabatnya itu sangat penting dilalukan dimanah saja.  baik di dalam desa atau di luar desa dan dimanah pun anda berada dan  wajib di lestarikan untuk penurus bangsa Indonesia.

Tradhisi Jawa

Tradhisi Pengantin Tebu


Tradisi tahunan yang melibatkan para petani tebu dari Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan difasilitasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat, sebelumnya akan mengadakan pesta helaran mengarak pengantin tebu menuju PG Karangsuwung.
“Tradisi pesta giling tebu merupakan bagian dengan tradisi masyarakat agraris yang sudah tumbuh sejak ratusan tahun lalu, bila dikemas secara baik akan sangat memungkinkan untuk menjadi atraksi ataupun tontonan wisata,” ujar Dra. Syukur Giling Tebu. Perayaan tahunan yang sudah diadakan sejak tahun 1800-an, tak lama sejak wilayah ini dijadikan perkebunan tebu oleh pemerintah kolonial. Perayaan ini merupakan ungkapan masyarakat petani tebu kepada sang Khalik atas panen tebu yang sukses, sekaligus pengharapan panen tahun depan agar lebih baik.

Tradhisi Jawa

Tradisi Pengantin Tebu


Tradisi tahunan yang melibatkan para petani tebu dari Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan difasilitasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat, sebelumnya akan mengadakan pesta helaran mengarak pengantin tebu menuju PG Karangsuwung.
“Tradisi pesta giling tebu merupakan bagian dengan tradisi masyarakat agraris yang sudah tumbuh sejak ratusan tahun lalu, bila dikemas secara baik akan sangat memungkinkan untuk menjadi atraksi ataupun tontonan wisata,” ujar Dra. Syukur Giling Tebu. Perayaan tahunan yang sudah diadakan sejak tahun 1800-an, tak lama sejak wilayah ini dijadikan perkebunan tebu oleh pemerintah kolonial. Perayaan ini merupakan ungkapan masyarakat petani tebu kepada sang Khalik atas panen tebu yang sukses, sekaligus pengharapan panen tahun depan agar lebih baik.

Tradisi Jawa



TRADISI BUBAYA EBEG


Ebeg adalah salah satu kesenian tradisional


yang gaungnya sudah tidak lagi nyaring
terdengar.
Namun di beberapa tempat di
Jawa Tengah, Masih ada grup kesenian ebeg
yang bertahan dan tetap setia menghibur
penggemarnya.
Ebeg sangat kental dengan alam gaib. Sebuah
bagian yang pernting yang membuat
kesenian ini bisa bertahan.
Bagi sebagian masyarakat di Jawa Tengah,
kesenian ebeg ini sangat terkenal dan setiap
pementasannya selalu menarik banyak
penonton.
Biasanya mereka tampil dalam
sebuah hajatan. Sekali pentas mereka
mendapat bayaran antara 700 hingga satu
juta rupiah. Tidak terlalu mahal, untuk
menyemarakan hajatan di kampung – kampung.
Dan ini salah satu grup ebeg di Desa Bumi
Agung, Kecamatan Rowokele, Kebumen, yang
masih bertahan. Kesenian ini kabarnya sudah
ada sejak jaman Pangeran Diponegoro,
sekitar abad ke 18. Para pemainnya begitu
bangga disebut pasukan penunggang kuda,
kendati kuda yang mereka tunggangi hanya
terbuat dari anyaman bambu.
Satu grup ebeg biasanya terdiri dari dua
puluh orang. Selain ketua rombongan, ada
pemain, penabuh gamelan dan penimbul.
Yang menarik adalah penimbul. Dialah yang
bertugas memanggil dan memulangkan
arwah atau indang. Penimbul juga harus
pandai mengendalikanny a, para pemain
yang sudah kerasukan hebat.
Selain itu, dia juga harus bisa melindungi
seluruh anggota tim dan penonton, bila ada
seseorang yang jahil sengaja mengacaukan
pertunjukan atau sekedar menjajal ilmu-nya.
Bila terjadi, biasanya sang penari tidak
mampu bergerak. Oleh karena itu, penimbul
ini benar - benar harus orang yang memiliki
ilmu yang tinggi.
Ebeg adalah pestanya para arwah atau
indang, sehingga indang selalu meminta
suguhan layaknya manusia. Asap kemenyan
yang diumpamakan sebagai nasi dan bunga
sebagai sayuran. Berbeda dengan mantra
jaelangkung yang datang tak diundang
pulang tak diantar. Maka indang, pulang
harus diantar
Ada puluhan gending yang biasanya
mengiringi pertunjukan ebeg. Empat
diantaranya sangat berpengaruh
mengundang indang. Mereka adalah :
- Cempo,
- Eling eling,
- Kembang jeruk dan
- Ricik – ricik.
Para penikmat ebeg biasanya sudah
memahami benar, apabila salah satu dari
keempat gending itu dimainkan, maka sudah
pasti para indang akan segera datang dan
merasuki para penari. Sulit mempercayainya.
Tetapi itulah ebeg, kesenian kita yang khas
dan mengakar, dimana estetika dan alam gaib
tidak bisa dipisahkan.
Sastro Ngadimin yang berusia enam puluh
tahun ini adalah pemimpin ebeg Turonggo Jati di Desa Bumiagung di Kebumen, Jawa
Tengah. Sehari sebelum mentas di suatu
hajatan, Ngadimin yang sudah menjadi penari
ebeg lebih dari tiga puluh tahun ini, selalu
menjalin kontak dengan arwah leluhur yang
bermukim di makam tua di sudut kampung.
Ia selalu harus melakukan ini agar
pertunjukan yang digelarnya berlangsung
tanpa halangan.
Penimbul dan ketua grup memasang pagar
gaib di setiap sudut halaman dengan
menebar bunga. Baik penimbul dan ketua
indang harus membuat semacam perjanjian
dengan indang. Kapan pertunjukan dimulai
dan kapan harus berakhir.
Mereka tidak berani mengingkari, karena bila
batas waktu pertunjukan dilampaui, indang
bisa saja nyasar kemana mana dan bisa
menimbulkan malapetaka.
Saatnya Pertunjukan Dimulai
Para pemain masih dalam tingkat kesadaran
yang penuh.
Mereka mempertontonkan
kebolehannya menari. Hingga tiba saatnya
janturan, yakni puncak dari pertunjukan
ebeg.
Gending mulai berubah menjadi
gending eling eling, dengan tempo yang
cepat.
Para penari mempercepat tarianya mengikuti
irama gending. Pengaruh magis semakin
terasa. Seolah – olah indang berada di atas –
melayang - layang. Bau kemenyan menebar
kemana – mana dan terasa sangat menusuk
hidung. Mereka yakin indang makin
mendekat. Dan sebagian penonton muali
bertingkah aneh.
Pada saat seperti ini, orang kehilangan
kesadaraanya. Namun mereka tetap harus
segera disadarkan agar tetap bisa menari,
kendati masih dalam pengaruh indang.
Namun gerakan sebenarnya sudah mulai
berubah. Patah – patah dan monoton.

mari kita cintai budaya nenek moyang kita

Paribasan

PARIBASAN

Klenthing wadhah masin = wong ala sanajan tumindak becik, tabet-tabete wong ala isih ketara (angel ninggalake pakulinane tumindak ala
Kodhok nguntal gajah = wong duwe trekah sing mokal kalakone
Kongsi jambul uwanen = nganti tumekan tuwa banget
Kriwikan dadi grojogan = prakara kang maune cilik dadi gedhe
Krokot ing galeng = wong kang mlarat banget
Kucing-kucing diraupi = wong duwe gawe kanthi nekad, sanajan direwangi wiring isin
Kudhi pacul singa landhepa =wong adu kapinteran, sing pinter sing bakal nemu kabegjan
Kudhung walulang macan = wong golek utangan nganggo sendhen asmane wong gedhe utawa wong kuwasa
Kumenthus ora becus = seneng umuk nanging ora mrantasi karya (sembada)
Kuntul diunekake dhandhang = wong becik dianggep wong ala
Kurung munggah lumbung = wong rena dipek bojo sing duwe omah
Kutuk nggendhong kemiri = wong kang nganggo kang sarwa aji (apik) liwat dalan kang mbebayani
Kutuk marani sunduk, ula marani gebuk = wong kang njarag (marani) bebaya
Kuncung nganti tumekan gelung = suwe banget anggone ngenteni

Paribasan

  PARIBASAN

Embat-embat celarat = wong nyambut gawe kanthi ngati-ati banget
Emprit abuntut bedhug = wong kang nggedhekake perkara sing maune sepele
Enggon welut diedoli udhet = wong pinter dipameri kepinteran sing ora sepiraa
Endhas gundhul dikepeti = wong sing wis kepenak uripe oleh kamukten
Esuk dhele, sore tempe = ora antep, atine molah-malih
Emban cindhe, emban siladan = tumindak ora adil
Entek amek, kurang golek = diuneni akeh-akeh
Entek jarake = wis entek kasugihane

Gajah alingan teki = wong gedhe sendhen prekarane wong cilik
Gajah marani wantilan = wong kang njarag nemoni bebaya
ngGajah elar = wong kang sarwa kasembadan kekarepane
Gajah ngidak rapah = wong gedhe (agung) nrajang wewalere dhewe
Gajah perang karo gajah, kancil mati ing tengah = wong gedhe padha pasulayanwong cilik sing dadi korban
Galuga sinalusur sari = wong becik rupane, utama bebudene
Gambret singgang mrakatak ora ana sing ngeneni = wong wadon kenes ora ana wong lanang sing nakokake
Gagak nganggo laring merak = wong cilik tumindak kaya-kaya wong gedhe
Garang garing = wong semugih nanging sejatine kekurangan
Gayuk-gayuk tuna, nggayuh-nggayuh luput = samubarang kang dikarepake ora bis keturutan
Gliyak-gliyak tumindak, sareh pikoleh = senajan alon-alon anggone tumindak nanging bisa kelakon

Paribasan



PARIBASAN

Jer basuki mawa beya = sakabehing gegayuhan mbutuhake wragad (pengorbanan)
nJabung alus = ngapusi kanthi tembung manis
nJaring langit = tumindak gawe kang tanpa asil
nJaring angin = tumindak gawe kang tanpa asil
Jinjang api goyang = ora nggugu kandhaning liyan nanging malah gawe kapitunan
Jalma tan kena kinira = manungsa iku ora kena diremehake
Jati ketlusuban ruyung = kumpulane wong becik kelebon wong ala
Njagakake endhoge si blorok = ngarep-arep barang sing durung mesthi
Njajah desa milangkori = wis tekan ngendi-endi
Jalma angkara mati murka = nemoni cilaka jalaran angkara murkane
Jamur tuwuh ing sela = wong kang uripe memelas

nJalukan ora wewehan = seneng njaluk ora gelem menehi
Jaran kerubuhan empyak = wong kang wis kanji (kapok, wedi) banget marga lelakon sing wis tau gawe wedi
Jarit luwas ing sampiran = wong duwe kepinteran nanging ora ana sing nganggo utawa ngangsu kapinterane, lawas-lawas wong iku tanpa guna
nJujul muwul = prakara kang nambah-nambahi rekasa, utawa wis sarwa akeh lan torah (kecukupan) isih oleh wuwuh (tambahan) maneh
nJunjung ngantebake = ngalembana nanging duwe niyat ngasorake

Kaduk wani kurang deduga = watak wong enom sing grusa-grusu kurang petung
Kalah cacak menang cacak = samubarang pagawean luwih becik dicoba dhisik bisa lan orane
Karna binandhung = kabar kang lumembar sarana gethok tular
Kebak sundukane = wis akeh anggone gawe piala
Kebak sundukane = kakehan dosa, akeh sing disulayani
Kebanjiran segara madu = nemu kabegjan kang gedhe banget
Kebat kliwat, gancang pincang = tumindak kang kesusu mesthi ora kebeneran
Kebo bule mati setra = wong pinter ning ora ana sing merlokake
Kebo ilang tombok kandhang = wis kelangan ngetokake wragat maneh kanggo nggoleki malah ora ketemu
Kebo lumumpat ing palang = wong gedhe nggagahi prakarane sadulur utawa kaluwargane dhewe
Kebo kabotan sungu = wong ngrekasa uripe marga kabotan butuh, kakehan anak

Geguritan


Geguritan
Anglocito

Sunaring netramu...
Oh,...kuwawa nembus dhadhaku
Endahing esemu kang pait madu
Wancine ing candhik ayu
Asung sasmita ing driya
Rarah, ririh, ruruh, nediya marsapa
Dadiya mitra kangg sanyata
Iba bungah, lila lan legawa
Batin iki jumbuh ing rasamu
Andelidir nawala kang satraju
Rasa...bagiya minulya satuhu
Ombaking asmara nyempyok ing kalbu
Tandha manunggaling rasa sayekti
Ora geseh karo kang wus kamuri
Mahas ing asepi
Anthuk wisiking hyang widdi
Rembulane weh pepadhang
Tranggana tah winilang
Apa kudu den sandhang...?
Nora ana pepalang
Apa mung trima nyawang...?  

Geguritan


Geguritan
Pengin dadi apa?


Kowe bingung milih dalan
Sing tumuju maring kadiwasan
Kenang apa kowe lali kkaro gusti
Sing nemtokake urip lan mati
Kenang apa kowe ora eling
Rama ibu nggone weling
Kowe milih dalan pintas
Rumangsamu mesthi bisa bablas
Tumeka ing tujuanmu
Kowe lali, ngger, sekolahmu
Panggonan samubranang ilmu
Kanggo sangu urip ing tembe mburimu
Kenang apa kudu kumudu
Mbantah marang rama ibu
Eling, ngger putuku
Sangan wulan dikandhut ibumu
Lara lapa dilakoni
Mung pengin kowe slamet lair
Toh nyawa, ngger, ibumu
Kenang apa ora maelu
Ibumu adhimu ora dibedakake
Kena apa kowe lali sekolahmu
Kang dadi apa tujuanmu urip ing dunya?

Senin, 22 Desember 2014

Geguritan


Geguritan
Kepranan

Aku..seneng
Aku...tresna
Aku...setya
Aku...kepranan
Jalaran sliramu...nggawe aku bisa mikir
Jalaran sliramu...aku bisa ngguyu
Jalaran sliramu...aku bisa weruh njaba
Jalaran sliramu...tambah jero akidahku
Tansah tak enteni tekamu
Sedina rong dina telung dina
Pitung dina sliramu mesthi teka
Kanthi nggawa crita werna-werna
Tekamu...tak papag
Tekamu...tak kekeb
Tekamu...tak arasi
Tekamu...gawe suka tyas iki
Wadhag lan rohmu dadi kanncaku
Kanca... momong putu
Kanca...bungah lan susah
Kanca...           sawayang-wayah
Oh...’semangat’ku
Aku..kepranan sliramu
Mugi-mugi gusti paring dawa umurku
Aku...kepengin dolan nyang omah mu.

Minggu, 21 Desember 2014

Geguritan

Geguritan
Crita Sabrang

saka sabrang tuwuh crita 
ana pasugatan awerna abang
jalaran abang minangka kabegjan
       ana crita ngenani inan 
       rong ati lan sih tresna 
       nyuguhake atine dhewe-dhewe
       sandhuwure piring saka perak
gandane banger kesturi 
merak ati kang ngrumangsani

Geguritan


Geguritan
Kembang tersna

Kaendahan rasa iki
Tak gurit ing brebes nala
Kembang – kembang tresna tinandur asri
Maesi ing alam pangimpi
Mbabar arum puaspa wangi
Semi ing ros – ros sukma
Dadi prasasti edi kaukir jroning esem
Prasasti gusti kladuk paring kanugrahan
Senajan mung winates jroning ngimpi.

Minggu, 14 Desember 2014

Tradhisi Jawa



TRADHISI SYAWALAN DI PEKALONGAN
Tradisi syawalan dikenali oleh masyarakat Jawa sebagai rangkaian dari tradisi keagamaan karena dilekatkan pelaksanaannya seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri dilaksanakan yaitu pada tangggal 8 Syawal. Bahkan dibeberapa tempat dinamakan sebagai Bakda Ketupat (Lebaran Ketupat) atau lebaran kedua setelah lebaran utama pada perayaan Idul Fitri 1 Syawal
Tradisi Syawalan masyarakat Krapyak kota Pekalongan juga dikenal sebagai tradisi lopisan. Karena dalam perayaan tersebut masyarakat meramaikannya dengan membuat lopis raksasa. Lopis sendiri adalah jajanan yang terbuat dari bahan baku beras ketan yang ditaburi parutan kelapa, biasanya berbentuk seperti lontong.
Membuat kue lopis raksasa setiap perayaan syawalan merupakan tradisi turun temurun warga Krapyak. Ritual ini dicetuskan oleh para ulama setempat dalam rangka siar Islam, sekaligus sebagai wujud perhatian warga yang kurang mampu. Kali pertama yang mengelar hajatan Syawalan ini adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso.
Simbol-simbol yang diwujudkan dalam perlengkapan tradisi syawalan, yaitu lopis, daun pisang, tali dan bambu. Mereka tahu dan percaya bahwa lopis merupakan simbol persatuan dan kesatuan masyarakat Krapyak Kidul. Lopis memang mengandung suatu falsafah tentang persatuan dan kesatuan yang merupakan sila ketiga dari Pancasila kita. Betapa tidak, ia dibungkus dengan daun pisang, diikat dengan tambang dan direbus selama empat hari tiga malam, sehingga tidak mungkin lagi butir-butir ketan itu untuk bercerai berai kembali sebagaimana semula. Daun pisang merupakan simbol perjuangan yang tidak pernah berhenti. Pohon pisang tidak mau mati sebelum berbuah dan beranak yang banyak atau dengan kata lain tak mau mati sebelum berjasa dan meninggalkan generasi penerus sebagai penyambung estafet. Tali merupakan simbol hubungan manusia dengan sesamanya. Sedangkan bambu merupakan simbol hubungan manusia dengan Allah SWT. Demikian mendalamnya pemikiran sesepuh kita terdahulu
Warga membuat lopis raksasa dari beras ketan sebanyak 4 kuintal, menghabiskan 300 ujung daun pisang untuk melapisi lopis saat direbus. Selain itu, 33 batang bambu yang melingkari lopis, serta 15 ikat kayu bakar atau setara lima bak tosa, melibatkan 35 warga selama proses pembuatan.  Pembuatan lopis raksasa itu untuk melestrasikan tradisi, untuk merekatkan tali silaturahmi. Lopis raksasa yang dibuat dengan berat 1.123 ton dengan tinggi 212 sentimeter.
Proses pembuatan lopis raksasa ini memakan waktu cukup lama. Satu hari proses pemasakan beras ketan dan membungkus dengan daun pisang, serta memasukkan ke dandang raksasa untuk di kukus, 2 hari proses pengukusan, 2 hari proses pendinginan, dan sehari proses pemindahan dari dapur pembuatan lopis raksasa ke tempat acara pemotongan akan berlangsung pada hari ketujuhnya.
Pemotongan lopis raksasa pertama kali oleh Wali Kota Pekalongan Basyir Ahmad, yang kemudian disusul dengan Wakil Wali Kota Alf Arslan Djunaid, dan tokoh agama Kota Pekalongan, Habib Lutfi, serta Kapolres Pekalongan Kota AKBP Rifki, seketika seluruh warga yang hadir langsung menyerbu lopis raksasa.
Asal muasal tradisi syawalan ini adalah sebagai berikut, pada tanggal 8 Syawal masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah berpuasa 6 hari, dalam kesempatan ini, mereka membuat acara ‘open house’ menerima para tamu baik dari luar desa dan luar kota. Hal ini diketahui oleh masyarakat diluar krapyak, sehingga merekapun tidak mengadakan kunjungan silaturahmi pada hari-hari antara tanggal 2 hingga 7 dalam bulan Syawal, melainkan berbondong-bondong berkunjung pada tanggal 8 Syawal. Yang demikian ini berkembang luas, bahkan meningkat terus dari masa ke masa sehingga terjadilah tradisi Syawalan seperti sekarang ini.