Selasa, 30 Desember 2014

Unsur Kebudayaan


HUBUNGAN CANDI BOROBUDUR DENGAN KEBUDAYAAN BUDHA

  Letak candi Borobudur
           Letak candi Borobudur diatas danau, ini dikemukakan oleh seorang seniman pada tahun 1931 bernama Nieuwenkamp. Pendapat itu didukung oleh penyelidikan di sekitar candi, yang antara lain menghasilkan pengetahuan bahwa nama-nama desa yang berawalan ”tanjung ” semuanya terletak di atas garis tinggi yang sama, yaitu 235 meter di atas permukaan laut. Apalagi Candi Pawon dan Candi Mendut yang letaknya berdekatan dengan Candi Borobudur juga terletak di atas garis tinggi itu. Berdasarkan bukti-bukti itu, Nieuwenkamp menduga kuat bahwa Dataran Kedu di bawah garis tinggi 235 meter dahulunya merupakan sebuah danau yang luas. Candi Borobudur ”mengapung” ditengahnya, sedangkan Candi Pawon dan Candi Mendut terletak di tepi danau. Akan tetapi, pendapat Nieuwenkamp tentang letak Borobudur di tengah danau itu, dianggap tidak masuk akal oleh Van Erp. Karena itu, pemugar Borobudur awal abad kedua puluh itu menentangnya dengan segala kemampuan. Pertentangan yang berlarut-larut itu telah mengundang para ahli lain untuk melakukan penyelidikan geologi di daerah sekitar candi. Untuk sementara, hasilnya dinilai dapat menguatkan pendapat Nieuwenkamp. Namun, luas danau di daerah pertemuan Sungai Progo dan Sungai Elo itu masih menjadi perdebatan tiada henti. Masih perlu bukti-bukti pendukung lain agar kesimpulannya mendekati kenyataan.
           Bukti lain itu, dapat dilihat nama-nama kampung atau desa di sekitar candi. Tidak jauh dari Candi Borobudur ada kampung bernama Bumi Segara, salah satu kampung di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Besar kemungkinan, kampung itu dinamakan Bumi Segara karena pada mulanya berwujud segara atau laut. Di pinggir kampung itu ada jalan, yang oleh masyarakat disebut Jalan Ngrawa. Kata bahasa Jawa ngrawa artinya ’tempatnya rawa’ atau ’ menjadi rawa’. Nama kampung dan jalan itu memberi petunjuk kuat bahwa sekitar Bororbudur memang rawa-rawa atau danau.
           Jika Borobudur benar-benar berada di tengah danau, alangkah indahnya. Borobudur merupakan karya seni dan teknologi yang spektakuler. Tentu banyak pengunjung yang berdecak kagum, terpesona, dan bahkan mungkin terkesima melihat keajaiban duinia itu.
           Sayang, keindahan itu tidak dapat dinikmati selamanya. Pada suatu hari, tiba-tiba saja Borobudur lenyap seketika. Letusan Gunung Merapi yang dahsyat telah memporakporandakan Jawa Tengah dan mengubur Borobudur. Menurut catatan para ahli gunung, letusan dahsyat itu terjadi tahun 1006. Beberapa abad kemudian terjadi lagi letusan dahsyat yang mengakibatkan Borobudur terpendam semakin dalam. Borobudur benar-benar hilang, baik wujud fisiknya maupun ceritanya. Tak ada yang mengabarkan Borobudur selama berabad-abad kemudian. Rupanya semua orang yang tahu tentang Borobudur waktu itu, juga ikut terkubur. Borobudur menjadi misteri berabad-abad.

a.      Pendiri candi Borobudur
           Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun.
           Sejarawan J. G . de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada tahun 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahuluan, Casparis memperkirakan bahwa Borobudur didirikan sekitar tahun 824 M oleh raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.
           Dari penjelasan diatas nyatalah bahwa para ahli sejarah masih berbeda pendapat mengenai kapan dimulai dan kapan selesainya pembangunan Borobudur. Tetapi, perbedaannya tidak terlalu jauh, yaitu semuanya sepakat bahwa Borobudur dibangun pada abad ke-9 Masehi. Proses pembangunannya memakan waktu antara setengah sampai satu abad, oleh seorang raja yang dilanjutkan oleh penggantinya.
Dalam hal ini Candi Borobudur merupakan contoh yang sangat menarik: bentuknya sebagai punden berundak-undak mewakili ciri khas bangunan yang diperuntukkan bagi pemujaan roh nenek moyang, dan susunannya yang diperjelas dengan ukiran-ukiran menggambarkan pandangan hidup agama Budha. Berapa lamanya Candi Borobudur itu menjalankan fungsinya sebagai  mercusuar kebesaran keluarga raja Syailendra dan ke-agungan agama Budha tidak diketahui dengan pasti. Yang diketahui hanyalah Borobudur itu’ terkubur’ material letusan Gunung Merapi diperkirakan tahun 1006 M.
b.      Bentuk candi Borobudur
           Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari sepuluh tingkat, yaitu: enam tingkat bebentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah dijadikan penahan. Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahyana. Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisatwa yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Budah.

 Hubungan candi Borobudur dengan kebudayaan agama Budha
            Borobudur difungsikan sebagai tempat ibadah umat beragama Budha. Salah satu ritual ibadah yang melibatkan ribuan umat adalah perayaan Hari Raya Waisyak.
            Hari Raya Waisyak merupakan Hari suci Agama Budha. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Saga dawa di Tibet, Vesak di Mlaysia, dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di SriLanka. Nama itu diambil dari bahasa pali Wesakha, yang juga terkait dengan kata dari bahasa Sansekerta Waishaka. Dalam sistem penanggalan India Kuna, Waisak adalah nama salah satu bukan.
            Hari Raya Waisak dirayakan pada bulan Mei (tahun biasa) atau Juni (tahun kabisat), ketika bulan berbentuk bulat penuh(purnama sidhi) untuk memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu sebagai berikut.
1.         Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 SM.
2.         Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Budha di Buddha-Gaya (Bodhgaya) dalam usia 35 tahun pada tahun 588SM, dan
Buddha Gautama mangkat di Kusinara dalam usia 80 tahun pada tahun 543 SM. Tiga peristiwa itu dinamakan ”Trisuci Waisak”. Trisuci Waisak  diputuskan dalam sidang pertama Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists) di Sri lanka pada tahun 1950.
            Perayaan Trisuci Waisak secara nasional dipusatkan di Kompleks Candi Borobudur (termasuk Candi Mendut dan Candi Pawon). Rangkaian acaranya, secara pokok sebagai berikut:
1.      Pengambilan air berkat dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung  dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan.
2.      Ritual”Pindatapa”, suatu ritual pemberian bahan makanan kepada para biksu oleh masyarakat (umat) untuk mengingatkan bahwa para biksu mengabdikan hidupnya hanya untuk berpuja bakti tanpa melakukan kegiatan yang berkaitan dengan mata pencarian atau pekerjaan.
3.      Semadi pada detik-detik puncak bulan purnama. Penentuan bulan purnama ini adalah berdasarkan perhitungan falak, sehingga puncak purnama dapat terjadi pada siang

Dalam agam budha ritua dalam melakukan sembayang
      Dalam agama budha dalam melakukan solat pun berbeda – beda dengan agama yang lain ada ritual-riyual tersendiri. Tetapi dalam ajaran budha itu terlalu di siplin dalam melakukan walaupun agama yang lain juga disiplin dan melakuka salat pun hanya sau minggu sekali itu juga pada hari minggu saja. Dan menyembah patung itu menurut agamanya saat berati dan berguna karena agama budha patung itu bagaikan tuhannya. Dan dalam ucapara adat pun berbeda dalam melakukanya harus berjalan kaki mengelilingi candi ituharus kearah kanan, dan mengelilingi tubuh candi borobudur tersebut.
      Maka yang namanya agama itu sangat berbeda-beda dengan yang satu dan lainnya. Maka ambilah nilai positif dari agama yang di anutnya baik itu agama islam atau budha,katolik,kristin dan lain-lain.
Candi Borobudur merupakan candi peninggalan Agama Budha yang terletak di desa Borobudur, Kota Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur difungsikan sebagai tempat ibadah umat Budha. Setiap tahun umat Budha mengadakan perayaan Hari Raya Waisyak di candi Borobudur. Candi Borobudur merupakan peninggalan sejarah dengan peradaban yang tinggi perlu kita jaga kelestariannya karena bisa menjadi objek wisata yang menarik sehingga mendatangkan keuntungan bagi negara kita terutama yaitu bisa mendatangkan devisa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar