HUBUNGAN
CANDI BOROBUDUR DENGAN KEBUDAYAAN BUDHA
Letak
candi Borobudur
Letak
candi Borobudur diatas danau, ini dikemukakan oleh seorang seniman pada tahun
1931 bernama Nieuwenkamp. Pendapat itu didukung oleh penyelidikan
di sekitar candi, yang antara lain menghasilkan pengetahuan bahwa nama-nama
desa yang berawalan ”tanjung ” semuanya terletak di atas garis tinggi yang
sama, yaitu 235 meter di atas permukaan laut. Apalagi Candi Pawon dan Candi
Mendut yang letaknya berdekatan dengan Candi Borobudur juga terletak di atas
garis tinggi itu. Berdasarkan bukti-bukti itu, Nieuwenkamp menduga kuat bahwa
Dataran Kedu di bawah garis tinggi 235 meter dahulunya merupakan sebuah danau
yang luas. Candi Borobudur ”mengapung” ditengahnya, sedangkan Candi Pawon dan
Candi Mendut terletak di tepi danau. Akan tetapi, pendapat Nieuwenkamp tentang
letak Borobudur di tengah danau itu, dianggap tidak masuk akal oleh Van Erp.
Karena itu, pemugar Borobudur awal abad kedua puluh itu menentangnya dengan
segala kemampuan. Pertentangan yang berlarut-larut itu telah mengundang para
ahli lain untuk melakukan penyelidikan geologi di daerah sekitar candi. Untuk
sementara, hasilnya dinilai dapat menguatkan pendapat Nieuwenkamp. Namun, luas
danau di daerah pertemuan Sungai Progo dan Sungai Elo itu masih menjadi
perdebatan tiada henti. Masih perlu bukti-bukti pendukung lain agar
kesimpulannya mendekati kenyataan.
Bukti
lain itu, dapat dilihat nama-nama kampung atau desa di sekitar candi. Tidak
jauh dari Candi Borobudur ada kampung bernama Bumi Segara, salah satu kampung
di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Besar kemungkinan,
kampung itu dinamakan Bumi Segara karena pada mulanya berwujud segara atau laut. Di
pinggir kampung itu ada jalan, yang oleh masyarakat disebut Jalan Ngrawa. Kata
bahasa Jawa ngrawa artinya ’tempatnya rawa’ atau ’ menjadi
rawa’. Nama kampung dan jalan itu memberi petunjuk kuat bahwa sekitar
Bororbudur memang rawa-rawa atau danau.
Jika
Borobudur benar-benar berada di tengah danau, alangkah indahnya. Borobudur
merupakan karya seni dan teknologi yang spektakuler. Tentu banyak pengunjung
yang berdecak kagum, terpesona, dan bahkan mungkin terkesima melihat keajaiban
duinia itu.
Sayang,
keindahan itu tidak dapat dinikmati selamanya. Pada suatu hari, tiba-tiba saja
Borobudur lenyap seketika. Letusan Gunung Merapi yang dahsyat telah
memporakporandakan Jawa Tengah dan mengubur Borobudur. Menurut catatan para
ahli gunung, letusan dahsyat itu terjadi tahun 1006. Beberapa abad kemudian
terjadi lagi letusan dahsyat yang mengakibatkan Borobudur terpendam semakin
dalam. Borobudur benar-benar hilang, baik wujud fisiknya maupun ceritanya. Tak
ada yang mengabarkan Borobudur selama berabad-abad kemudian. Rupanya semua
orang yang tahu tentang Borobudur waktu itu, juga ikut terkubur. Borobudur
menjadi misteri berabad-abad.
a. Pendiri
candi Borobudur
Borobudur
dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno,
keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang
Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah
tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa
awal dibangun.
Sejarawan
J. G . de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada tahun
1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti
Karangtengah dan Kahuluan, Casparis memperkirakan bahwa Borobudur didirikan
sekitar tahun 824 M oleh raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga.
Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu
Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.
Dari
penjelasan diatas nyatalah bahwa para ahli sejarah masih berbeda pendapat
mengenai kapan dimulai dan kapan selesainya pembangunan Borobudur. Tetapi,
perbedaannya tidak terlalu jauh, yaitu semuanya sepakat bahwa Borobudur
dibangun pada abad ke-9 Masehi. Proses pembangunannya memakan waktu antara
setengah sampai satu abad, oleh seorang raja yang dilanjutkan oleh
penggantinya.
Dalam hal ini Candi Borobudur merupakan
contoh yang sangat menarik: bentuknya sebagai punden berundak-undak mewakili
ciri khas bangunan yang diperuntukkan bagi pemujaan roh nenek moyang, dan
susunannya yang diperjelas dengan ukiran-ukiran menggambarkan pandangan hidup
agama Budha. Berapa lamanya Candi Borobudur itu menjalankan fungsinya
sebagai mercusuar kebesaran keluarga raja Syailendra dan ke-agungan
agama Budha tidak diketahui dengan pasti. Yang diketahui hanyalah Borobudur
itu’ terkubur’ material letusan Gunung Merapi diperkirakan tahun 1006 M.
b. Bentuk
candi Borobudur
Candi
Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari sepuluh tingkat, yaitu:
enam tingkat bebentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar
dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi
dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah dijadikan
penahan. Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat
mazhab Mahyana. Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisatwa yang harus
dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Budah.
Hubungan
candi Borobudur dengan kebudayaan agama Budha
Borobudur
difungsikan sebagai tempat ibadah umat beragama Budha. Salah satu ritual ibadah
yang melibatkan ribuan umat adalah perayaan Hari Raya Waisyak.
Hari
Raya Waisyak merupakan Hari suci Agama Budha. Hari Waisak juga dikenal dengan
nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Saga dawa di Tibet, Vesak di
Mlaysia, dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di SriLanka. Nama
itu diambil dari bahasa pali Wesakha, yang juga terkait dengan kata dari bahasa
Sansekerta Waishaka. Dalam sistem penanggalan India Kuna, Waisak adalah nama
salah satu bukan.
Hari
Raya Waisak dirayakan pada bulan Mei (tahun biasa) atau Juni (tahun kabisat),
ketika bulan berbentuk bulat penuh(purnama sidhi) untuk
memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu sebagai berikut.
1. Lahirnya
Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 SM.
2. Pangeran
Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Budha di Buddha-Gaya (Bodhgaya)
dalam usia 35 tahun pada tahun 588SM, dan
Buddha Gautama mangkat di
Kusinara dalam usia 80 tahun pada tahun 543 SM. Tiga peristiwa itu
dinamakan ”Trisuci Waisak”. Trisuci Waisak diputuskan dalam sidang
pertama Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists) di Sri
lanka pada tahun 1950.
Perayaan
Trisuci Waisak secara nasional dipusatkan di Kompleks Candi Borobudur (termasuk
Candi Mendut dan Candi Pawon). Rangkaian acaranya, secara pokok sebagai
berikut:
1. Pengambilan
air berkat dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung dan
penyalaan obor menggunakan sumber api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan.
2. Ritual”Pindatapa”,
suatu ritual pemberian bahan makanan kepada para biksu oleh masyarakat (umat)
untuk mengingatkan bahwa para biksu mengabdikan hidupnya hanya untuk berpuja
bakti tanpa melakukan kegiatan yang berkaitan dengan mata pencarian atau
pekerjaan.
3. Semadi
pada detik-detik puncak bulan purnama. Penentuan bulan purnama ini adalah
berdasarkan perhitungan falak, sehingga puncak purnama dapat terjadi pada siang
Dalam agam budha ritua dalam melakukan sembayang
Dalam
agama budha dalam melakukan solat pun berbeda – beda dengan agama yang lain ada
ritual-riyual tersendiri. Tetapi dalam ajaran budha itu terlalu di siplin dalam
melakukan walaupun agama yang lain juga disiplin dan melakuka salat pun hanya
sau minggu sekali itu juga pada hari minggu saja. Dan menyembah patung itu
menurut agamanya saat berati dan berguna karena agama budha patung itu bagaikan
tuhannya. Dan dalam ucapara adat pun berbeda dalam melakukanya harus berjalan
kaki mengelilingi candi ituharus kearah kanan, dan mengelilingi tubuh candi
borobudur tersebut.
Maka
yang namanya agama itu sangat berbeda-beda dengan yang satu dan lainnya. Maka
ambilah nilai positif dari agama yang di anutnya baik itu agama islam atau
budha,katolik,kristin dan lain-lain.
Candi Borobudur merupakan
candi peninggalan Agama Budha yang terletak di desa Borobudur, Kota Magelang,
Jawa Tengah. Candi Borobudur difungsikan sebagai tempat ibadah umat Budha.
Setiap tahun umat Budha mengadakan perayaan Hari Raya Waisyak di candi
Borobudur. Candi Borobudur merupakan peninggalan sejarah dengan peradaban
yang tinggi perlu kita jaga kelestariannya karena bisa menjadi objek wisata
yang menarik sehingga mendatangkan keuntungan bagi negara kita terutama yaitu
bisa mendatangkan devisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar