TRADHISI SYAWALAN
DI PEKALONGAN
Tradisi syawalan dikenali oleh masyarakat Jawa
sebagai rangkaian dari tradisi keagamaan karena dilekatkan pelaksanaannya
seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri dilaksanakan yaitu pada tangggal 8
Syawal. Bahkan dibeberapa tempat dinamakan sebagai Bakda Ketupat (Lebaran
Ketupat) atau lebaran kedua setelah lebaran utama pada perayaan Idul Fitri 1
Syawal
Tradisi Syawalan masyarakat Krapyak kota
Pekalongan juga dikenal sebagai tradisi lopisan. Karena dalam perayaan tersebut
masyarakat meramaikannya dengan membuat lopis raksasa. Lopis sendiri adalah
jajanan yang terbuat dari bahan baku beras ketan yang ditaburi parutan kelapa,
biasanya berbentuk seperti lontong.
Membuat kue lopis raksasa setiap perayaan
syawalan merupakan tradisi turun temurun warga Krapyak. Ritual ini dicetuskan
oleh para ulama setempat dalam rangka siar Islam, sekaligus sebagai wujud
perhatian warga yang kurang mampu. Kali pertama yang mengelar hajatan Syawalan
ini adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso.
Simbol-simbol yang diwujudkan dalam
perlengkapan tradisi syawalan, yaitu lopis, daun pisang, tali dan bambu. Mereka
tahu dan percaya bahwa lopis merupakan simbol persatuan dan kesatuan masyarakat
Krapyak Kidul. Lopis memang mengandung suatu falsafah tentang persatuan dan
kesatuan yang merupakan sila ketiga dari Pancasila kita. Betapa tidak, ia
dibungkus dengan daun pisang, diikat dengan tambang dan direbus selama empat
hari tiga malam, sehingga tidak mungkin lagi butir-butir ketan itu untuk
bercerai berai kembali sebagaimana semula. Daun pisang merupakan simbol
perjuangan yang tidak pernah berhenti. Pohon pisang tidak mau mati sebelum
berbuah dan beranak yang banyak atau dengan kata lain tak mau mati sebelum berjasa
dan meninggalkan generasi penerus sebagai penyambung estafet. Tali merupakan
simbol hubungan manusia dengan sesamanya. Sedangkan bambu merupakan simbol
hubungan manusia dengan Allah SWT. Demikian mendalamnya pemikiran sesepuh kita
terdahulu
Warga membuat lopis raksasa dari beras ketan
sebanyak 4 kuintal, menghabiskan 300 ujung daun pisang untuk melapisi lopis
saat direbus. Selain itu, 33 batang bambu yang melingkari lopis, serta 15 ikat
kayu bakar atau setara lima bak tosa, melibatkan 35 warga selama proses
pembuatan. Pembuatan lopis raksasa itu
untuk melestrasikan tradisi, untuk merekatkan tali silaturahmi. Lopis raksasa
yang dibuat dengan berat 1.123 ton dengan tinggi 212 sentimeter.
Proses pembuatan lopis raksasa ini memakan waktu cukup
lama. Satu hari proses pemasakan beras ketan dan membungkus dengan daun pisang,
serta memasukkan ke dandang raksasa untuk di kukus, 2 hari proses pengukusan, 2
hari proses pendinginan, dan sehari proses pemindahan dari dapur pembuatan
lopis raksasa ke tempat acara pemotongan akan berlangsung pada hari ketujuhnya.
Pemotongan lopis raksasa pertama kali oleh Wali Kota
Pekalongan Basyir Ahmad, yang kemudian disusul dengan Wakil Wali Kota Alf
Arslan Djunaid, dan tokoh agama Kota Pekalongan, Habib Lutfi, serta Kapolres
Pekalongan Kota AKBP Rifki, seketika seluruh warga yang hadir langsung menyerbu
lopis raksasa.
Asal muasal tradisi syawalan ini adalah sebagai berikut,
pada tanggal 8 Syawal masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah berpuasa
6 hari, dalam kesempatan ini, mereka membuat acara ‘open house’ menerima para
tamu baik dari luar desa dan luar kota. Hal ini diketahui oleh masyarakat
diluar krapyak, sehingga merekapun tidak mengadakan kunjungan silaturahmi pada
hari-hari antara tanggal 2 hingga 7 dalam bulan Syawal, melainkan
berbondong-bondong berkunjung pada tanggal 8 Syawal. Yang demikian ini
berkembang luas, bahkan meningkat terus dari masa ke masa sehingga terjadilah
tradisi Syawalan seperti sekarang ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar