Minggu, 14 Desember 2014

Tradhisi Jawa



TRADHISI SYAWALAN DI PEKALONGAN
Tradisi syawalan dikenali oleh masyarakat Jawa sebagai rangkaian dari tradisi keagamaan karena dilekatkan pelaksanaannya seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri dilaksanakan yaitu pada tangggal 8 Syawal. Bahkan dibeberapa tempat dinamakan sebagai Bakda Ketupat (Lebaran Ketupat) atau lebaran kedua setelah lebaran utama pada perayaan Idul Fitri 1 Syawal
Tradisi Syawalan masyarakat Krapyak kota Pekalongan juga dikenal sebagai tradisi lopisan. Karena dalam perayaan tersebut masyarakat meramaikannya dengan membuat lopis raksasa. Lopis sendiri adalah jajanan yang terbuat dari bahan baku beras ketan yang ditaburi parutan kelapa, biasanya berbentuk seperti lontong.
Membuat kue lopis raksasa setiap perayaan syawalan merupakan tradisi turun temurun warga Krapyak. Ritual ini dicetuskan oleh para ulama setempat dalam rangka siar Islam, sekaligus sebagai wujud perhatian warga yang kurang mampu. Kali pertama yang mengelar hajatan Syawalan ini adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso.
Simbol-simbol yang diwujudkan dalam perlengkapan tradisi syawalan, yaitu lopis, daun pisang, tali dan bambu. Mereka tahu dan percaya bahwa lopis merupakan simbol persatuan dan kesatuan masyarakat Krapyak Kidul. Lopis memang mengandung suatu falsafah tentang persatuan dan kesatuan yang merupakan sila ketiga dari Pancasila kita. Betapa tidak, ia dibungkus dengan daun pisang, diikat dengan tambang dan direbus selama empat hari tiga malam, sehingga tidak mungkin lagi butir-butir ketan itu untuk bercerai berai kembali sebagaimana semula. Daun pisang merupakan simbol perjuangan yang tidak pernah berhenti. Pohon pisang tidak mau mati sebelum berbuah dan beranak yang banyak atau dengan kata lain tak mau mati sebelum berjasa dan meninggalkan generasi penerus sebagai penyambung estafet. Tali merupakan simbol hubungan manusia dengan sesamanya. Sedangkan bambu merupakan simbol hubungan manusia dengan Allah SWT. Demikian mendalamnya pemikiran sesepuh kita terdahulu
Warga membuat lopis raksasa dari beras ketan sebanyak 4 kuintal, menghabiskan 300 ujung daun pisang untuk melapisi lopis saat direbus. Selain itu, 33 batang bambu yang melingkari lopis, serta 15 ikat kayu bakar atau setara lima bak tosa, melibatkan 35 warga selama proses pembuatan.  Pembuatan lopis raksasa itu untuk melestrasikan tradisi, untuk merekatkan tali silaturahmi. Lopis raksasa yang dibuat dengan berat 1.123 ton dengan tinggi 212 sentimeter.
Proses pembuatan lopis raksasa ini memakan waktu cukup lama. Satu hari proses pemasakan beras ketan dan membungkus dengan daun pisang, serta memasukkan ke dandang raksasa untuk di kukus, 2 hari proses pengukusan, 2 hari proses pendinginan, dan sehari proses pemindahan dari dapur pembuatan lopis raksasa ke tempat acara pemotongan akan berlangsung pada hari ketujuhnya.
Pemotongan lopis raksasa pertama kali oleh Wali Kota Pekalongan Basyir Ahmad, yang kemudian disusul dengan Wakil Wali Kota Alf Arslan Djunaid, dan tokoh agama Kota Pekalongan, Habib Lutfi, serta Kapolres Pekalongan Kota AKBP Rifki, seketika seluruh warga yang hadir langsung menyerbu lopis raksasa.
Asal muasal tradisi syawalan ini adalah sebagai berikut, pada tanggal 8 Syawal masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah berpuasa 6 hari, dalam kesempatan ini, mereka membuat acara ‘open house’ menerima para tamu baik dari luar desa dan luar kota. Hal ini diketahui oleh masyarakat diluar krapyak, sehingga merekapun tidak mengadakan kunjungan silaturahmi pada hari-hari antara tanggal 2 hingga 7 dalam bulan Syawal, melainkan berbondong-bondong berkunjung pada tanggal 8 Syawal. Yang demikian ini berkembang luas, bahkan meningkat terus dari masa ke masa sehingga terjadilah tradisi Syawalan seperti sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar