Jumat, 12 Desember 2014

Telaah Pranata Masyarakat Jawa



Description: Description: Description: Description: C:\Users\x\Documents\emblem.jpg


TELAAH PRANATA MASYARAKAT JAWA

TRADISI GELAR BUDAYA DESA WANUREJO  KEC. BOROBUDUR KAB. MAGELANG JAWA TENGAH

Disusun Oleh :

1.      Vita Lestari                         2601413012
2.      Hala Nur Soliha                  2601413006
3.      Mutiqoh Nekasari              2601413016



Rombel 01




FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULAN

1.1  Latar Belakang
Wanurejo adalah sebuah desa yang berkecamatan Borobudur kabupaten Magelang, Jawa Tengah terletak 600 meter dari Candi Borobudur dan menjadi pintu gerbang masuk menuju Candi Borobudur. Di desa Wanurejo tersebut terdapat peninggalan dari agama hindu yang berbentuk candi yaitu Candi Borobudur namun mayoritas masyarakat desanya  beragama islam.
Tradisi Gelar Budaya adalah tradisi yang ada di desa Wanurejo yang menjadikan desa tersebut menjadi desa wisata yang dikunjungi. Dalam tradisi gelar budaya tersebut dilaksanakan kirab budaya dengan mengusung berbagai potensi seni, budaya, dan hasil bumi masyarakat setempat yang disaksikan ribuan warga dipinggir jalan yang dilalui peserta kirab. Tradisi tersebut adalah wujud para warga desa untuk melestarikan seni dan budaya, juga memamerkan potensi kekayaan desa, yang bermanfaat untuk mendukung pengembangan kepariwisataan kawasan Candi Borobudur.
1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas kami dapat menrik rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana Prosesi Gelar Budaya di desa Wanurejo Kec. Borobudur Kab. Magelang?
2.      Nilai dan pranata apakah yeng terdapat dalam tradisi Gelar Budaya di desa Wanurejo?
1.3  Tujuan
1.      Mengetahui bagaimana Prosesi Gelar Budaya di desa Wanurejo Kec. Borobudur Kab. Magelang.
2.      Mengetahui nilai dan pranata apakah yeng terdapat dalam tradisi Gelar Budaya di desa Wanurejo.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1Deskripsi Ritual Gelar Budaya di Desa Wanurejo Kec. Borobudur Kab. Magelang
Kecamatan Borobudur merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Di Kecamatan Borobudur ini masih terdapat tradisi yang masih dilaksanakan, salah satunya adalah tradisi gelar budaya yang dilakukan setiap tahun sekali tepatnya pada bulan Rajab. Tradisi ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai wujud rasa syukur masyarakat Wanurejo kepada Tuhan atas bumi yang dihuninya bisa menjadi sumber kehidupan.
Mereka percaya dengan mengadakan gelar budaya, maka alam yang mereka huni akan tetap terjaga dan memberikan kehidupan bagi mereka. Prosesi yang ada dalam gelar budaya desa Wanurejo Kec. Borobudur Kab. Magelang yaitu para warga membuat berbagai kreasi yang bentuknya bermacam-macam. Contonya seperti candi tempe raksasa, kursi raksasa, jarang kepang raksasa, galar/lukisan bambu raksasa, dll. Dan ada pula yang membawa tanduk-tanduk yang dihiasi berbagai hasil panen dari setiap dusun. Isinya yaitu, ada pari (padi), kacang panjang, sayur kakung, terong, wortel, tomat, jagung, tela, dll. Setiap dusun biasanya mengeluarkan kesenian-kesenian yang ada didusunnya. Para warganya juga ikut  berpartisipasi untuk memeriahkan acara gelar budaya tersebut. Di situ para warga juga mengadakan bazar di mana kerajinan-kerajinan  yang mereka hasilkan di jual dalam arak-arakan tersebut.
Para ibu-ibu juga ikut merayakan acara gelar budaya tersebut. Sebelum melaksanakan acara gelar budaya tersebut, sebelumnya perwakilan dari dusun-dusun mendatangi makam Eyang Haryo Wanu Tejakusuma untuk mendoakan beliau. Di makam itu, juga diadakan selametan atau gendurenan. Setelah melakukan ritual tersebut, hari selanjutnya dilaksanakan acara gelar budaya. Gelar budaya diarak melalui jalan utama menuju Candi Borobudur. Karena biasanya dalam rangka itu sering kali membuat yang spesial untuk memecahkan museum rekor Indonesia.
Gelar budaya dilaksanakan pada siang hari tepatnya pada pukul 12.00-17.00 WIB. Dalam pelaksanaan perayaan gelar budaya di desa Wanurejo banyak kesenian-kesenian dan kreasi-kreasi yang mereka hasilkan. Setiap dusun pasti berbeda-beda. Acara gelar budaya tersebut bertujuan untuk sebagai wujud syukur masyarakat Wanurejo atas rizeki yang mereka peroleh, memperingati terbentuknya desa Wanurejo, memperingati hari meninggalnya Eyang Pangeran Haryo Wanu Tejakusuma.




Tradisi gelar budaya ini, merupakan salah satu ritual tradisional masyarakat yang sudah berlangsung secara turun-temurun.
Alasan masyarakat desa Wanurejo melaksanakan tradisi sedekah bumi yaitu sebagi wujud rasa syukur mereka atas nikmat yang telah mereka peroleh. Masyarakat sukorame percaya bahwa dengan melaksanakan sedekah bumi maka Tuhan akan menjaga kelestarian alam yang mereka gunakan sebagai sumber kehidupan.
2.3Analisis Pranata yang ada di tradisi Gelar Budaya
         Di dalam acara gelar budaya tersebut juga terdapat pranata-pranata dalam kehidupan masyarakat yaitu    ada pranata sosial, pranata ekonomi, dan pranata agama.
1.      Pranata Sosial
Dalam tradisi gelar budaya, terdapat pranata sosial, karena gelar budaya itu diramaikan oleh setiap-setiap dusun. Sehingga terjalin hubungan yang erat, bisa saling bertukar informasi, menjalin silahturahmi, dan menciptakan kerukunan dan kesejahteraan dalam bermasyarakat. Contohnya ketika dalam pembuatan berbagai kreasi yang akan dipamerkan saat gelar budaya dilaksanakan. Para warga masyarakat ikut berpartisipasi dalam pembuatannya. Sehingga bisa menciptakan keadaan yang harmonis,  saling menghargai pendapat-pendapat atau gagasan-gagasan yang mereka usulkan.
2.      Pranata Agama
Dalam tradisi gelar budaya, terdapat pranata agama. Di mana berbagai agama berkumpul menjadi satu menciptakan kerukunan dan saling menghargai agama masing-masing. Karena agama sendiri mengajarkan untuk bertoleransi agar dapat menciptakan kesejahteraan tanpa adanya permusuhan. Contohnya pada saat arak-arakan gelar budaya terdapat pemuka-pemuka agama yang bersama-sama mendoakan kelancaran acara tersebut berdasarkan keyakinan mereka masing-masing.
3.      Pranata Ekonomi
Dalam tradisi gelar budaya, terdapat juga pranata ekonomi. Di mana para warga berpartisipasi memberikan hasil panen dari setiap dusun. Dalam pembuatan berbagai kreasi para warga juga memjual hasil kerajinan. Karena dalam tradisi gelar budaya tersebut juga diadakan bazar yang menjual hasil-hasil kreasi atau kerajinan-kerajinan yang mereka buat. Sehingga dalam acara gelar budaya dapat memanfaat peluang yang ada.

2.4Kesimpulan
1.      Pranata sosial
Para warga berbaur bersama meramaikan acara gelar budaya tersebut.
2.      Pranata Agama
Para pemuka agama berperan mendoakan kelancaran acara gelar budaya sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
3.      Pranata Ekonomi
Memanfaat peluang untuk menjual hasil kerajinan yang mereka buat. Sehingga waktunya tidak terbuang sia-sia.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar