Pengantar Apresiasi Karya Sastra “Drs. Aminuddin, M.pd.”
Apresiasi
Prosa Fiksi.
1.
Apresiasi Karya Sastra
sebagai Kegiatan Membaca.
Istilah
membaca dapat mencangkup pengertian yang luas. Membaca dapat dibedakan dalam
berbagai ragam sesuai dengan (1) tujuan, (2) proses kegiatan, (3) objek bacaan,
dan (4) media yang digunakan. Untuk itu, perumusan pengertian membbaca dalam
pembahasan ini dipaparkan dengan bertolak dari hakikat membaca itu sendiri,
yaitu sebagai berikut.
a.
Membaca adalah mereaksi
Karena dalam
membaca seorang terlebih dahulu melaksanakan pengamatan terhadap huruf sebagai representasi bunyi ujaran maupun tnda
penulisan lainnya. Yang kemudian terjadi kegiatan rekognisi yaitu pengenalan
bentuk yang berkaitan dengan makna yang dikandungnya serta pemahaman yang
keseluruhannya masih harus melalui tahap kegiatan tertentu.
b.
Membaca adalah proses.
Karena membaca
melibatkan berbagai aspek baik fisik, mental, bekal pengalaman dan pengetahuan
maupun aktivitas berfikir dan merasa. Sehingga terjaadi proses untuk mencapai
tujuan tertentu melalui tahapan (1) persepsi, (2) rekognisi, (3) komprehensi,
(4) interpretasi, (5) evaluasi, dan (6) kresi atau utilisasi.
c.
Membaca adalah pemecahan kode dan penerimaan pesan.
Dalam
hubungannya dengan kegiatan membaca, dalam interaksi komunikasi tulis pengarang
berperan sebagai pengirim pesan dan pencipta kode, sedangkan pembaca adalah
pihak penerima yang sekaligus berperan sebagai
pemecah kode.
2.
Ragam Membaca.
Ragam membaca secara keseluruhan meliputi :
a.
Membaca dalam hati.
Membaca dalam
hati adalah kegiatan membaca yang berusaha memahami keseluruhan isi bacaan
secara mendalam sambil menghubungkan isi
bacaan itu dengan pengalaman maupun pengetahuan yang dimiliki pembaca tanpa
diikuti gerak lisan maupun suara.
Membaca dalam hati bila ditinjau dari proses serta tujuan yang
melatarinya dapat disebut juga membaca intensif, karena sama-sama bertujuan untuk memahami isi bacaan
secara menyeluruh dan mendalam.
b.
Membaca cepat.
Yaitu ragam membaca yang
dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat dan cepat untuk memahami isi
bacaan secara garis besar saja. Ragam membaca cepat nantinya akan berhubungan
dengan teknik membaca secara skimming serta membaca secara ekstensif.
c.
Membaca
teknik.
Disebut juga oral reading
‘membaca lisan’ maupun reading aloud ‘membaca nyaring’ yaitu membaca yng
dilaksanakan secara bersuara sesuai dengan aksentuasi, intonasi, dan irama yang benar selaras dengan gagasan
serta suasna penuturan dalam teks yang dibaca.
3. Tahapan-tahapan membaca, meliputi :
a. Tahap pemahaman media bentuk tulisan.
Yaitu yang berhubungan dengan bentuk huruf,
tanda baca, bentuk penulisan paragraph, maupun sistematika penulisan yang
dipakai pengarang dalam memaparkan gagasannya.
b. Tahap pemahaman media kebahasaan.
Gramatikal dalam linguistik
mencakup aspek morfologi dan sintaksis, sedangkan aspek fonologi dan semantik
dianggap sebagai unsur eksternal. Namun dalam perkembangannya aspek fonologi
dan semantik termasuk dalam unsur intrinsic bahasa. Sedangkan untuk aspek bunyi
atau phonic merupakan elemen pembentuk kata, baik itu bunyi yang
membedakan arti maupun yang tidak membedakan arti.
c.
Tahap pemahaman aspek Leksis-semantis.
Yaitu tahap
kegiatan pembaca dalam upaya memahami kata-kata dalam satu teks, baik secara tersurat maupun tersirat. Dalam
sajian gagasan tersebut dibedakan makna dalam bidang studi semantik yang
membedakan antara makna denotatif, yaitu satu lambing satu makna,
dan makna konotatif, yaitu satu lambing mengimplikasikan berbagai macam
makna.
d. Tahap penarikan kesimpulan.
Dalam tahap ini dibedakan antara
tahap penarikan kesimpulan gagasan yang
terdapat di dalam setiap bacaan serta tahap kesimpulan dari totalitas makna
atau gagasan yang terdapat di dalam bacaan.
Dalam
membaca sastra, bentuk penyimpulan seperti di atas harus dilaksanakan karena
media pemapar dalam bacaan satra meliputi 3 aspek, yaitu (1) tulisan, (2)
bahasa, dan (3) struktur verbal yang berkaitan dengan unsur-unsur intrinsik
pembangun karya sastra sebagai suatu wacana.
4. Penilaian Pembacaan Teks Sastra secara
Lisan.
Ada tiga unsur
utama yang harus diperhatikan sewaktu melakukan kegiatan membaca teks sastra
lisan baik berupa puisi maupun crpen, meliputi (1) pemahaman,(2) penghayatan,
(3) dan pemaparan.
Masalah lain
yang perlu diperhatikan ialah (1) pelafalan, (2) ekspresi, (3) kelenturan, dan
(4) daya konversasi.
5. Pengertian dan Bekal Awal dalam
Apresiasi Sastra.
a. Pengertian apresiasi sastra.
Apresiasi berasal dari bahasa Latin
apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Dalam konteks
yang lebih luas, istilah apresiasi menurut Gove mengandung makna (1) pengenalan
melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman dan pengakuan terhadap
nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Sedangkan, Squire dan Taba
berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses, apresiasi melibatkan tiga unsur inti,
yaitu (1) aspek kognitif, (2) aspek emotif, dan (3) aspek evaluatif.
S.
Efendi mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya
sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan,
kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra.
b. Kegiatan langsung dan kegiatan tak
langsung dalam mengapresiasi sastra.
Apresiasi sastra
secara langsung adalah kegiatan membaca atau menikmati cipta sastra berupa teks
maupun performansi secara langsung.
Selain kegiatan apresiasi sastra secara
langsung, juga dapat dilaksanakan kegiatan apresiasi sastra secara tidak
langsung, yang dapat ditempuh dengan cara mempelajari teori sastra, membaca
artikel yang berhubungan dengan kesastraan,
baik di majalah maupun Koran, mempelajari buku-buku maupun esei yang
membahas dan memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra serta
mempelajarii searah sastra.
c. Bekal awal pengapresiasi sastra.
Cipta sastra sebenarnya mengandung
berbagai macam unsur yang sangat kompleks, antara lain (1) unsur keindahan, (2)
unsur kontemplatif yang berhubungan
dengan nilai-nilai atau renungan tentang keagamaan, filsafat, politik, serta
berbagai macam kompleksitas permasalahan kehidupan, (3) media pemaparan, baik
berupa media kebahasaan maupun struktur wacana, serta (4) unsur-unsur intrinsik
yang berhubungan dengan cirri
karakteristik cipta sastra itu
sendiri sebagai suatu teks.
Sejalan
dengan kandungan aspek diatas, maka bekal awal yang harus dimiliki seorang
calon apresiator adalah:
1) Kepekaan emosi atau perasaan sehingga
pembaca mampu memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan yang terdapat dalam
cipta sastra.
2) Pemilikan pengetahuan dan pengalaman
yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan, baik lewat penghayatan kehidupan ini secara intensif-kontemplatif
maupun dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan masalah humanitas,
misalnya buku filsafat dan psikologi.
3) Pemahaman terhadap aspek kebahasaan, dan
4) Pemahaman terhadap unsur-unsur intrinsik
cipta sastra yang akan berhubungan dengan telaah teori sastra.
6. Pendekatan dalam Apresiasi Sastra.
Pendekatan
sebagai suatu prinsip dasar atau landasan yang digunakan oleh seseorang sewaktu
mengapresiasi karya sastra, dapat diuraikan sebagai berikut :
a.
Pendekatan parafrastis dalam mengapresiasi sastra.
Yaitu
strategi pemahaman kandungan makna dalam suatu cipta sastra dengan jalan
mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan pengarang dengan menggunakan
kata-kata maupun kalimat yang berbeda dengan kata-kata dan kalimat yang
digunakan pengarangnya. Tujuannya untuk menyederhanakan pemakaian kata atau kalimat
seorang pengarang sehingga pembaca lebih mudah memahami kandungan makna yang
terdapat dalam suatu cipta sastra.
b. Pendekatan emotif dalam mengapresiasi
sastra.
Yaitu suatu
pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur
yang mengajuk emosi atau perasaan pembaca. Sehingga diharapkan pembaca
mampu menemukan unsur-unsur keindahan maupun kelucuan yang terdapat dalam suatu
karya sastra.
c. Pendekatan analitis dalam mengapresiasi
sastra.
Yaitu suatu
pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan
atau mengimajikan ide-idenya, sikap pengarang dalam menampilan gagasannya,
elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik sehingga
mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun
totalitas bentuk maupun maknanya.
d. Pendekatan historis dalam mengapresiasi
sastra.
Yaitu suatu pendekatan yang
menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang, latar belakang peristiwa
kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya cipta sastra yang
dibaca, serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun
kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman.
e. Pendekatan sosiopsikologis dalam
mengapresiasi sastra.
Yaitu suatu
pendekatan yangberusaha memahami latar belakang kehidupan sosial-budaya,
kehidupan masyarakat, maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap
lingkungan kehidupannya ataupun zamannya pada saat cipta sastra itu diwujudkan.
f. Pendekatan didaktis dalam mengapresiasi
sastra.
Yaitu pendekatan
yang berusaha menemukan dan memahami gagasan, tanggapan evaluatif maupun sikap
pengarang terhadap kehidupan.
7.
Tinjauan Pendekatan dan Teori serta Manfaat dalam
Mengapresiasi Sastra.
a. Tinjauan pendekatan dan teori.
Teori resepsi
yang ditokohi oleh Jacques Lacan dan Roland Barthes memiliki anggapan bahwa sebuah karya sastra, setelah hadir di
tengah masyarakat pembaca , pembaca sendirilah yang akhirnya memberikan makna.
Tumbuhnya teori
resepsi mempengaruhi timbulnya teori
psikoanalisis yang dimotori oleh Matthew Arnold. Bagi pembaca yang telah
mengenal aliran Freud dalam telaah psikologi tentunya telah memahami
psikoanalisis Sigmund Freud yang membedakan Ide, Ego dan Super Ego serta obsesi
dan libido seksual sebagai pangkal utama penggerak manusia.
Selain teori
diatas, Olsen mengungkapkan adanya teori lain, meliputi (1) teori tradisional,
(2) teori intensional, (3) teori ekstensional, (4) teori semantik, (5) teori structural,
(6) teori mimesis, (7) teori emotif, (8) teori ekspresif, dan (9) teori
kognitif. Pembagian teori Olsen lebih berorientasi pada cirri serta proses analisis dari suatu pendekatan
dalam apresiasi sastra.
b. Manfaat mengapresiasi sastra.
1) Manfaat secara umum.
Manfaat yang diperoleh dari
kegiatan membaca sastra adalah (1) mendapatkan hiburan, (2) pengisi waktu luang.
2) Manfaat membaca sastra secara khusus.
·
Dapat
dijadikan pengisi waktu luang
·
Pemberian
atau pemerolehan hiburan
·
Untuk
mendapatkan informasi
·
Media
pengembang dan pemerkaya pandangan kehidupan
·
Memberikan
pengetahuam nilai sosial-kultural dari zaman atau masa karya sastra itu
dilahirkan
·
Mengembangkan
sikap kritis pembaca dalam mengamati perkembangan zamannya.
8.
Pemahaman Unsur-unsur dalam Prosa Fiksi
a. Pengertian prosa fiksi
Yaitu kisah atau cerita yang
diemban oleh pelaku-pelaku tertentu
dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang
bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita.
b. Pengertian setting dalam prosa fiksi.
Yaitu latar peristiwa dalam karya
fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa, serta memiliki fungsi
fisikal dan psikologis.
c. Hubungan setting dengan unsur signifikan
lain dalam prosa fiksi.
Setting selalu memiliki hubungan
dengan penokohan, perwatakan, suasana cerita atau atmosfir, alur atau plot,
maupun dalam rangka mewujudkan tema suatu cerita.
d. Pengidentifikasian setting dalam prosa
fiksi.
Suatu masalah yang harus
diperhatikan baik-baik adalah bahwa setting masih memerlukn adanya penafsiran
karena seringkali pengarang tidak mengungkapkannya secara jelas. Setting juga
mampu menyiratkan makna-makna tertentu sehingga bersifat metaforis.
e. Unsur gaya dalam karya fiksi.
Dalam karya
sastra istilah gaya mengandung pengertian cara seorang pengarang menyampaikan
gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu
menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi
pembaca.
Jadi,
disimpulkan bahwa gaya adalah perwujudan diri pengarangnya, sedangkan ekspresi
adalah proses atau kegiatan perwujudan gagasan itu sendiri. Sebab itulah gaya
dapat juga disebut sebagai cara, teknik, maupun bentuk pengekspresian suatu
gagasan.
f. Penokohan dan perwatakan dalam prosa
fiksi.
Pelaku yang
mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin
suatu cerita disebut dengan tokoh. Sedangkan
cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut penokohan.
Seorang tokoh
yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut tokoh inti atau tokoh
utama. Sedangkan tokoh yang memiliki peranan tidak penting karena pemunculannya
hanya meelengkapi, melayani, mendukung pelaku utama disebut tokoh tambahan atau
tokoh pembantu.
Tokoh dalam
cerita memiliki watak yang berbeda-beda, dan dibedakan menjadi pelaku
protagonist yaitu pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga disenangi
pembaca, dan pelaku antagonis yaitu pelaku yang tidak disenangi pembaca karena
memiliki watak yang tidak sesuai dengan apa yang diidamkan oleh pembaca.
g.
Alur dan pemahaman alur dalam prosa fiksi.
Pengertian
alur dalam karya fiksi adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan
peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam
suatu cerita. Istilah
alur sama dengan plot maupun struktur cerita.
Loban dkk.
Menggambarkan gerak tahapan alur cerita seperti halnya gelombang, yang berawal
dari (1) eksposisi, (2) komplikasi atau intrik-intrik awal yang akan berkembang
menjadi konflik, (3) klimaks, (4) revelasi atau
penyingkatan tabir suatu problema, dan
(5) denouement atau penyelesaian yang membahagiakan, yang dibedakan dengan catastrophe yaitu penyelesaia yang menyedihkan, dan
solution yaitu penyelesaian yang masih bersifat terbuka karena pembaca
sendirilah yang dipersilahkan menyelesaikannya lewat daya imajinasinya.
Kegiatan
pemahaman plot secara teknis diawali dengan kegiatan membaca teks atau cerpen
itu secara keseluruhan. Setelah itu pembaca membaca kembali secara cermat dan
meninjau ulang catatan-catatan yang dibuatnya, apakah sudah benar atau belum.
Jika belum sesuai, pembaca dapat mengubahnya kembali.
Kegiatan pemahaman
itu, selain bersifat reseptif juga harus asosiatif yakni pembaca harus mampu membayangkan
kera-kira sesuatu yang saya pahami ini termasuk dalam tahapan plot yang mana.
h. Titik pandang.
Yaitu cara pengarang menampilkan
para pelaku dalam cerita ayang dipaparkannya., yang meliputi :
1) Narrator omniscient
yaitu narrator atau pengisah yang juga
berfungsi sebagai pelaku cerita
2) Narrator observer yaitu
narrator yang berfungsi sebagai pengamat terhadap pemunculan para pelaku serta
hanya tahu dalam batas tertentu tentang perilaku batiniah para pelaku.
3) Narrator observer omniscient
4) Narrator the third person amniscient
i.
Tema
dalam prosa fiksi.
Menurut
Scharbach tema berasal dari bahasa latin yang berarti tempat meletakan suatu
perangkat. Karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai
pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar