Minggu, 07 Desember 2014

Resensi Buku



Pengantar Apresiasi Karya Sastra “Drs. Aminuddin, M.pd.”

Apresiasi Prosa Fiksi.

1.      Apresiasi Karya Sastra  sebagai Kegiatan Membaca.
Istilah membaca dapat mencangkup pengertian yang luas. Membaca dapat dibedakan dalam berbagai ragam sesuai dengan (1) tujuan, (2) proses kegiatan, (3) objek bacaan, dan (4) media yang digunakan. Untuk itu, perumusan pengertian membbaca dalam pembahasan ini dipaparkan dengan bertolak dari hakikat membaca itu sendiri, yaitu sebagai berikut.
a.       Membaca adalah mereaksi
Karena dalam membaca seorang terlebih dahulu melaksanakan pengamatan terhadap huruf  sebagai representasi bunyi ujaran maupun tnda penulisan lainnya. Yang kemudian terjadi kegiatan rekognisi yaitu pengenalan bentuk yang berkaitan dengan makna yang dikandungnya serta pemahaman yang keseluruhannya masih harus melalui tahap kegiatan tertentu.
b.      Membaca adalah proses.
Karena membaca melibatkan berbagai aspek baik fisik, mental, bekal pengalaman dan pengetahuan maupun aktivitas berfikir dan merasa. Sehingga terjaadi proses untuk mencapai tujuan tertentu melalui tahapan (1) persepsi, (2) rekognisi, (3) komprehensi, (4) interpretasi, (5) evaluasi, dan (6) kresi atau utilisasi.
c.       Membaca adalah pemecahan kode dan penerimaan pesan.
Dalam hubungannya dengan kegiatan membaca, dalam interaksi komunikasi tulis pengarang berperan sebagai pengirim pesan dan pencipta kode, sedangkan pembaca adalah pihak penerima yang sekaligus berperan sebagai  pemecah kode.
2.      Ragam Membaca.
Ragam membaca secara keseluruhan meliputi :
a.         Membaca dalam hati.
Membaca dalam hati adalah kegiatan membaca yang berusaha memahami keseluruhan isi bacaan secara mendalam sambil  menghubungkan isi bacaan itu dengan pengalaman maupun pengetahuan yang dimiliki pembaca tanpa diikuti gerak lisan maupun suara.
            Membaca dalam hati  bila ditinjau dari proses serta tujuan yang melatarinya dapat disebut juga membaca intensif, karena  sama-sama bertujuan untuk memahami isi bacaan secara menyeluruh dan mendalam.
b.        Membaca cepat.
Yaitu ragam membaca yang dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat dan cepat untuk memahami isi bacaan secara garis besar saja. Ragam membaca cepat nantinya akan berhubungan dengan teknik membaca secara skimming serta membaca secara ekstensif.
c.         Membaca teknik.
Disebut juga oral reading ‘membaca lisan’ maupun reading aloud ‘membaca nyaring’ yaitu membaca yng dilaksanakan secara bersuara sesuai dengan aksentuasi, intonasi,  dan irama yang benar selaras dengan gagasan serta suasna penuturan dalam teks yang dibaca.
3.      Tahapan-tahapan membaca, meliputi :
a.       Tahap pemahaman media bentuk tulisan.
 Yaitu yang berhubungan dengan bentuk huruf, tanda baca, bentuk penulisan paragraph, maupun sistematika penulisan yang dipakai pengarang dalam memaparkan gagasannya.
b.      Tahap pemahaman media kebahasaan.
Gramatikal dalam linguistik mencakup aspek morfologi dan sintaksis, sedangkan aspek fonologi dan semantik dianggap sebagai unsur eksternal. Namun dalam perkembangannya aspek fonologi dan semantik termasuk dalam unsur intrinsic bahasa. Sedangkan untuk aspek bunyi atau phonic merupakan elemen pembentuk kata, baik itu bunyi yang membedakan arti maupun yang tidak membedakan arti.
c.       Tahap pemahaman aspek Leksis-semantis.
Yaitu tahap kegiatan pembaca dalam upaya memahami kata-kata dalam satu teks,  baik secara tersurat maupun tersirat. Dalam sajian gagasan tersebut dibedakan makna dalam bidang studi semantik yang membedakan antara makna denotatif, yaitu satu lambing satu makna, dan makna konotatif, yaitu satu lambing mengimplikasikan berbagai macam makna.
d.      Tahap penarikan kesimpulan.
Dalam tahap ini dibedakan antara tahap  penarikan kesimpulan gagasan yang terdapat di dalam setiap bacaan serta tahap kesimpulan dari totalitas makna atau gagasan yang terdapat di dalam bacaan.
Dalam membaca sastra, bentuk penyimpulan seperti di atas harus dilaksanakan karena media pemapar dalam bacaan satra meliputi 3 aspek, yaitu (1) tulisan, (2) bahasa, dan (3) struktur verbal yang berkaitan dengan unsur-unsur intrinsik pembangun karya sastra sebagai suatu wacana.
4.      Penilaian Pembacaan Teks Sastra secara Lisan.
Ada tiga unsur utama yang harus diperhatikan sewaktu melakukan kegiatan membaca teks sastra lisan baik berupa puisi maupun crpen, meliputi (1) pemahaman,(2) penghayatan, (3) dan pemaparan.
Masalah lain yang perlu diperhatikan ialah (1) pelafalan, (2) ekspresi, (3) kelenturan, dan (4) daya konversasi.
5.      Pengertian dan Bekal Awal dalam Apresiasi Sastra.
a.       Pengertian apresiasi sastra.
Apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Dalam konteks yang lebih luas, istilah apresiasi menurut Gove mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Sedangkan, Squire dan Taba berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses, apresiasi melibatkan tiga unsur inti, yaitu (1) aspek kognitif, (2) aspek emotif, dan (3) aspek evaluatif.
      S. Efendi mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra.
b.      Kegiatan langsung dan kegiatan tak langsung dalam mengapresiasi sastra.
Apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan membaca atau menikmati cipta sastra berupa teks maupun performansi secara langsung.
       Selain kegiatan apresiasi sastra secara langsung, juga dapat dilaksanakan kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung, yang dapat ditempuh dengan cara mempelajari teori sastra, membaca artikel yang berhubungan dengan kesastraan,  baik di majalah maupun Koran, mempelajari buku-buku maupun esei yang membahas dan memberikan penilaian terhadap suatu karya sastra serta mempelajarii searah sastra.
c.       Bekal awal pengapresiasi sastra.
Cipta sastra sebenarnya mengandung berbagai macam unsur yang sangat kompleks, antara lain (1) unsur keindahan, (2) unsur kontemplatif  yang berhubungan dengan nilai-nilai atau renungan tentang keagamaan, filsafat, politik, serta berbagai macam kompleksitas permasalahan kehidupan, (3) media pemaparan, baik berupa media kebahasaan maupun struktur wacana, serta (4) unsur-unsur intrinsik yang berhubungan dengan cirri  karakteristik  cipta sastra itu sendiri sebagai suatu teks.
      Sejalan dengan kandungan aspek diatas, maka bekal awal yang harus dimiliki seorang calon apresiator adalah:
1)      Kepekaan emosi atau perasaan sehingga pembaca mampu memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan yang terdapat dalam cipta sastra.
2)      Pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan kemanusiaan,  baik lewat penghayatan kehidupan ini secara intensif-kontemplatif maupun dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan masalah humanitas, misalnya buku filsafat dan psikologi.
3)      Pemahaman terhadap aspek kebahasaan, dan
4)      Pemahaman terhadap unsur-unsur intrinsik cipta sastra yang akan berhubungan dengan telaah teori sastra.
6.      Pendekatan dalam Apresiasi Sastra.
Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan yang digunakan oleh seseorang sewaktu mengapresiasi karya sastra, dapat diuraikan sebagai berikut :
a.       Pendekatan parafrastis dalam mengapresiasi sastra.
Yaitu strategi pemahaman kandungan makna dalam suatu cipta sastra dengan jalan mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan pengarang dengan menggunakan kata-kata maupun kalimat yang berbeda dengan kata-kata dan kalimat yang digunakan pengarangnya. Tujuannya untuk menyederhanakan pemakaian kata atau kalimat seorang pengarang sehingga pembaca lebih mudah memahami kandungan makna yang terdapat dalam suatu cipta sastra.
b.      Pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastra.
Yaitu suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur  yang mengajuk emosi atau perasaan pembaca. Sehingga diharapkan pembaca mampu menemukan unsur-unsur keindahan maupun kelucuan yang terdapat dalam suatu karya sastra.
c.       Pendekatan analitis dalam mengapresiasi sastra.
Yaitu suatu pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ide-idenya, sikap pengarang dalam menampilan gagasannya, elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun maknanya.
d.      Pendekatan historis dalam mengapresiasi sastra.
Yaitu suatu pendekatan yang menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang, latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya cipta sastra yang dibaca, serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman.
e.       Pendekatan sosiopsikologis dalam mengapresiasi sastra.
Yaitu suatu pendekatan yangberusaha memahami latar belakang kehidupan sosial-budaya, kehidupan masyarakat, maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya ataupun zamannya pada saat cipta sastra itu diwujudkan.
f.       Pendekatan didaktis dalam mengapresiasi sastra.
Yaitu pendekatan yang berusaha menemukan dan memahami gagasan, tanggapan evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan.
7.      Tinjauan Pendekatan dan Teori serta Manfaat dalam Mengapresiasi Sastra.
a.       Tinjauan pendekatan dan teori.
Teori resepsi yang ditokohi oleh Jacques Lacan dan Roland Barthes memiliki anggapan  bahwa sebuah karya sastra, setelah hadir di tengah masyarakat pembaca , pembaca sendirilah yang akhirnya memberikan makna.
Tumbuhnya teori resepsi mempengaruhi  timbulnya teori psikoanalisis yang dimotori oleh Matthew Arnold. Bagi pembaca yang telah mengenal aliran Freud dalam telaah psikologi tentunya telah memahami psikoanalisis Sigmund Freud yang membedakan Ide, Ego dan Super Ego serta obsesi dan libido seksual sebagai pangkal utama penggerak manusia.
Selain teori diatas, Olsen mengungkapkan adanya teori lain, meliputi (1) teori tradisional, (2) teori intensional, (3) teori ekstensional, (4) teori semantik, (5) teori structural, (6) teori mimesis, (7) teori emotif, (8) teori ekspresif, dan (9) teori kognitif.  Pembagian teori Olsen lebih berorientasi pada cirri  serta proses analisis dari suatu pendekatan dalam apresiasi sastra.
b.      Manfaat mengapresiasi sastra.
1)      Manfaat secara umum.
Manfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca sastra adalah (1) mendapatkan hiburan, (2) pengisi waktu luang.
2)      Manfaat membaca sastra secara khusus.
·         Dapat dijadikan pengisi waktu luang
·         Pemberian atau pemerolehan hiburan
·         Untuk mendapatkan informasi
·         Media pengembang dan pemerkaya pandangan kehidupan
·         Memberikan pengetahuam nilai sosial-kultural dari zaman atau masa karya sastra itu dilahirkan
·         Mengembangkan sikap kritis pembaca dalam mengamati perkembangan zamannya.
8.      Pemahaman Unsur-unsur dalam Prosa Fiksi
a.       Pengertian prosa fiksi
Yaitu kisah atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu  dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita.
b.      Pengertian setting dalam prosa fiksi.
Yaitu latar peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan psikologis.
c.       Hubungan setting dengan unsur signifikan lain dalam prosa fiksi.
Setting selalu memiliki hubungan dengan penokohan, perwatakan, suasana cerita atau atmosfir, alur atau plot, maupun dalam rangka mewujudkan tema suatu cerita.
d.      Pengidentifikasian setting dalam prosa fiksi.
Suatu masalah yang harus diperhatikan baik-baik adalah bahwa setting masih memerlukn adanya penafsiran karena seringkali pengarang tidak mengungkapkannya secara jelas. Setting juga mampu menyiratkan makna-makna tertentu sehingga bersifat metaforis.
e.       Unsur gaya dalam karya fiksi.
Dalam karya sastra istilah gaya mengandung pengertian cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.
Jadi, disimpulkan bahwa gaya adalah perwujudan diri pengarangnya, sedangkan ekspresi adalah proses atau kegiatan perwujudan gagasan itu sendiri. Sebab itulah gaya dapat juga disebut sebagai cara, teknik, maupun bentuk pengekspresian suatu gagasan.
f.       Penokohan dan perwatakan dalam prosa fiksi.
Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut penokohan.
Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut tokoh inti atau tokoh utama. Sedangkan tokoh yang memiliki peranan tidak penting karena pemunculannya hanya meelengkapi, melayani, mendukung pelaku utama disebut tokoh tambahan atau tokoh pembantu.
Tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda, dan dibedakan menjadi pelaku protagonist yaitu pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga disenangi pembaca, dan pelaku antagonis yaitu pelaku yang tidak disenangi pembaca karena memiliki watak yang tidak sesuai dengan apa yang diidamkan oleh pembaca.
g.      Alur dan pemahaman alur dalam prosa fiksi.
Pengertian alur dalam karya fiksi  adalah  rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.  Istilah alur sama dengan plot maupun struktur cerita.
Loban dkk. Menggambarkan gerak tahapan alur cerita seperti halnya gelombang, yang berawal dari (1) eksposisi, (2) komplikasi atau intrik-intrik awal yang akan berkembang menjadi konflik, (3) klimaks, (4) revelasi atau  penyingkatan tabir suatu problema, dan  (5) denouement atau penyelesaian yang membahagiakan, yang  dibedakan dengan catastrophe  yaitu penyelesaia yang menyedihkan, dan solution yaitu penyelesaian yang masih bersifat terbuka karena pembaca sendirilah yang dipersilahkan menyelesaikannya lewat daya imajinasinya.
Kegiatan pemahaman plot secara teknis diawali dengan kegiatan membaca teks atau cerpen itu secara keseluruhan. Setelah itu pembaca membaca kembali secara cermat dan meninjau ulang catatan-catatan yang dibuatnya, apakah sudah benar atau belum. Jika belum sesuai, pembaca dapat mengubahnya kembali.
Kegiatan pemahaman itu, selain bersifat reseptif juga harus asosiatif yakni pembaca harus mampu membayangkan kera-kira sesuatu yang saya pahami ini termasuk dalam tahapan plot yang mana.
h.      Titik pandang.
Yaitu cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita ayang dipaparkannya., yang meliputi :
1)      Narrator omniscient yaitu narrator atau pengisah yang  juga berfungsi sebagai pelaku  cerita
2)      Narrator observer yaitu narrator yang berfungsi sebagai pengamat terhadap pemunculan para pelaku serta hanya tahu dalam batas tertentu tentang perilaku batiniah para pelaku.
3)      Narrator observer omniscient
4)      Narrator the third person amniscient
i.        Tema dalam prosa fiksi.
Menurut Scharbach tema berasal dari bahasa latin yang berarti tempat meletakan suatu perangkat. Karena tema adalah ide yang mendasari suatu  cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar