Selasa, 30 Desember 2014

Tradisi Jawa



TRADISI BUBAYA EBEG


Ebeg adalah salah satu kesenian tradisional


yang gaungnya sudah tidak lagi nyaring
terdengar.
Namun di beberapa tempat di
Jawa Tengah, Masih ada grup kesenian ebeg
yang bertahan dan tetap setia menghibur
penggemarnya.
Ebeg sangat kental dengan alam gaib. Sebuah
bagian yang pernting yang membuat
kesenian ini bisa bertahan.
Bagi sebagian masyarakat di Jawa Tengah,
kesenian ebeg ini sangat terkenal dan setiap
pementasannya selalu menarik banyak
penonton.
Biasanya mereka tampil dalam
sebuah hajatan. Sekali pentas mereka
mendapat bayaran antara 700 hingga satu
juta rupiah. Tidak terlalu mahal, untuk
menyemarakan hajatan di kampung – kampung.
Dan ini salah satu grup ebeg di Desa Bumi
Agung, Kecamatan Rowokele, Kebumen, yang
masih bertahan. Kesenian ini kabarnya sudah
ada sejak jaman Pangeran Diponegoro,
sekitar abad ke 18. Para pemainnya begitu
bangga disebut pasukan penunggang kuda,
kendati kuda yang mereka tunggangi hanya
terbuat dari anyaman bambu.
Satu grup ebeg biasanya terdiri dari dua
puluh orang. Selain ketua rombongan, ada
pemain, penabuh gamelan dan penimbul.
Yang menarik adalah penimbul. Dialah yang
bertugas memanggil dan memulangkan
arwah atau indang. Penimbul juga harus
pandai mengendalikanny a, para pemain
yang sudah kerasukan hebat.
Selain itu, dia juga harus bisa melindungi
seluruh anggota tim dan penonton, bila ada
seseorang yang jahil sengaja mengacaukan
pertunjukan atau sekedar menjajal ilmu-nya.
Bila terjadi, biasanya sang penari tidak
mampu bergerak. Oleh karena itu, penimbul
ini benar - benar harus orang yang memiliki
ilmu yang tinggi.
Ebeg adalah pestanya para arwah atau
indang, sehingga indang selalu meminta
suguhan layaknya manusia. Asap kemenyan
yang diumpamakan sebagai nasi dan bunga
sebagai sayuran. Berbeda dengan mantra
jaelangkung yang datang tak diundang
pulang tak diantar. Maka indang, pulang
harus diantar
Ada puluhan gending yang biasanya
mengiringi pertunjukan ebeg. Empat
diantaranya sangat berpengaruh
mengundang indang. Mereka adalah :
- Cempo,
- Eling eling,
- Kembang jeruk dan
- Ricik – ricik.
Para penikmat ebeg biasanya sudah
memahami benar, apabila salah satu dari
keempat gending itu dimainkan, maka sudah
pasti para indang akan segera datang dan
merasuki para penari. Sulit mempercayainya.
Tetapi itulah ebeg, kesenian kita yang khas
dan mengakar, dimana estetika dan alam gaib
tidak bisa dipisahkan.
Sastro Ngadimin yang berusia enam puluh
tahun ini adalah pemimpin ebeg Turonggo Jati di Desa Bumiagung di Kebumen, Jawa
Tengah. Sehari sebelum mentas di suatu
hajatan, Ngadimin yang sudah menjadi penari
ebeg lebih dari tiga puluh tahun ini, selalu
menjalin kontak dengan arwah leluhur yang
bermukim di makam tua di sudut kampung.
Ia selalu harus melakukan ini agar
pertunjukan yang digelarnya berlangsung
tanpa halangan.
Penimbul dan ketua grup memasang pagar
gaib di setiap sudut halaman dengan
menebar bunga. Baik penimbul dan ketua
indang harus membuat semacam perjanjian
dengan indang. Kapan pertunjukan dimulai
dan kapan harus berakhir.
Mereka tidak berani mengingkari, karena bila
batas waktu pertunjukan dilampaui, indang
bisa saja nyasar kemana mana dan bisa
menimbulkan malapetaka.
Saatnya Pertunjukan Dimulai
Para pemain masih dalam tingkat kesadaran
yang penuh.
Mereka mempertontonkan
kebolehannya menari. Hingga tiba saatnya
janturan, yakni puncak dari pertunjukan
ebeg.
Gending mulai berubah menjadi
gending eling eling, dengan tempo yang
cepat.
Para penari mempercepat tarianya mengikuti
irama gending. Pengaruh magis semakin
terasa. Seolah – olah indang berada di atas –
melayang - layang. Bau kemenyan menebar
kemana – mana dan terasa sangat menusuk
hidung. Mereka yakin indang makin
mendekat. Dan sebagian penonton muali
bertingkah aneh.
Pada saat seperti ini, orang kehilangan
kesadaraanya. Namun mereka tetap harus
segera disadarkan agar tetap bisa menari,
kendati masih dalam pengaruh indang.
Namun gerakan sebenarnya sudah mulai
berubah. Patah – patah dan monoton.

mari kita cintai budaya nenek moyang kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar